Jumat, 31 Desember 2010

tak ada yang baru di tahun baru

hingar-bingar segala sudut kota. warna-warni lampu di mana-mana. riuh terompet memekak telinga. ada pestapora rupanya. kata orang-orang, tahun baru telah tiba. sedang bagiku, tetaplah sama. sebab orang-orang itu masih terlihat sama di mataku. tak ada yang berubah dari tahun lalu. mungkin dengan tambahan uban di kepala. atau garis kerutan di lingkaran mata jadi pembeda.

biarlah, mereka berpesta dengan sukacita. sebab malam ini akan berlalu. seperti malam-malam lain, jarum jam tetap menunjuk angka-angka yang sama. meski kalender lama telah berganti baru, di sudut rumah yang masih sama dengan tahun lalu. dan memang hanya kalender yang berganti baru di rumah, yang masih saja biru.

biarlah, mereka berpesta dengan sukacita. sedang aku memilih menjalani malam dalam diam. seperti malam-malam lain, menyiapkan langkah untuk esok pagi. merajut mimpi yang tak kunjung basi. tentang rumah berpagar putih dengan rumput hijau dan ayunan di halaman depan. tentang rumah merah jambu, tanpa setitik biru di dalamnya.



(31 Desember 2010)

di ladang sunyi

pernah suatu hari seorang petani
datang menebar benih-benih mimpi
di ladang milikku, yang telah lama sunyi.

dengan tekun ia kunjungi,
menyirami serupa embun di embun kala pagi
menyinari serupa mentari di siang hari
menghembus sejuk serupa angin senja hari

dengan tekun ia kunjungi,
hingga pada suatu pagi ia lupa diri
dan menebar garam di sebuah lubang pori,
yang pernah tertusuk ujung belati.

dan tanpa disadari,
bunga-bunga mimpi mulai mati.
satu demi satu, setiap pagi.
dan ladang milikku, kembali sunyi.




(26 Desember 2010)

-senyum pembunuh-

bila kau pikir aku lemah,
itu pikiran yang salah.
teramat salah.

bila kau pikir aku dungu,
itu pikiran yang keliru.
teramat keliru.

sebab pada senyumku,
aku pun sanggup
menjelma pembunuhmu.



(24 Desember 2010)

-malin kundang-

menghapus lagi,
sebuah nama
dari sederet nama.

maafkan aku,
tak lagi menyebut namamu
pada puja malamku.

sebab di mataku,
kau adalah ular
pemakan rahim ibumu.



(24 Desember 2010)

sepiring maki

lagi
dan lagi
terjadi.

pagi ini,
sepiring maki
singgah di beranda.

ah, biar saja …

sebab setiap hari, lima kali sehari
sepiring maki sebagai makanan hati.
menu wajib, tidak pernah diganti.

itu sebab hanya maki,
yang selalu terlontar
dari mulut-mulut berbisa.



(24 Desember 2010)

dalam langkah-langkah kecil kakiku

hari ini, seluruh negeri sedang berpuisi. puisi-puisi tentang ibu sedang berlari di seluruh negeri. di layar televisi. di koran pagi. di siaran radio. di sepanjang jalan. di baliho-baliho iklan. juga di catatan-catatan facebook. ya, seluruh negeri sedang mempestakan ibu. mengenang jasa-jasa ibu. mendoakan ibu dalam bait-bait puisi.

hari ini, aku melihat seluruh negeri sedang merayakan melankoli. ya, hanya melihat. sebab aku tak ingin terlibat. apalagi hanya untuk hari ini. mengenang jasa-jasa ibu hari ini. sedang esok melupakannya. mendoakan ibu dalam bait-bait puisi hari ini. sedang esok menyumpahinya. mempestakan ibu hari ini. sedang esok meninggalkannya dalam sendiri. maaf, aku tidak ingin terbawa melankoli hari ini.

hari ini, aku memilih jauh dari pelukan ibu. melangkahkan kaki demi membangun mimpi. mimpi untuk memberi senyum pada ibu. memenuhi segala doa ibu dalam setiap nafasnya. membayar semua lelah karena mengandungku, meski aku tidak pernah mampu. membayar semua sakit karena melahirkanku, meski aku tidak akan sanggup. membayar semua tetes darah dan keringat karena membesarkanku, meski aku tidak pernah bisa melunasi.

hari ini, aku memilih berjalan dalam sepi. membangun mimpi untuk memberi senyum pada ibu, meski dengan caraku sendiri. membangun mimpi yang telah kupilih sendiri, meski banyak mulut meludahi punggungku. membangun mimpi yang telah kupilih sendiri, meski banyak mata menatapku hina. sebab aku terlahir sebagai perempuan di negeri ini. biarlah, sebab aku telah begitu tuli atas segala caci-maki atau sanjung puji. sebab hanya doa ibu yang terdengar sampai di telinga hati. dan langkah-langkah kecil kakiku yang selalu mengamini doa ibu setiap hari.




(22 Desember 2010)

desember ketiga

roti tanpa ragi
tetes-tetes air suci
jadi doa untukku
dari tanganmu



(15 Desember 2010)

pengantin mawar dan bunga ilalang

aku tak terlahir sebagai mawar,
berduri demi mencuri hatimu.
biarlah, sang mawar jadi pengantin
di jendela rumahmu.

sebab aku bangga terlahir
sebagai bunga ilalang,
yang selalu menari riang
bersama penghuni sabana

sebab aku bunga ilalang,
yang mengayun tenang
menebar spora cinta
bagi anak-anak semesta.




(11 Desember 2010)

waktu

(1)
melipat waktu
dalam lembar-lembar buku
sebagai jejak masa lalu.

(2)
biar saja terkubur
pada nisan-nisan batu
segala kisahmu.

(3)
di atasnya,
kuncup-kuncup bunga
menunggu mekar.




(8 Desember 2010)

pelajaran dari kupu-kupu

tak perlu mengejar waktu
sebab ia tak akan mampu kau kejar,
meski kau pelari hebat.

berjalan saja bersamanya
menikmati setiap langkah perjalanan
tanpa henti meski kau berdiri di persimpangan.
terus saja berjalan bersamanya
kelak kau akan bahagia bersamanya.



(7 Desember 2010)

Sebab Aku Masih Memiliki Impian, Meski Tanpamu

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.
Ganang & Frida. Begitulah bunyi tulisan dengan tinta emas di atas sebuah kertas tebal berwarna merah marun. Sebuah undangan pernikahan. Baru saja sampai di tangan diantar seorang kurir tadi. Sedikit terkejut menerimanya, tetapi sudah ada pertanda sebelumnya. Beberapa pesan pendek memenuhi kotak pesan dalam telepon selularku seminggu lalu. Dari seorang perempuan bernama Frida. Perempuan yang akan dinikahi lelaki bernama Ganang. Lelaki yang pernah memberiku segenggam impian tentang membangun rumah harapan.

Rumah harapan yang hanya tinggal harapan semata. Setelah membaca undangan pernikahanmu. Bulan depan, tepat ketika aku harus memulai konsentrasi belajar di kampus biru. Rumah harapan yang hanya tinggal harapan semata. Sebab ia telah longsor bersama tetes-tetes airmata yang kian menderas dalam diam. Tanpa suara. Sebab ia telah dibongkar paksa tanpa pemberitahuan dari pemberinya.

***

Dingin masih menusuk tulang. Embun masih merangkai rayuan pada ujung-ujung daun di reranting pohon di depan kamar asrama. Tetangga kamar mungkin saja masih merangkai mimpi di peraduan, sedang aku masih terjaga di depan layar monitor. Ada banyak kertas yang harus dibereskan sebelum ayam jantan berkokok pagi ini. Tugas ini dan itu wajib diserahkan lengkap pada Ibu Dosen pagi ini. Tanpa alibi sedang patah hati.

Jemari tangan masih saja sibuk menekan tombol-tombol keyboard laptop. Sementara mata masih sibuk mencari kata demi kata yang terselip di antara literatur-literatur bertumpuk di sisi lain meja. Setelah seluruh kata terangkai sempurna di atas kertas kerja, tiba saatnya untuk mengguyur tubuh. Mengguyur segala keluh tentang harapan yang luluh. Sedang di luar sana, sayup-sayup berkumandang azan Subuh.

***

Langkah kaki tergesa di atas trotoar sebelum akhirnya berhenti di sebuah halte. Menunggu bus kota yang tak kunjung tiba. Ah, semoga tak terlambat, gumamku. Lima menit kemudian, sebuah bus kota berhenti di depan mata menyambut lambaian tanganku. Sepi. Hanya berdua dengan sopir bus yang memperlambat laju kendaraan. Bangku-bangku bus kota kosong. Lumayan, masih ada cukup waktu untuk menertawakan kebodohan diri di bus kota. Cukup sepuluh menit saja, sebelum bus berhenti di depan kampus.

Dan langkah kaki kembali tergesa. Menyusuri koridor gedung menuju ruang kuliah. Ah, untung belum terlambat, gumamku lagi. Masuk kelas bersama dengan Ibu Dosen yang membawa beberapa tas berisi buku-buku tebal bahan kuliah hari ini. Sementara melupakan ruang hati yang melompong akibat bualan omong kosong. Menyimak kuliah dengan seksama. Meluruskan kesalahpahaman hasil belajar semalam dalam diskusi bersama teman-teman di kelas. Menyenangkan. Pengetahuan baru yang kelak akan mengisi kekosongan-kekosongan di ruang kepala.

***

Hari-hari di kampus biru berjalan satu demi satu. Melupakan bilur-bilur biru yang sempat memenuhi ruang hati. Biar saja itu adalah salah satu bagian perjalanan menuju dewasa. Melupakan segala kelu, tetapi tidak melupakanmu. Bukan karena masih menyimpan perasaan yang sama padamu. Bukan karena tidak bisa memaafkan kesalahanmu karena meninggalkanku tanpa pesan, kecuali pesan dari perempuanmu. Perempuan yang pernah menguji kesabaranku dengan pesan-pesan pendek yang memenuhi kotak pesan telepon selularku setiap pukul dua pagi. Pesan-pesan pendek yang serupa teror bagi kemanusiaanku. Perempuan yang kini mungkin telah menjadi ibu bagi anak-anakmu.

Bulan demi bulan hingga dua tahun berlalu. Aku masih di berdiri di sini. Di kampus biru. Di atas kedua kakiku. Merangkai kembali keping-keping mimpi yang sempat porak-poranda setelah pergimu. Dua tahun berlalu. Aku masih berdiri di sini. Di dunia baruku. Membangun mimpiku, meski tanpamu. Sebab di luar sana, masih ada begitu banyak hati yang menantiku ketika aku pulang. Masih banyak hati yang tulus mencintaiku di luar sana. Mencintai tanpa karena.

***

(2 Desember 2010)

perempuan hujan

semalam hujan begitu mesra
mendekap kaca jendela
riuh sepasang kuda memekik di telinga
malam yang sempurna,
sembari menunggu hujan reda
di pelupuk mata



(2 Desember 2010)

perempuan mawar

kelopak-kelopak mawar
merebah di atas tanah basah
dalam istirah memerah
bersama tetes-tetes darah



(1 Desember 2010)

ruang ingatan

ada banyak cerita berlarian dalam ruang ingatan. tentang episode-episode biru dan kelabu di pelataran rindu. tentang episode-episode lila dan jingga di kebun bunga menjelang senja. kadang aku melipat cerita itu satu demi satu. dan menyimpannya dalam lembar-lembar ingatan. kadang aku mengajak mereka tertawa bersama di beranda, selepas senja. kadang aku meminta mereka duduk tenang di ruang ingatan. ketika malam telah memelukku diam-diam.

ah, terlalu susah meminta mereka duduk tenang di ruang ingatan. mereka berlarian. mereka berlompatan. saling berlomba unjuk diri. bahkan ketika malam telah memelukku diam-diam. mereka masih saja menjengukku. satu demi satu. episode biru bergandeng tangan dengan episode jingga. ah, mereka begitu mesra. hingga mata tak mampu terpejam. meski hitam telah bercumbu dengan malam.

sebentar pagi tiba, episode lila bercinta dengan episode kelabu. tersenyum dalam bayangan cermin. mengganggu pagi yang mungkin telah layu. sebab hujan telah lama tak menjenguk pagi. sebab hujan telah memilih berselingkuh dengan siang. ketika episode hijau datang diam-diam memagut sunyi langkah-langkah kaki. sebab telah lama mereka berjalan sendiri di antara debu-debu yang mencumbu ujung sepatu.

ketika senja kembali bercengkerama, mereka masih saja berlompatan. mereka masih saja berlarian. bahkan ketika busur melepaskan panah waktu, mereka masih setia menghuni ruang ingatan. bermain ayunan dan luncuran serupa anak-anak bermain di taman. anak-anak yang enggan menjadi dewasa. ah, biarlah mereka enggan menjadi dewasa. sebab mereka adalah tunas diri hari ini. terus tumbuh meski harus berpeluh-peluh mengejar mentari, yang juga tak lelah berlari. dari pagi hingga pagi menjenguk kembali. lagi dan lagi.




(30 November 2010)

Kamis, 25 November 2010

hampa

memasuki ruang benak
: kosong

tak ada lukisan
tak ada catatan
pada dinding-dindingnya.

entah esok atau lusa,
lukisan dan catatan kembali
mengisi dinding-dindingnya.

entah esok atau lusa,
kisah dan percakapan kembali
mengisi jalinan-jalinan hari.




(23 November 2010)

Sabtu, 20 November 2010

elegi pagi

1
mulai belajar menghapus mimpi,
yang datang diam-diam menjelang pagi.
bukan karena takut mimpi itu tak akan terjadi
esok pagi atau suatu hari nanti.

belajar menghapus mimpi.
dan mulai melangkah kaki serta menjentik jemari.
sebelum mentari mengencani pagi.
: mimpi-mimpi itu tak perlu lagi datang diam-diam menjelang pagi.

sebab telah kubakar mimpi-mimpi itu dalam tungku api,
yang baranya dinyalakan dari serpihan-serpihan hati,
yang kau pecahkan kemarin pagi.

2
menghapus abu-abu dari ingatan masa lalu,
yang datang tiba-tiba pada bawah sadarku.
tentangmu, lelaki di simpang tugu.

membuang pahit empedu,
yang masih tertinggal pada pangkal lidahku.
tentangmu, kisah cinta biru.

ah, bukan pekerjaan mudah untukku
meski waktu tak pernah jemu
berjalan satu demi satu.

: tiba-tiba ingin mengadu kepala dengan batu.
hingga segala terlupa dalam amnesia tentangmu.




(20 November 2010)

kisah anak-anak matahari

di rumah, ibu bekerja keras tanpa henti. sejak pagi hingga pagi menyapa kembali. demi sesuap nasi bagi kami, anak-anak matahari. ya, kami adalah anak-anak matahari. sebab kami sering terpanggang matahari di setiap perempatan jalan demi sesuap nasi sekadar penyambung hidup. terkadang orang-orang dalam mobil mengkilat yang banyak melintas di jalanan itu memanggil kami anak-anak trotoar. sebab kami selalu terlelap di atas trotoar-trotoar bila malam telah datang memeluk hari.

di rumah, ibu bekerja keras tanpa henti. menjual apa saja demi penyambung hidup kami. menjual tanah-tanah makam kami. menggadai tanah-tanah warisan bagi anak-cucu kami. tanah-tanah yang tak mungkin kembali pada kami. bahkan ibu harus menjual diri. ibu harus menelan segala caci-maki dari tetangga yang tak tahu diri. seringkali ibu harus membiarkan tubuhnya diinjak kaki-kaki mereka, penjual nurani. semua dilakukan ibu demi kami, anak-anak matahari.

di rumah, ayah tak peduli pada kami. ayah tak pernah peduli meski ibu harus menjual diri demi kami, anak-anak matahari. ayah tak pernah peduli pada kami, yang harus mengorek sampah demi sesuap nasi. ayah tak pernah peduli pada kami, yang harus saling injak demi bisa berdiri tegak hari ini. ya, ayah memang tak pernah peduli kami. meski kami hampir mati karena kekurangan gizi. meski kami hampir mati karena membela kehormatan diri.

di rumah, ayah memang tak peduli pada kami. bagi kami, ayah tak punya nurani. ya, kami memang harus bersikap kurang ajar hari ini. dan kami tak akan minta maaf atas sikap kurang ajar kami. sebab telah begitu lama ayah tak pernah peduli pada kami. ayah tak pernah memberi perlindungan pada kami, anak-anak matahari. dan ayah telah sengaja membiarkan saudara-saudara kami disiksa dan dibunuh tetangga. ayah tak punya nyali untuk memberi pembelaan pada kami. sedang selama ini kami telah memberi segenap jiwa raga kami untuk menjaga nama baikmu, ayah. lantas masihkah kami, anak-anak yang masih tersisa harus tetap memanggilmu ayah? mungkin lebih baik bila kami menjadi durhaka bagimu, ayah. dan esok pagi, kami akan mengadakan kudeta padamu, ayah.



(19 November 2010)

menjelang senja di pelataran

tak perlu mengobral kata cinta, bila itu hanya jadi pemerah bibir semata.
belajarlah dari semesta tentang cinta, maka cinta akan abadi dalam jiwa.
tak akan sirna dalam hitungan masa, ia ada dalam setiap hembus nafas serupa doa.

serupa jingga mencintai senja, ia setia. serupa hitam mencintai malam, ia setia.
serupa embun mencintai pagi, ia setia. serupa duri mencintai mawar, ia setia.
sebab cinta tanpa setia adalah sia-sia. dan sia-sia saja bila tetap bertahan untuknya.


(18 November 2010)

izinkan saya istirah

: untuk kalian, yang enggan berubah



terlalu banyak angka harus diingat. dari nomor-nomor selular tanpa nama, yang diam-diam memenuhi kotak pesan. terlalu banyak aksara harus dibaca. pada lembar-lembar kertas tugas, yang kadang sama serupa tanda malas membaca. terlalu banyak rasa harus dijaga. dalam palung terdalam, yang tak mudah terbaca mata. terlalu banyak simpul harus diurai. dalam perjalanan hidup, yang kadang tak terduga hingga harus mengelus dada.

terlalu banyak. terlalu banyak. terlalu banyak. kejutan yang kalian berikan pada saya. hingga saya hilang kata. kejutan dari kalian benar-benar mengejutkan. kejutan dari kalian, remaja belia yang masih gemar hura-hura. dari kalian, remaja belia yang tak pandai menghargai masa muda.

ah, sepertinya kalian lupa lirik lagu yang pernah diajarkan semasa kanak-kanak dulu. kalian lupa pesan orangtua. kalian lupa menghormati guru. kalian lupa menyayangi teman. kalian lupa, sebab kalian merasa telah dewasa. sekadar merasa dewasa. sebab dewasa bukan sekadar masalah usia, melainkan matang jiwa dan pikiran. sebab dewasa bukan sekadar keberanian semata, melainkan tanggung jawab di atasnya.

ah, saya menyerah. benar-benar menyerah. pada segala tingkah kalian. sebab ruang hati saya telah menjelma remah di ujung jari kalian. juga di ujung lidah kalian. selanjutnya, terserah kalian saja.

izinkan saya istirah. sebab saya tak ingin berserapah atas segala tingkah kalian. sebab saya ingin tetap berada di jalan doa. mengalir bersama cinta dan sayang lewat setiap pesan, yang tak pernah kalian dengar. izinkan saya istirah. sebab saya sungguh lelah menuntun kalian. sedang kalian enggan tetirah, enggan berpindah meski selangkah. izinkan saya istirah. sebab saya benar-benar menyerah.



(13 November 2010)

Selembar Daun

Di sebuah pohon besar, aku tinggal di sana. Bersama perempuan-perempuan daun lain, aku diajari memberi makan pohon besar tempatku tinggal. Aku diajari menerima kunjungan embun setiap pagi. Aku diajari melahirkan bunga-bunga semerbak bila musim semi menyapa. Aku diajari melahirkan buah-buah bila musim tiba. Aku diajari melahirkan pucuk-pucuk daun muda. Aku diajari menjadi legawa bila telah tiba waktu luruh dan kembali ke tanah.

Di sebuah pohon besar, aku tinggal di sana. Belajar memahami hidup di antara perempuan-perempuan daun lain. Meski tubuh kami sama, tetapi kami tidaklah sama. Beberapa perempuan daun mengajari aku menjadi bijak memahami segala gerak. “Bergeraklah selaras dengan angin bila ia menggoyang tubuhmu. Sehingga angin tak akan mampu mematahkan kakimu,” begitu Daun Tua Bijak pernah berpesan padaku.

Di sebuah pohon besar, aku tinggal di sana. Belajar memahami hidup di antara perempuan-perempuan daun lain. Meski tubuh kami sama, tetapi kami tidaklah sama. Beberapa perempuan daun mengajari aku untuk tidak menjadi congkak dalam bertindak. “Berhembuslah dengan rendah hati dan santun di atas pohon ini. Sehingga kelak bila tiba waktumu luruh, maka kau akan luruh dengan anggun,” begitu Daun Tua Bijak pernah berpesan padaku.

Di sebuah pohon besar, aku tinggal di sana. Belajar memahami hidup di antara perempuan-perempuan daun lain. Meski tubuh kami sama, tetapi kami tidaklah sama. Beberapa perempuan daun mengajari aku untuk tidak mencela dalam setiap kata. “Berkatalah seperlunya dengan mulutmu. Sebab mulutmu akan lebih berguna untuk mencecap embun pagi dan menghembus udara sejuk bagi penghuni bumi,” begitu Daun Tua lain pernah berpesan padaku.

Di sebuah pohon besar, aku tinggal di sana. Belajar memahami hidup di antara perempuan-perempuan daun lain. Meski tubuh kami sama, tetapi kami tidaklah sama. Daun Hijau Tua adalah namaku. Mencecap embun dan kabut adalah tugasku setiap pagi tiba. Bukan sekadar membuang kata dan suara bila angin mencumbu pohon besar ini. Menghembus udara sejuk bagi penghuni bumi adalah tugasku. Bukan sekadar membuang gerah dengan segala sampah tak berguna.

Di sebuah pohon besar, aku tinggal di sana. Belajar memahami hidup di antara perempuan-perempuan daun lain. Meski tubuh kami sama, tetapi kami tidaklah sama. Daun Hijau Tua adalah namaku. Sebelum waktuku memanggil, aku ingin terus belajar memberi dan bukan meminta kembali. Aku ingin hidupku tetap punya arti, meski aku terlahir sebagai selembar daun di atas pohon besar ini. Aku ingin hidupku tetap punya arti, hingga kelak aku luruh dan meremah. Kembali ke tanah. Sendiri.



(16 November 2010)

Sabtu, 13 November 2010

di jari manis kita

: untukmu, untuk kita.




rajutan cinta sederhana
melingkari sukma
mengikat jiwa
: selamanya



(12 November 2010)

perempuan yang menikahi malam

pagi ini, terlalu banyak janji teringkari. tentang cerita yang ingin kau bagi. tentang tuan puteri yang telah mencuri hatimu. tuan puteri yang pipinya semerah ceri. tuan puteri yang kulitnya seputih padi. tuan puteri yang diam-diam datang dan menghuni palung dalam dirimu. tuan puteri yang kemudian melahirkan peri-peri kecil dari rahim putihnya.

ah, lagi-lagi tentang janji. tentang janji-janji teringkari, yang mungkin akan hilang dalam hembus angin semalam. dan kau tak perlu lagi berjalan untuk menebusnya. sebab aku sudah teramat lelah menunggu bulan menjadi hitam semalam. dan aku terus berjalan mengarungi malam hingga pagi menjemput kembali. pun mengingatkan aku pada janji-janji yang teringkari kemarin pagi.

dan aku terus melangkah. sendiri saja. serupa air sungai, sendiri mengarung riam. meski senja menghadang diam-diam hingga malam memeluk di ujung sana. sebab malam adalah kekasih sejati bagi penyendiri sepertiku. sebab malam tak pernah ingkar janji sepertimu. sebab malam adalah setubuhku dalam sukma. sebab malam adalah nyawa bagiku bila pagi tiba.




(10 November 2010)

sepenggal cerita di beranda

(1)
meski malam telah menua,
masih terlihat sang kunang-kunang terbang
melayang-layang di antara rimbun ilalang
mencari pasangan jiwa yang hilang
ditelan penguasa malam bermata jalang.

(2)
semalam, seekor kunang-kunang mampir di beranda
bercerita tentang rona merah muda, yang tempias pada kedua pipinya.
pun bercerita tentang lebam kelabu, yang masih tersisa pada rusuk kirinya.
semalam, seekor kunang-kunang mampir di beranda
dan memintaku terbang bersamanya.

(3)
sayang, aku tak ingin terbang
apalagi bersama sang kunang-kunang.
sebab sepasang sayapku pernah hilang
ditebas kunang-kunang betina
dengan api lilin yang masih menyala.




(10 November 2010)

doa di simpang jalan

: untuk mereka, yang terhambur dari punggung Merapi


masih saja tubuh yang satu,
berdiri di simpang jalan yang sama.
menunggu sebuah kabar,
yang mungkin terbawa burung layang-layang
ketika kembali ke sarang bersama petang.
tentang kau dan kotamu, yang masih saja abu-abu.
tentang kau dan kotamu, yang tak pernah lepas dari nafasku.
nafas yang selalu melafalkan doa
: segala abu-abu segera berlalu darimu dan kotamu.



(10 November 2010)

Esok Pagi, Semoga...

: untuk mereka, yang terhambur dari punggung Merapi




menebar rindu pada abu,
yang masih setia luruh pada rambutmu.
menebar cinta pada hujan,
yang masih setia menghapus airmata.
menebar harap pada lanskap,
yang masih setia menunggu jawab
pada cerah mentari kembali
bersama pelangi mewarna bumi.




(10 November 2010)

Jumat, 12 November 2010

Doa Kemarin

Tuhan memang tak pernah tidur, apalagi mendengkur sepertimu.
Bila Ia tak menjawab doamu hari ini, itu bukan karena terlalu sibuk sepertimu.
Ia hanya ingin tahu kesungguhanmu atas segala pinta dalam setiap bait doa.

Tetaplah meminta pada-Nya, meski hari ini tak berjalan sempurna.
seperti sering kau pinta Ia ada menemanimu dalam setiap bait doa.
Sebab Tuhan memang tak pernah tidur, Ia hanya menunda jawab setiap doa.

Dan, pilihanmu hanya dua:
Percaya atau pergi saja dari setiap bait doa,
yang tekun kau lafalkan dalam setiap nafas.




(31 Oktober 2010)

LELAKI AIR

: untuk Pengantinku




Aku bercengkerama bersama teman-temanku dalam sebuah pesta di tepi sungai. Pesta perayaan kedewasaan. Sebuah pesta penanda bagi kami untuk tinggal terpisah dari orangtua kami. Sebuah pesta penanda bagi kami untuk mulai tinggal di rumah baru, di atas sebuah batu. Batu hitam. Dunia baru bagi kami, lumut-lumut muda.

Ya, Lumut adalah namaku. Rumahku di atas batu di tepi sungai, yang airnya mengalir jernih dari sumber air di atas gunung hijau dari atas sana. Ah, air jernih itu selalu menyapaku. Senyum ramah. Senyum yang mampu membuat hatiku membuncah. Senyum yang mampu menyuburkan tubuh dan jiwaku. Senyum yang selalu menyegarkan penatku.

Aih, ternyata aku jatuh cinta padamu. Pada Air, yang mampu menghapus segala sedih di masa lalu. Ketika aku harus berjuang menghancurkan batu-batu keras di bawah kakiku tanpa tetes-tetes air dari tubuhmu. Kini, ketika aku telah dewasa dan tinggal di atas rumahku sendiri, kau makin sering mengunjungiku. Mengalir di dalam rumahku. Mengalir di atas tubuhku. Hingga pada suatu pagi yang dingin dan berkabut, ketika kau berkunjung ke rumahku, kau tanyakan sesuatu padaku.

“Maukah kau menikah denganku? Bersama kita menaklukkan dunia di bawah kaki kita," tanyamu lugas. Sembari memandang mataku. Pun menggenggam jemari tanganku.

Aku mengangguk. Mataku berbinar. Ya, akhirnya aku menikah denganmu, Air. Pengantin Abadiku. Sebab hanya bersamamu, aku mampu menaklukkan dunia di bawah kakiku. Sebab hanya bersamamu, aku mampu menerbangkan spora-spora cinta dari tubuhku.




(22 Oktober 2010)

Ibu

telah begitu lama ibu sakit, hatinya tergigit melihat anak-anak kecil bertengkar sengit. bahkan saling bunuh demi rupiah yang sedikit. saling bunuh untuk mengisi perut-perut kelaparan. sebab semalam, mereka hanya minum air rebusan batu. dan kemarin pagi, mereka makan nasi basi dari tempat pembuangan sampah.

telah begitu lama ibu sedih, hatinya pedih melihat anak-anak tak henti menoreh perih. dan melupakan bahasa kasih ketika mereka berselisih. dan melupakan bahasa kasih menyikapi warna-warni berbeda di atas pangkuan ibu. dan melupakan bahasa kasih bahwa warna-warni itu yang membuat cantik wajah ibu.

telah begitu lama ibu terluka, hatinya merana melihat anak-anak tak henti berduka. ketika satu demi satu tertimpa bencana. sedang yang lain masih saja menutup mata dan telinga. pura-pura tak melihat dan tak mendengar derita saudara-saudaranya. sedang anak-anak tertua masih saja berebut kuasa di atas sana dengan menginjak tubuh adik-adiknya.

telah begitu lama ibu sakit. telah begitu lama ibu sedih. telah begitu lama ibu terluka. lantas apa yang kalian dapat lakukan demi ibu? lantas di mana kalian, anak-anak ibu? anak-anak yang pernah berjanji menjaga ibu dengan segenap jiwa dan raga. anak-anak yang seharusnya menjaga ibu di kala ibu semakin renta.





(20 Oktober 2010)

musim gugur

hendak ke mana kita akan kembali ?
setelah kemarin menghuni pucuk-pucuk pohon
dan menari bersama saat angin menghembus.

hendak ke mana kita akan kembali ?
selain luruh kembali ke tanah
dan lebur bersamanya.




(13 Oktober 2010)

tentangmu, selalu.

tentangmu, yang begitu tekun
mengumpulkan tetes-tetes embun
demi membasuh ngungun
pada tiap-tiap pagiku.

tentangmu, yang begitu teguh
menghapus tetes-tetes peluh
demi menghapus keluh
pada tiap-tiap petangku.

tentangmu, yang begitu tegar
mendengar mulut-mulut mencecar
demi membangun suar
pada tiap-tiap malamku.

tentangmu, yang begitu setia
menunggu langkah-langkah dara
demi melukis cinta
pada tiap-tiap langkahku.





(10 Oktober 2010)

catatan 10.10.2010

pagi ini, bebas menjadi diri sendiri.
berlari di antara hembus angin
dan butir-butir pasir
menari di sela-sela jemari.

pagi ini, melangkah kembali.
melupakan catatan kelabu,
yang pernah jadi belenggu
pada sekujur tubuh dan jiwa.

pagi ini, terlahir kembali.
dan memulai catatan baru
di bawah langit biru
dan hangat mentari pagi.




(10 Oktober 2010)

matahari

esok pagi,
mari menunggu bunga matahari
merekah di halaman.

mungkinkah ?

semoga saja, kau bilang.
dan, semoga matahari di langit biru
tak lagi tertutup mendung kelabu.

ya, semoga matahari itu
bisa mengiringi bulir-bulir keringat
mencuci setiap lubang pori
dan mengamini setiap doa,
yang terucap di awal pagi




(9 Oktober 2010)

balada pohon di tepi jalan

ia tumbuh sendiri
di tepi jalan sunyi
tinggi sekali,
hingga angin gemar menjamahnya
rindang sekali,
hingga banyak yang datang
sekadar berteduh bila terik melanda

ia tumbuh
dan terus tumbuh
meski tubuhnya tertusuk paku
meski pori-pori terlabur lem-lem bau
demi menempel selebaran-selebaran itu

ia tumbuh
dan terus tumbuh
meski kakinya tersiram kencing anjing
atau lelaki-lelaki mabuk
yang terduduk di pangkuannya

ia tumbuh
dan terus tumbuh
dalam diam,
meski banyak janji dibuat dalam dekapan
pun diingkari diam-diam

ia tumbuh
dan terus tumbuh
hingga kaki-kakinya merapuh
dan tak lagi sanggup menopang tubuh





(29 September 2010)

Senin, 09 Agustus 2010

sendiri

sendiri,
pernah menaungi
mereka, yang ziarah kemari.

sayang,
waktu tak henti berlari.
dan, dedaun luruh tanpa semi.

sendiri,
tetap setia berdiri
di antara batu-batu sunyi.




August 9th, 2010

pulang

senjakala, ribuan burung layang-layang
pulang kembali ke sarang
sayang, yang seekor enggan pulang
sebab tak ada yang menunggunya pulang

dan, ia kembali terbang
sembari mencari sebuah sarang
nyaman. sebelum malam menjelang.
: pulang.




August 9th, 2010

sebuah pagi di padang ilalang

berlari telanjang kaki
di antara rimbun ilalang
bercerita tentang pagi,
yang pernah hilang

biarlah segala terbang
serupa bunga ilalang

tak mengapa, kau bilang.
biarlah sebuah pagi
hilang, terbang
berganti siang atau malam

tak mengapa, kau bilang.
sebab pagi yang lain
setia menemani
bersama sejuk embun





(August 9th, 2010)

menunggu Ayah datang

aku terlahir ke dunia bersama ribuan titik membalut sekujur pori tubuhku. pun ribuan titik membalut sekujur hatiku. dan, usia tak pernah lelah berjalan meski hanya semalam, pada tubuh biologisku. sayang, usia tak mampu menguasai jiwaku. ia takluk. ia bertekuk lutut melihat langkah jiwaku, yang tak kunjung surut menaklukkan takut. takut yang pernah setia membalut, serupa titik-titik pada sekujur tubuhku.

aku pun beranjak dewasa setiap harinya. dan, titik-titik itu masih saja terserak. meski aku pun tak pernah lelah memungutnya satu demi satu. merangkainya menjadi sebuah gambar indah, yang belum juga selesai hingga nafas ini terhenti. ya, sebuah gambar berjudul kehidupan. kehidupan yang tak takluk oleh deras hujan. pun sengatan mentari di tengah hari.

meski aku bukan lagi remaja belasan. aku masih belajar memahami setiap titik, yang mampir dalam setiap detik. setiap titik yang kadang menggelitik, kadang ingin digelitik. setiap titik yang kadang ganjil, kadang juga genap. setiap titik yang kadang lindap diam-diam di kolong kesadaran.

titik-titik itu masih saja menarik. menarik untuk ditarik menjadi sebuah garis dan gambar. gambar bintang di langit, seperti pernah Ayah ajarkan ketika aku masih kanak-kanak. sayang, aku memilih untuk tak menggambar bintang seperti Ayah ajarkan. hingga ia membuang jauh-jauh diriku dari sisinya.

meski aku telah dibuang. aku masih saja sayang padanya. sebab ia adalah Ayah, yang telah mengajarku menggambar bintang dari sebuah titik pada dirinya. dan, aku masih saja setia menunggunya. menunggu Ayah datang membawa sekantung bintang ketika malam menjelang. sayang, Ayah tak pernah datang menemuiku, si Anak Hilang.




(August 7th, 2010)

jejak rindu (1)

: a tribute to BOL BRUTU





tak kunjung menemu
jejak masa lalu
di antara rerimbun lumut
pada bongkah batu-batu,
sedang belenggu rindu
kian membatu dalam hatiku





(August 7th, 2010)

kisah tiga babak

kisah tiga babak


/1/

dalam perjalanan lalu,
aku dengar kisahmu
dan perempuan-perempuan itu
yang begitu memujamu
dan, salah satunya sahabatku

ketika rambut mulai kelabu,
entah jalan mana kau tuju
sebagai pemberhentian terakhirmu
: aku atau sahabatku



/2/

dalam perjalanan lalu,
kau pinta aku
jadi pendamping hidupmu
sedang aku masih diam membisu
bukan tanda setuju

aku diam membisu
sebab aku masih ragu pada hatiku
bukan hatimu, yang menyimpan rindu
sejak dua belas tahun lalu



/3/

dalam perjalanan lalu,
kau adalah pemuja rahasiaku
sedang aku bahkan tak tahu
siapa namamu, pun segala tentangmu

dan ketika perjalanan lalu
telah benar-benar berlalu,
tertinggal kita merajut kisah baru
berdua saja di pinggir kota biru



(August 7th, 2010)

dua kisah beda arah

/i/
kisahmu,
lelaki penenun luka
pada setiap beranda jiwa
perempuan-perempuan belia

tentangmu,
yang tinggalkan luka
di setiap sudut kota
hingga aku tak lagi nyaman
dalam detak jantung berlarian
bila melewatinya tiap senja

/ii/
kisahmu,
manusia setengah dewa
yang hadir dalam berandaku
pada setiap kejatuhan langkahku

engkaulah kumbang,
yang mencecap sari hatiku
dan menyimpannya di sarang hatimu,
yang penuh madu dari senyumanku
entah esok atau lusa,
kita pasti memanen madu itu bersama





(July 21st, 2010)

Sabtu, 17 Juli 2010

rumah di ujung pelangi

perjalanan ini baru mulai,
tetapi langkah-langkah kaki telah gontai
entah kapan kita akan sampai
pada rumah di ujung pelangi ?


di bawah terik yang sama,
kita masih saja menapaki langkah
entah kapan tujuan bukan sekadar angan

di bawah rintik yang sama,
kita masih saja meneruskan langkah kaki
menuju sebuah rumah cita di ujung pelangi

di bawah langit yang sama,
kita masih saja tak henti berharap
semoga segala harap segera terdekap
bersama dalam pelukan Sang Maha
pun semoga segala restu segera tertuju
dalam satu singgasana di ujung pelangi-Mu


dan, semoga rumah cita
di ujung pelangi itu bukan sekadar fatamorgana
: indah di mata, tetapi menyimpan kelabu

dan, semoga rumah cita
di ujung pelangi itu memang benar milik kita
: hanya kita




(July 16th, 2010)

Jumat, 16 Juli 2010

menunggu embun

kutunggu tetes-tetes embun
mengalir dari batangmu
membasahi tanahku
menumbuhkan benih hijau,
yang kau tinggalkan senja lalu
bersama embus anginmu

kutunggu,
hingga mentari cemburu
dan meninggalkanku sendiri
dalam biru




(July 11th, 2010)

sembilu di rumah pernikahanku

dan, kita selalu berpunggungan bila malam tiba
setelah rutinitas bercinta, yang itu-itu saja
serupa sepasang orang asing di ranjang kita

dan, kita masih berbasa-basi bila pagi tiba
tentang menu sarapan pagi di meja, yang masih sama
serupa sepasang orang asing di meja makan kita

dan, kita tak saling bicara bila hari berjalan di tubuh kita
sebab kau dan aku sibuk menjalani agenda, yang tetap sama
serupa sepasang orang asing di bangku taman kota

lantas untuk apa kita mengikat janji di depan altar suci ?
bila segalanya masih penuh basa-basi,
yang kadang memberi warna pasi di ruang hati
pun pada segala penjuru langkah kaki

kau bilang demi ibadah, aku bilang terserah
kau bilang demi menghindari dosa, aku bilang percuma
kau bilang demi cinta, aku bilang sia-sia
sebab tak ada lagi sisa dusta dari perjalanan cinta,
yang penuh pura-pura di antara kita

dan, lebih baik bila kita akhiri saja semua
sebab kau telah berdusta tentang perempuan,
yang kau simpan diam-diam di ruangan lain
di rumah hatimu, yang seluas sabana




(July 10th, 2010)

aku jenuh, sungguh

aku jenuh,
pada langkah-langkah tertempuh

aku jenuh,
pada lenguh-lenguh di ranjang berpeluh

aku jenuh,
pada janji-janji terseduh
di meja kopi yang angkuh

aku jenuh,
hingga telapak-telapak kaki melepuh
sedang kau di sana masih tanpa gaduh
menunggu bintang yang tak jua jatuh
di pangkuanmu, lelaki bermata teduh

aku jenuh, sungguh
bagaimana bila aku menjelma pembunuh
malam ini, ketika langit tak henti berpeluh ?

aku jenuh, sungguh
segala tentangmu
: lelaki bermata teduh




(July 10th, 2010)

mobil-mobil mengkilat di depan gedung rakyat

mobil-mobil mengkilat di depan gedung rakyat



mobil-mobil mengkilat
masih saja berbaris rapat
di depan gedung rakyat

mobil-mobil mengkilat,
yang dibeli dari keringat rakyat
dan, kalian: wakil rakyat
yang malah jadi penikmat uang rakyat

mobil-mobil mengkilat,
yang selalu bebas ngadat
sering membuat rakyat mengumpat
bila berlalu cepat di jalanan padat

mobil-mobil mengkilat,
yang makin membuat rakyat sekarat
di antara harga-harga makin meningkat

mobil-mobil mengkilat
berpenumpang para keparat,
yang gemar melindas tubuh-tubuh rakyat




(June 27th, 2010)

semalam dalam pelukan seorang pelacur

semalam,
aku melihatmu jatuh tertidur
mendengkur. dalam pelukan seorang pelacur.

ah, mungkin kau terlalu lelah
menjelajah. dalam setiap pori dan celah.
bibirmu pun tak henti mendesah
sebuah nama, yang kau cinta tanpa lelah

semalam,
kau nyenyak mendengkur
dalam pelukan seorang pelacur
hingga mentari pagi menyela di jendela
bersama aroma sarapan dari meja dapur




(June 14th, 2010)

sebuah drama lain pada sebuah siang

(1)
perempuan itu,
masih saja cemburu padamu
sedang kau telah begitu sabar menuntunnya
pun mengikuti segala inginnya

cemburu telah begitu kuat menutup mata hati,
lantas ke mana cinta yang pernah terpatri pergi ?

curiga telah begitu erat membawa prasangka,
lantas ke mana kasih yang pernah terkisah musnah ?


(2)
lelaki itu,
masih saja setia menunggumu
sedang kau telah begitu kasar menamparnya
dengan tuduhan perselingkuhan

cemburu yang telah menutup mata hatimu,
hanya berbalas kesabaran pada wajah lelaki itu

curiga yang telah teranyam pada lidahmu,
hanya berbalas senyuman pada bibir lelaki itu


(3)
aku diam,
seperti biasanya. tanpa sepatah kata
meski mata ini tetap berkaca-kaca
sekali lagi, menyaksikan drama rumah tangga

pertengkaran sia-sia,
akibat curiga dan cemburu buta
tanpa logika dari dua orang dewasa
di antara seorang bayi yang meronta

ah, sudahlah...
aku sudah teramat lelah
menyaksikan segala ulah kalian
meributkan perselingkuhan yang tak pernah ada




(June 12th, 2010)

setumpuk surat cinta

kemarin,
kutemukan setumpuk surat cinta,
yang bercerita tentang kisah hatimu
pada perempuan lugu bermata sendu

setumpuk surat cinta,
yang tak pernah kau kirim pada perempuan itu
meski sekian tahun telah berlari dari usiamu

setumpuk surat cinta,
yang kutemukan di bawah ranjangmu
: ternyata untukku




(June 11th, 2010)

Selasa, 25 Mei 2010

kupu-kupu bersayap kaca

pada purnama lalu,
aku telah menjelma kupu-kupu
dan terbang bebas ke langit biru

bila aku kembali menengok hijau ladangmu
tolong jangan memburuku atau menangkapmu
dengan jala pemikatmu
sebab aku bukan kupu-kupu pelengkap koleksimu

bila aku kembali terbang di sekitar bahumu
tolong jangan memintaku singgah di hatimu
dengan madu pemanismu
sebab aku bukan kupu-kupu penghuni sangkarmu




(25 Mei 2010)

bloody marry

tak pernah aku mengiba
tentang luka di beranda jiwa
sebab aku memang bukan siapa-siapa
bagimu, pengembara cinta




(24 Mei 2010)

satu janji pada Ibu

sembilu itu pernah menghunus jantungmu
tuba itu pernah mengalir dalam darahmu
pahit itu pernah tercecap di lidahmu
dera itu pernah menyentuh tubuhmu
sayang, tak satu pun mampu merubuhkanmu
pun menghentikan langkah kakimu

dan, kau masih tegak dalam langkahmu
tetap menyandang busur panahmu
pada punggungmu, yang tak lagi hijau
demi satu janji pada saktimu
: Ibu




(18 Mei 2010)

Selasa, 18 Mei 2010

kisah darah

darah itu pernah tumpah
di atas selembar kain basah
pada satu malam tanpa desah
meninggalkan amarah,
yang tak kenal lelah

tertinggal aku,
menunggu satu
: darahmu
mengalir dari jantungmu



(16 Mei 2010)

semoga dan selamanya, berbahagia

: untuk Nana Mulyana



maaf,
aku bukan pujangga
yang mampu merangkai kata
seindah untaian mutiara
serupa kalung-kalung permata
di leher nyonya-nyonya kaya

maaf,
aku hanya punya sebaris doa
yang mungkin saja bisa
menemani setiap langkah dan karya
yang terukir dari jemari penuh cinta
darimu, yang berbahagia

: semoga dan selamanya




(14 Mei 2010)

biarkan bintang menari

semalam,
kubiarkan bintang menari
bersama sang putri
di atas bukit berbunga itu

biarkan saja,
mereka berbahagia
dalam tarian cinta
hingga akhir dunia, semoga

sebab aku tak lagi rindu
pada senyum bintang berkilau,
yang pernah membutakan mataku
pun mematahkan sayapku

sebab aku tak lagi peduli
pada bintang menari menjelang pagi
atau tawa tuan putri,
yang menusuk ulu hati

sebab aku telah kembali
mencintai diri dalam sunyi
bersama kekasih sejati
: sang mahasetia



(13 Mei 2010)

menunggu, lagi….

mengulum rindu
pada lidah yang kian kelu
menyimpan sembilu
pada urat nadimu

tertinggal satu
: menunggu

hingga hati ini jengah
atau rasa ini resah
dan kaki lelah melangkah

sampai kapan ?

ENTAH !!!




(12 Mei 2010)

Selasa, 11 Mei 2010

luka itu...

kembali menyayat jiwaku
bersama tetes-tetes embun,
yang luruh tadi pagi
di beranda mataku




(11 Mei 2010)

belenggu biru

pesona masa lalu itu
masih saja membelenggumu

dan, aku tak tahu
cara membebaskanmu
sebab tak mampu kupotong kakimu
atau sepasang sayap mungilmu itu

oh, tetapi aku mampu
bila harus menusuk jantungku
agar kau terlepas dari belenggu itu
: masa lalu

ketika kau dan aku
masih sering menghabiskan waktu
di gedung biru itu




(11 Mei 2010)

angin dan layang-layang

layang-layang kembali melayang,
terbang di awang-awang
meski tanpa benang

dan, membiarkan angin
menerbangkannya tanpa ingin
hingga ia terjatuh di kakimu
tertinggal rangka bambu




(11 Mei 2010)

Jumat, 07 Mei 2010

manusia versus manusia

aku, manusia biasa
sama sepertimu, pernah berlaku salah
pun telah kubayar laku salah itu
dengan segala sesal tak sudah

sayang, masih saja bibir mencibir
pun cerca membusa
dari mulut-mulut berbisa
mengirimku ke neraka buatan manusia

ah, lantas apa beda
bila aku mati malam ini
atau esok pagi ?

tak ada !

sebab aku pelacur hina
pun penuh dosa,
yang tak pantas mencium aroma surga
begitu sabdamu dan kitab sucimu




(6 Mei 2010)

doa malam ini

semoga mati
dalam secangkir kopi
malam ini

dan, tak perlu merajut mimpi
ketika mentari menari
esok pagi



(3 Mei 2010)

Minggu, 18 April 2010

janji biru pada undak batu

pada undak batu
kuserahkan tanganku padamu
agar kelak kau mampu
jadi penuntun bagiku

pada undak batu
kuserahkan setengah jiwaku
agar kelak kau mampu
jadi penjaga bagiku

pada undak batu
kuserahkan setiaku padamu
agar kelak kau mampu
jadi pendamping bagiku

pada undak batu
telah jelas kau lihat aku,
yang begitu rapuh memintamu
menuntunku dalam genggamanmu

pada undak batu
telah terikat sebuah janji biru
tentang sepasang rindu
dalam terik yang bisu




(18 April 2010)

Sabtu, 17 April 2010

kisah rahasia dalam simfoni malam

sssttt...
tak perlu berbagi
tentang kisah rahasia,
yang kita gubah berdua
dalam simfoni malam

sssttt...
ini benar-benar rahasia !!!



(18 April 2010)

Kamis, 15 April 2010

tentang tuba yang kau kirim

tentangmu, sang adam
yang telah memberi khuldi
hingga hawa terlempar dari surga

tentang simalakama,
yang masih tersimpan dalam gua garba
menunggu waktu itu tiba
: kelahiran dusta

masihkah kau akan meminta
hawa menelan maja dan meminum tuba
pada sebuah makan malam penuh dusta
di bawah gemerlap kejora ?



(15 April 2010)

membuang kisah lalu

membuang ingin
pada hembus angin
pun mengubur dingin
di bawah rintik hujan

dan, aku pun berlari
menuju pelangi,
yang setia menunggu
hingga senja hari



(15 April 2010)

Sabtu, 10 April 2010

tarian ilalang

tadi siang,
aku menjelma ilalang
menari riang di sebuah padang
bersama bayu
menghembus malu-malu
hingga senja berlalu



(5 April 2010)

Jumat, 02 April 2010

selibat

lidahmu kembali menjerat
serupa ular pemangsa pengerat
telah membuatku nyaris sekarat
dalam malam yang lamat-lamat

sayang, telah kupilih jalanku
: selibat




(3 April 2010)

tentang titik yang kau tulis

kemarin,
kau telah menulis banyak titik
dengan mulutmu yang serupa mesin ketik

ah, kau pikir segala titik
mampu membuatku tergelitik
pun tak mampu berkutik

sayang, aku tak tertarik
dengan segala titik,
yang kau tulis serupa rintik
hujan yang tak henti menitik
di bawah bulu mataku yang lentik




(3 April 2010)

lelaki berdarah biru

sebab kau berdarah biru
lantas kau bebas menoreh sembilu
dalam dinding-dinding hati
pun mengingkari segala janji,
yang pernah kau ukir dalam ruang hati
dengan senyum serupa mentari pagi

ah, lebih baik aku pergi
sebab kau telah berjanji pada sang hapsari
untuk mengikat janji
denganmu, sang belahan hati
pada akhir tahun ini




(3 April 2010)

di bawah guyuran hujan

menghapus catatan
membuang kenangan
dalam seluruh ruang ingatan
di bawah guyuran hujan
tentang sebuah senyum menawan
di depan gedung perpustakaan




(24 Maret 2010)

titik

kau dan aku,
telah sampai di ujung waktu

berhenti,
tak perlu menengok kembali
masa lalu di ujung hari
sebab kau dan aku tak akan kembali
merajut mimpi,
yang terpotong pada dini hari

berhenti,
sebab aku merasa nyaman di sini
berteman sunyi
tanpa tanyamu, yang menggelitik hati

berhenti,
sebab aku hendak melangkah lagi
dalam sendiri, esok pagi



(24 Maret 2010)

di bawah pancuran air

mengguyur tubuh di bawah pancuran air
mengharap segala penat mengalir
pun segala kenangan segera terusir
dari benak yang kian nyinyir
tentangmu, lelaki berkuncir



(24 Maret 2010)

Rabu, 17 Maret 2010

pagi ke tujuh belas, bulan ke tiga

siapakah kita,
yang mulai tekun menenun cerita
pun merenda asa

siapakah kita,
yang selalu berbagi tawa
pun menampung curahan airmata

siapakah kita,
yang mulai menanam benih kasih
pun mencabuti sembilu cemburu

siapakah kita,
yang saling memompa tekad
pun melarung segala resah

siapakah kita,
yang mereka bilang belahan jiwa
sedang saya masih bertanya,
benarkah ? mungkin saja,
sebab kita mulai saling rindu
bila tak saling temu
di antara lembaran buku

siapakah kita ?
kembali saya bertanya,
maaf bila saya lupa
sebab amnesia kembali melanda
ketika kau mengecup kening penuh cinta
pada pagi ke tujuh belas, bulan ke tiga



(17 Maret 2010)

Senin, 15 Maret 2010

pengerat berkedok sahabat

tak perlu lagi kau tebar aroma cinta
pura-pura dari hatimu yang penuh dusta
sebab aku tak akan lagi percaya

sebab masih amat lekat dalam ruang ingat
tentangmu, yang anggapku sahabat
pun anggapku saudara dalam jabat erat
dan, semalam baru kutahu betapa pengerat
dirimu, yang pernah memelukku erat
dalam romansa sahaja yang hangat

sebab aku tak bisa memberimu rupiah,
yang kau pinta untuk sebuah pesta nikah
lantas kau buang aku serupa sampah
baiklah, aku tak hendak berbalik arah
dengan menjilat ludah yang telah tumpah

sebab aku tak ingin memuntah serapah
padamu, yang pernah memuntah darah
pada sebuah ruang hati yang teramat lelah
dengan segala kisah tentang entah



(16 Maret 2010)

iseng (2)

menelan butir-butir valium
pun menghisap opium
dari bibir semerah yodium

dan, tubuh pun rebah pada peluk
hingga mentari menyapa di ufuk
sedang kepala masih saja menyuruk
pada peluk yang begitu empuk
sebab mata masih lekat menahan kantuk

ah, sepertinya aku sedang mabuk
padamu, lelaki bertanduk



(15 Maret 2010)

menunggu

dan, aku pun telah banyak belajar
pada segala kuntum mawar,
yang tumbuh liar di antara belukar

dan, aku pun telah amat sadar
dari segala luka memar,
yang pernah membuatku menggelepar

sebab tak ada yang abadi di dunia
bahkan kejora pun mulai redup
pada langit pagiku
sedang aku masih menghitung detakmu
pada malam kelamku

dalam bisu,
masih saja menunggumu
kembali menerangi langitku



(14 Maret 2010)

iseng (1)

tidak perlu lagi kau tunggu
kelahiran sebuah tulisan baru
dari tarian jemariku

sebab aku sedang amat sibuk
menganyam rindu dengan kekasih baru
pada sebuah kencan tanpa kantuk
di atas pulau kapuk


(14 Maret 2010)

HAPSARI

adalah bidadari pinilih,
curahan segala kasih
pun tautan segala rindu
dalam singgasana kalbu sang prabu

sebab kau adalah permaisuri,
yang selalu menghuni ruang hati
dan, bukan sang putri pemanah
yang memilih pergi tanpa desah
pada punggung kuda
ketika malam telah lelah


(12 Maret 2010)

Kamis, 11 Maret 2010

sampah, enyah !!!

pada sebuah sudut dunia, yang berjuluk surga katulistiwa. makin banyak manusia menjelma dewa. terlalu sibuk mencatat dosa-dosa sesama. hingga alpa pada dosa-dosa, yang tersimpan pada punggung sendiri. tangan dan kaki sibuk berbuat anarki. mulut sibuk melempar caci maki. pun pembelaan diri, yang tanpa arti. lantas di mana nurani, yang kata kalian dijunjung tinggi ?

kalian sebut diri sebagai kaum cerdik pandai dan berpegang pada religi. sayang, mulut kalian penuh aroma bangkai. sedang otak kalian tersimpan dalam tungkai. ah, kau hanya cerdik menggelitik. pun mengusik mereka, yang telah melangkah berisik sejak pagi buta. demi mulut dan perut keluarga di rumah. ah, kau hanya pandai mengakali mereka yang lugu. dengan segala ilmu yang kalian pelajari dari sekolah tinggi. ah, kalian hanya bersembunyi di balik kedok religi. demi mendapat sebutan sebagai titisan nabi.

kalian sebut diri sebagai agent of change. iya, kalian memang pantas mendapat sebutan itu. ketika kalian ubah nurani jadi anarki. kalian berantas korupsi dengan mencuri di rumah sendiri. kalian bilang sebagai manusia bermoral. sayang, tingkah laku kalian bebal. lantas apa beda kalian dengan mereka, yang sering kalian teriaki di depan gedung tinggi ?

TAK ADA SAMA SEKALI.

argh !!! kalian ini hanya setumpuk sampah, yang masih mengharap rupiah dari rumah. rupiah kiriman orangtua, yang telah bekerja tak kenal lelah. ah, kalian ini hanya setumpuk sampah, yang terserak di halaman rumah. lebih baik kalian segera enyah dari pandang mataku. atau kelak kulebur kalian pada tungku apiku, yang rindu kalian: sampah-sampah terserak di penjuru halaman rumah.



(10 Maret 2010)

Senin, 08 Maret 2010

tentangmu, yang tak terlahir dari rahimku

sebab kau tak pernah lahir dari rahimku,
lantas tak bolehkah aku menyayangimu
sama serupa perempuan yang telah membawamu
selama sembilan bulan dalam rahimnya ?

ah, tahukah kau senyummu
pada setiap pagiku
lebih cerah dari cahaya mentari itu

ah, tahukah kau pelukanmu
pada setiap harimu
lebih menenangkan dari seduhan teh itu

ah, tahukah kau tawamu
pada pelupuk mataku
adalah penawar lelah yang tiada tara

ah, tahukah kau tangismu
pada setiap sakitmu
adalah luka yang mengiris jiwa

ah, tahukah kau segala tentangmu
pada setiap detik waktuku
adalah asupan semangat dalam tarikan nafasku

ah, tahukah kau ?
lelaki terindah dalam hidupku
adalah lelaki kecilku,
yang kelak menyebutku bunda
dengan bibir mungilmu itu



(8 Maret 2010)

belahan hati sang mentari

telah kubuang segala ngungun
pada putik-putik embun,
yang terbangun pagi ini
bersama benang sari mentari
dalam rekah kelopak-kelopak mimpi

dan, tak hendak kunikmati kembali
segala ngungun, yang pernah kau kirim padaku
bersama kuntum-kuntum mawar biru itu
pun sempat membunuhku pada lingkaran hidup lalu

sebab aku telah bangkit dari mati suri
pada pagi ini
bersama nafas sang mentari

dan, kau tak akan mampu membunuhku kembali
sebab lingkaran hidup ini milik sang mentari,
yang setia mengiringi langkah-langkah kaki

sang kuda pengelana

biarlah jemari angin
membelai batang-batang rambut yang kian dingin
sebab hanya pada sang angin
batang-batang rambutku mampu sampaikan ingin

biarlah butir-butir pasir
menjilati pori-pori kaki yang kian nyinyir
sebab hanya pada butir-butir pasir
pori-pori kakiku mampu sampaikan desir

biarlah aku berlari bebas
pun tanpa batas
sebab aku terlahir sebagai kuda
liar, tanpa sadel dan pelana
hingga kau tidak bisa menunggang begitu rupa

bila kau mau, kau boleh berlari bersamaku
atau sekadar membelai punggungku,
yang begitu tegap dan gagah
pun sekadar membelai suraiku,
yang berkilau dan indah
kecuali satu, kau tidak bisa mengikat sadel dan pelana padaku

sebab aku bukanlah kuda tunggang,
yang akan pulang bila senja datang

sebab aku terlahir sebagai pengelana sabana
pun penjelajah padang-padang stepa,
yang selalu setia menungguku datang, sang kuda pengelana



(7 Maret 2010)

Sabtu, 06 Maret 2010

megalomania

bila kau pikir punya segala kuasa,
maka semua itu dusta semata
sebab pemilik segala kuasa hanya sang mahakuasa

bila kau pikir punya segala harta,
maka semua itu pun sekadar dusta
sebab pemilik segala harta pun sang mahakaya

kau hanyalah pemegang amanat,
itu pun sementara
sayang, kau memilih berkhianat
pun menjadi pendusta
demi sebuah citra, yang fana

ah, kau memang sakit jiwa
tidak lebih dari sekadar seorang megalomania,
yang lebih pantas tinggal di rumah sakit jiwa
daripada menjadi penghuni istana



(3 Maret 2010)

Senin, 01 Maret 2010

sebab aku terlahir beda

sebab aku terlahir beda
lantas kau bebas berdusta
akan cinta tersimpan pada hitam mata

sebab aku terlahir beda
bahkan sejak aku amat belia
ketika ayah mengirimku ke candradimuka
untuk belajar memanah dan berkuda
agar kelak aku mampu berlaga dalam bharatayudha

sebab aku terlahir beda
dari mereka yang gemar bersolek di depan kaca
demi memikat hati para ksatria berkuda
sedang aku lebih memilih diam di balik jendela
mencermati ribuan lembar pustaka

sebab aku terlahir beda
ketika aku tumbuh jadi sekuntum bunga
tidak kupilih taman kota untuk tempat bercengkerama
dengan kumbang-kumbang penggoda
sebab aku telah memilih tumbuh di hutan tepian kota
di mana sang baruna bebas membelaiku sesukanya

sebab aku terlahir beda
ketika ludira telah tertumpah sebelum masanya
maka segala cerca menghantam kaca-kaca jendela
hingga hancur berantakan pada lantai-lantai istana
pun membakar murka para penghuninya

sebab aku terlahir beda
ketika mereka sibuk menentukan mahar pengikat cinta
sedang aku malah memilih jadi pertapa
menjauhkan diri dari hingar-bingar dunia
untuk menemukan jalan menuju istana sang mahacinta
dengan membagi cinta pada segala makhluk di dunia

sebab aku terlahir beda
pun menempuh jalan berbeda dari kalian semua
hingga lantas kalian bebas menudingku pendosa
sebab ini adalah pilihan hidup semata
dan, aku bangga telah terlahir beda

sebab aku terlahir beda
dan, telah tuli kedua telinga pada segala cerca
dari kalian, yang selalu berlagak jadi berhala




(2 Maret 2010)

Jumat, 26 Februari 2010

sebab aku selembar daun pada belantara hutanmu

mungkin saja kau telah jadi hujan
pada kemarau, yang pernah menghampiriku
atau mungkin kau sekadar menjelma embun,
yang telah mampir pada pagiku

mungkin...

sayang, kau tak pernah sadar
bila hujan yang mampir itu
telah menawanku begitu rupa

dan, kau pun tak pernah sadar
bila embun yang menetes pada keningku
telah jadi luka pada ruang jiwaku

ah, mengapa kau memilihku ?
untuk kau simpan pada ladang hatimu


sebab aku selembar daun,
yang ngungun di antara ribuan daun
pada belantara hutanmu

biarkan saja aku menua
dan, terjatuh pada tanahku
sebab itulah takdirku



(27 Februari 2010)

maaf, bila aku tak setia

bila kau pikir aku setia,
maka kau salah sangka

sebab aku sedang menerbangkan luka
bersama asap-asap dupa,
yang memedihkan mata
pun menoreh luka pada jiwa mereka,
yang gemar memuja cinta
sedang tangan-kaki mereka merajam jiwa

itu sebabnya pernah kukatakan padamu,
yang begitu mencintaiku
hingga buta segalamu

maafkan aku...




(26 Februari 2010)

Kamis, 25 Februari 2010

melukat hasrat

menerbangkan asa
pada gugusan mega

menghembuskan cinta
dalam helaian kabut

membekukan rindu
dalam butiran hujan

dan, biarlah segalanya
mengalir menuju muara
pada lautan lepas,
tempat segala hasrat
berenang bebas
menuju samudra tanpa batas



(25 Februari 2010)

puja pada pagi buta

terbangun pada pagi buta
terbersit ingatan tentang magenta,
yang terlarang untuk dicinta
sebab ia telah bahagia dalam surga kecilnya

dan, pada pagi buta
kuterbangkan puja bagi magenta,
selalu damai dan bahagia dalam surga kecilnya
pun kuterbangkan puja bagi jiwa pengembara
menujumu, sang mahacinta


(25 Februari 2010)

Selasa, 23 Februari 2010

- no title -

you said,
i'm so stupid
waiting for a cupid
passing through into my eyelid

and i said,
you're so dull
playing games with a stupid doll
that you call Beauty Caroll


(23 Februari 2010)

Senin, 22 Februari 2010

perempuan yang berlayar tanpa sauh dan bidadari bersayap hitam

pada butir-butir peluh itu,
tak pernah kau simpan keluh
meski telah sering lelakimu selingkuh
di ranjang-ranjang penuh lenguh

dan, tetap kau melangkah angkuh
tak pernah sedikit pun jiwamu mengaduh
sedang tubuhmu terus berlayar tanpa sauh
mengarungi gelombang yang teguh
menggoyang perahumu dengan begitu riuh

duh, mengapa kau tetap begitu teguh
menyimpan lelaki yang gemar selingkuh
pada sudut hatimu, tanpa sedikit pun keluh

aaarrrggghhh !!!

lebih baik aku pergi menjauh atau lelaki itu kubunuh
dengan ujung-ujung jemariku yang kian melepuh
sebab mereka sedang haus ludira lelaki peselingkuh



(22 Februari 2010)

Minggu, 21 Februari 2010

biarkan aku terbang, sebab aku terlahir sebagai kunang-kunang

jalinan benang,
yang mengikat ruang sayang
di antara kita telah kupotong tadi siang
dan, kupakai menerbangkan layang-layang
di tanah lapang, tempat kita bertemu pandang

sebab telah kubuang segala kenang
tentang gelap jalan panjang,
yang membayang di belakang

sebab langkah-langkah kaki ini
milik masa depan, yang teramat sayang
bila dibuang tanpa berjuang

dan, kau tak perlu lagi membuang
segala rayu tentang sayang
sebab aku bukan lagi remaja belia,
yang masih percaya dusta bersemir cinta

maafkan aku, Sayang...
biarkan aku kembali bebas terbang
sebab aku terlahir sebagai kunang-kunang
dan, takdirku adalah memberi terang
bagi mereka yang merindu pulang



(22 Februari 2010)

doaku pada janji sucimu

janji suci telah terucap pagi ini
di antara kau dan sang bidadari
sedang aku hanya mampu merapal doa pada sunyi

sebab langkah-langkah kaki
telah memilih pergi
darimu, lelaki yang sempat menghuni hati
sebagai alunan melodi
pun elegi

semoga bahagia untuk kalian berdua,
pasangan bahagia penghuni surga


(21 Februari 2010)

tiga lelaki di luar jendela

1
tentang satu dari si kembar,
yang gemar mengumbar
kesenangan masa remaja
meski usiamu tak lagi belia

masih tentang satu dari si kembar,
yang masih gemar hura-hura
tercoret dari catatan jiwa
sebab kau belum pantas jadi tambatan jiwa

2
tentang si biru,
yang selalu kurindu
dari balik jendela kelasku
di balik kacamatamu

masih tentang si biru,
yang masih kurindu
meski waktu telah lama berlalu
sayang, hatimu tak merindu padaku

3
tentang si magenta,
pun terlihat dari balik jendela
yang gemar hura-hura
dan jadi pujaan banyak wanita

masih tentang si magenta,
yang masih menyimpan pesona
pada senyum dan tatap mata
sayang, jiwamu telah tertambat padanya

dan, tiga lelaki di luar jendela,
yang punya cerita istimewa
dalam sebuah bingkai jiwa
kini, tertinggal cerita semata
sebab aku telah menjelma pupa,
yang tergantung di ujung dahan pohon puja


(21 Februari 2010)

sisa mimpi buruk semalam

mentari pagi menjenguk malu-malu
pada jendela kamarku
sedang aku masih saja termangu
mencoba menghalau segala galau
tentang mimpi buruk itu,
yang mampir pada akhir lelapku

ah, mimpi buruk sialan !!!
tentang sisa pertengkaran semalam
padamu yang meragu
atas rindu yang menjelma belenggu
pada sekujur jiwaku
hingga langkah-langkah kaki
berkeras melangkah pergi
menyusuri jalan sunyi
untuk bertemu denganmu, belahan hati

dan, bila kau tetap tak peduli
pun masih saja memaki
padaku yang merindumu, belahan hati
lebih baik aku menjauh pergi
darimu, yang gemar ingkar janji
atas sebuah temu
sebab aku tak hendak mengiba padamu

selamat tinggal, belahan hati
semoga kita tak bertemu kembali
pada kehidupan ini atau nanti
sebab aku tak ingin lagi peduli
pada segala rasa ini



(21 Februari 2010)

Sabtu, 20 Februari 2010

kukirim madu sebagai balasan sembilumu

memulai pagi dengan doa segenap hati
tentangmu yang melontar caci
padaku, yang serupa tukang cetak roti
terucap dari bibirmu yang berduri

sebab aku tak ingin kembali
melontar caci padamu, yang aku kasihi
sebab kau adalah saudara bagiku
dalam menanam harapan
pun menuai impian
pada tahun-tahun mendatang
di tanah penuh belukar itu

sebab aku lebih suka mengirim doa
dengan segenap jiwa bagimu atau kalian,
yang telah mengirim duri atau caci
pada selubung hati

semoga jalanmu indah, saudaraku



(20 Februari 2010)

Jumat, 19 Februari 2010

ukiran janji pada batu-batu candi

batu-batu candi
tidak pernah lelah bersaksi
akan sebuah janji suci
antara dua hati
pun tentang sebuah ingkar janji
atas sebuah ikatan suci

dan, batu-batu candi
tetap setia memagari janji
akan sebuah pilihan hati
: sendiri dalam sunyi


(19 Februari 2010)

pesan dari berlin

sebelum langkah kaki
kau ayun pagi ini,
izinkan bibirku
mengecup keningmu
serupa tetes embun
mampir pada kening daun
di halaman rumahmu

pun izinkan lenganku
memeluk tubuhmu
serupa mentari
menghangatkan pagi
lewat jendela kamarmu

sebab akulah lelakimu,
yang tak pernah membiarkanmu
pergi dari singgasana hatiku


(19 Februari 2010)

Kamis, 18 Februari 2010

nostalgia lelaki magenta

menghirup malam romansa
dalam aroma bunga dan dupa
sembari menatap hangat tatap mata
pun senyum penuh pesona
darimu, lelaki magenta

dan, satu sudut hati bicara
duh, tatap matamu itu
serupa pemantik bagi lentera jiwa,
yang sempat padam pada badai lalu
sedang lengkung senyummu itu
serupa rintik hujan bagi ladang jiwa,
yang terserang kemarau pada musim lalu


sedang sudut hati yang lain bicara,
ah, ini sekadar nostalgia
sebab ia telah terikat janji suci
dengan seorang bidadari hati,
yang setia menunggu hadirmu
lelaki magenta, sang belahan jiwa

dan, aku memilih beranjak pergi
sembari berharap kau tak pernah tahu
bila ada sebentuk hati pernah memujamu
pada masa mudamu

sebab aku telah bahagia
dengan melihatmu bahagia
dalam surga kecilmu, lelaki magenta



(18 Februari 2010)

hujan rindu di kotamu

telah kuterbangkan rinduku
pada awan-awan kelabu itu,
biarlah angin membawanya berlalu
dan, menurunkannya sebagai hujan di kotamu



(18 Februari 2010)

rindu bertaut kabut

berteman dingin
menerbangkan ingin
dalam hembusan angin

menanam kalut
di antara akar-akar rumput
dan lindap kabut

ah, mengapa kau masih saja takut ?
mengungkap rindu yang tak henti bertaut
padaku, yang membuat hatimu tersundut



(17 Februari 2010)

penjara cinta (2)

telah begitu banyak pintu tanda,
yang tidak lagi mampu aku buka
dengan segala kunci semiotika

dan, aku pun tersesat dalam rimba,
yang kau sebut sebagai cinta
sedang aku menyebutnya sebagai penjara
sebab kau telah mendera begitu rupa
sebuah jiwa yang terluka
dengan luka-luka yang lainnya

bebaskan aku segera
dari penjara, yang kau sebut cinta
sebab aku masih penuh luka
sedang kau tak mampu menyembuhkannya



(16 Februari 2010)

sebab aku terlahir bebas

sangkar emas,
yang kau hias begitu rupa
tak akan pernah membuatku lemas
pun tersungkur di bawah telapak kakimu
hingga dunia lelah berlari
pada akhir waktu nanti

sebab aku terlahir bebas,
terbang ke mana saja kusuka
hingga waktu itu tiba
sebuah sarang nyaman,
yang terpintal dari benang-benang sayang
menungguku di Surga



(16 Februari 2010)

cinta idealis atau realis ?

sebab aku sedang terjebak
dalam sebuah kotak,
yang bertulis dilema pada sisinya

ketika kau tanya padaku
tentang sauh pada kapalku
aku atau dia ? begitu tanyamu

ah, ternyata simpang itu
benar-benar mengurungku
dalam lingkaran semu

dan, aku harus menentukan langkahku
menuju padamu, cinta idealis itu
atau menuju padanya, cinta realis itu

seperti pernah kita bincang-bincang
pada siang terakhir itu, Sayang
memang tak akan pernah sama
cinta idealis atau cinta realis
hingga aku memilih jalan lain, simpang ketiga
menjelma pupa dan pertapa
hingga tiba waktuku
menjelma kupu-kupu
dan terbang pada langitmu, kekasih-kekasihku


(15 Februari 2010)

suara itu, pengantar tidurku...

suara itu,
yang selalu mengantarku
rebah pada ranjangku
pun mengantarku
melupakan segala penatku

suara itu,
yang telah memanjaku
pun mengubah segalaku
serupa tetes-tetes embun
menyapa pada setiap pagiku

suara itu,
semoga tak sekadar nyanyi palsu
yang meninabobokan lantas berlalu
meninggalkan mimpi buruk serupa kisah-kisah lalu

ah, suara itu...
menjelma candu di telingaku



(15 Februari 2010)

Minggu, 14 Februari 2010

sebab aku adalah perawan suci

sebab aku adalah perawan suci
dengan wangi kasturi,
yang menarik hidung lelaki-lelaki
pun mengikuti langkah-langkah kaki
pada malam-malam sunyi

sebab aku adalah perawan suci
dengan segala caci maki,
yang keluar dari mulut istri-istri
pun menyumpahi diri tiada henti
di bawah terik mentari

sebab aku adalah perawan suci
dengan segala sanjung puji,
yang keluar dari mulut bayi-bayi
tak berdosa pun telah dibuang
pada pinggir-pinggir kali

sebab aku adalah perawan suci,
yang tak pernah peduli
pada segala caci maki pun sanjung puji
sebab jalan ini adalah bekal menuju abadi
pun bertemu dengan kekasih sejati
di altar Sang Mahasuci



(14 Februari 2010)

pada malam merah saga

ketika malam menjelma merah saga,
maka tiba waktu untuk terjaga
dan menyalakan beberapa batang dupa
dari merah lilin yang telah menyala sejak senja
sembari menerbangkan doa-doa
lewat asap-asap dupa
hingga mentari kembali terjaga
pada pagi buta

semoga kau bahagia di nirwana, nenek tercinta



(14 Februari 2010)

Sabtu, 13 Februari 2010

sebab cinta adalah cinta

sebab cinta adalah cinta,
yang seharusnya lahir tanpa karena
bagi segala makhluk di dunia

sebab cinta adalah cinta,
yang tak lekang masa pun usia
serupa ombak setia membasuh karang

sebab cinta adalah cinta,
yang tak perlu menunggu waktu
untuk melukisnya indah pada langitmu

sebab cinta adalah cinta,
yang tak perlu menunggu februari
untuk mengukirnya pada relung hati

sebab cinta adalah cinta,
yang selalu setia berdua bersanding luka
serupa sekeping uang logam dengan dua sisinya

sebab cinta adalah cinta,
yang mampu menorehkan segala luka
pun mampu menyembuhkan segala luka

sebab cinta adalah cinta,
yang selalu hadir dalam berbagai wujud dan rupa
serupa energi yang tak pernah musnah di setiap jiwa

sebab cinta adalah cinta,
ketika aku mencintaimu tanpa karena
dan kau pun mencintaiku tanpa karena

...selamanya



(14 Februari 2010)

cinta sejati lelaki penghuni puri

di balik pagar sebuah puri,
kau tak henti berlari
mencari cinta sejati
bersama empat peri,
yang setia mengiringi
ke mana langkahmu pergi

ah, mengapa kau masih mencari ?
pilih saja salah satu peri
sebagai belahan hati
sebab salah satu peri itu
sedang jatuh hati padamu

dan, kau masih saja berlari
mencari sang belahan hati,
yang pernah kau tinggal pergi
di antara rumpun mawar penuh duri

hingga pada sebuah pagi,
kau bertemu dengannya belahan hati
-sang putri- yang telah lama kau cari
dalam lari dan doa tanpa henti
sebab hanya pada -sang putri-
kau labuhkan segala cinta sejati,
yang kau miliki dalam relung hati

ah, benarkah itu cinta sejati ?
bila kau masih saja berdiam diri,
membiarkan -sang putri- sendiri
terkurung dalam sebuah kastil tinggi,
yang dikelilingi kawat berduri

bila -sang putri- memang cinta sejati,
yang telah lama kau cari selama ini
maka lekas bawa -sang putri- pergi
dari kurungan penuh ranjau berduri
sebelum -sang putri- menghilang kembali
serupa mimpi pergi ketika pagi menghampiri



(13 Februari 2010)

lampion merah di langit-langit rumah

senja ini, segala penjuru mulai berbenah. jemari menari cekatan membersihkan setiap sudut rumah. pun membuang segala tumpukan sampah. dan, mulai memerahkan rumah, tempat meredakan segala resah. pun tempat mengumpulkan segala remah. ah, ritual yang indah. semoga keberuntungan dan keselamatan tetap bersama kita, begitulah desah perempuan berpipi merah.

sepasang nenas merah telah tergantung di depan pintu rumah. sepasang lilin merah dan dupa telah menyala di atas altar ditemani beberapa sajian, menunggu sepasang naga menghampiri dan memberkati seluruh penghuni rumah, esok pagi. ketika mentari menyapa diri, membangunkan diri dari segala mimpi. dan, mulai melangkahkan kaki dan menarikan jemari demi mewujudkan sebuah mimpi.

hingga pada senja berikutnya, saat yang tepat melihat tarian naga pada langit senja yang memerah. dan, dua belas bintang mengikuti di belakangnya. pertanda musim itu akan segera tiba, di mana segala kebenaran dan kejujuran segera berhadapan dengan segala kelicikan dan kebohongan. dan, kita menunggu sang pemenang sejati di bawah pohon plum yang amat tua.



(13 Februari 2010)

patri janji

ketika janjimu telah kau patri
pada dinding-dinding hati
serupa relief pada batu-batu candi
maka lumut-lumut pun tak mampu menutupi

sebab aku terlahir sebagai Savitri,
yang setia menguntit Yamadipati
hingga nyawa Setiawan, suamiku kembali
dan mengiringi langkah-langkah kaki
untuk kembali menanam darma di muka bumi



(13 Februari 2010)

Selasa, 09 Februari 2010

senyum purnama

semalam, ketika aku terjaga
di luar jendela, bulan sedang purnama
dan, senyum purnama itu membawaku
teringat pada senyum terindahmu

ah, adakah kau sadar itu ?
senyum itu telah mencuri hatiku




(9 Februari 2010)

perpisahan di taman kota

senja tadi, di taman kota
kita berbincang berdua saja
berteman rinai, yang tak jua reda

kau bertanya tentang kisah kita,
yang tak jua bertemu sempurna
hingga waktu merantau tiba di depan mata

ah, kita ini memang sepasang
orang biasa di antara orang-orang tidak biasa

ya, kita memang terlalu biasa
menghadapi mereka yang tidak biasa
memperlakukan norma serupa dewa

ah, kita ini memang sepasang
orang tidak biasa di antara orang-orang biasa

ya, kita memang terlalu tidak biasa
menghadapi mereka yang biasa
menuhankan dunia sebagai segala

lantas bagaimana dengan kisah kita ?
sedang di luar sana, mereka menunggu akhir bahagia

di akhir senja, di taman kota
kita telah sepakat berkata pada mereka

bila akhir bahagia yang kalian pinta
maaf, akhir itu tak mampu jadi nyata
sebab akhir bahagia itu terlalu biasa, pasaran
serupa akhir dongeng-dongeng pengantar tidur,
yang sering dijejalkan pada masa kanak-kanak dulu


dan, kita berpisah setelahnya, di gerbang taman kota
kau pergi ke arah barat, sedang aku ke arah timur
sembari melihat langit, melihat Tuhan yang tak pernah tidur
tersenyum pada kita dari singgasana-Nya



(9 Februari 2010)

perempuan lugu, si pencuri hati

perempuan lugu,
yang tak pernah memoles gincu
pada bibir tipisnya yang merah dadu

perempuan lugu,
yang selalu menunduk di hadapanmu
pun tak punya nyali memandang matamu

perempuan lugu,
yang lebih gemar membaca buku
di antara riuh mulut teman-temanmu

perempuan lugu,
yang diam-diam telah mencuri hatimu
pun membuatmu menunggu dalam ribuan malam sunyimu

perempuan lugu,
yang hadir kembali di hadapanmu
melukis senyum pelangi pada lengkung bibirmu

perempuan lugu,
siapa gerangan dirimu ?
begitulah tanyamu, waktu itu


(8 Februari 2010)

melodi senja

masihkah tanya itu menjelma dalam ruang hatimu. tentang ke mana hati ini tertuju. bila segala rahasia telah kau kunyah seluruhnya. hingga pahit dan getir terasa pada pangkal lidahmu. sebab rahasia itu bukanlah madu, melainkan empedu, yang telah tersimpan sejak dua belas tahun lalu.

masihkah tanya itu perlu. bila segala airmata telah tertumpah di dadamu. tentang jejak-jejak kelabu, yang setia mengikuti langkah-langkah kakiku.

masihkah tanya itu ingin mencari jawab. tentang senyum sedingin salju, yang pernah kau pandang pada masa lalu. sebab segala kisah telah terkurung dalam hatimu, yang begitu pengasih. menunggu segala murung melarung pada tubuhmu, yang serupa bendung.

masihkah janji itu tetap saja kau tunggu terucap dari bibirku, yang telah membiru. sedang hatiku telah ada padamu. masihkah kau tak tahu tentang segalaku, kekasihku ?

sebab semalam, telah banyak kukisahkan padamu. tentang aku, yang telah menghuni kerajaan hatimu. meski tanpa kau sadari. pun segala kebiasaan burukku, agar kau menjauh dariku. sayang, kau tetap membayangku. serupa bayang-bayang yang setia menguntit langkahku.

dan, telah kau katakan padaku tentang segala rasamu. hingga kau bilang padaku bahwa bukan kebiasaan burukku, yang membuatmu terpuruk. melainkan bila aku melarangmu mencintaiku. begitulah eja bibirmu semalam padaku.

ah, betapa agung cintamu padaku. sedang aku tak mampu beri cinta yang sama padamu. sebab aku masih harus berdamai dengan ruang hatiku, yang masih saja menggemakan bara luka. sebab selama ini, aku selalu berkata pada hatiku untuk tak pernah berharap lebih pada kisah-kisah merah jambu itu. kisah-kisah yang telah melemahkan langkah-langkah kakiku. pun menghancurkan dinding-dinding hatiku.

dan, percakapan kita pada senja tadi telah menumbuhkan biji bunga matahari di ladang hatiku.


(7 Februari 2010)

perpisahan dalam selembar sasirangan

kau ulurkan jabat persahabatan. dan, aku tulus menerima dengan kedua tangan. kau tanyakan segala tentangku. dan, aku jawab tanpa ragu. hingga kau menusuk punggungku dengan selembar catatan penuh makian, yang kau bungkus dengan senyuman. ah, persahabatan macam apa yang kau tawarkan padaku. sebab jawabmu pun tak pernah kutelan. hanya selembar sasirangan tiba di beranda pada siangku, yang mungkin kau kirim sebagai tanda perpisahan.



(7 Februari 2010)

Sabtu, 06 Februari 2010

puja cinta

setangkai bunga puja
melekat pada daun telinga
serupa lingkaran cinta
setia menghuni jiwa



(6 Februari 2010)

Kamis, 04 Februari 2010

sebab kita adalah sahabat, selamanya

sebab kau adalah anjing yang setia,
menguntitku pergi ke mana saja
menjagaku dari segala bahaya
pun mencintaku tanpa karena

sebab aku adalah kuda yang gagah,
melangkah ke mana saja tanpa istirah
menunggu datangmu tanpa lelah
pun menyayangmu tanpa jengah

dan, kita adalah pasangan sempurna
untuk menaklukkan dua belas macan emas
dengan segala tipu daya yang tak terduga
di dalam rimba raya yang penuh jerat
pun muslihat, yang kadang tak terlihat

sebab kita adalah sahabat, selamanya
meski dalam wujud yang berbeda,
tetapi itulah yang membuat kita sempurna

sebab kita adalah sahabat, selamanya
tak hanya di dunia, pun di dalam surga



(5 Februari 2010)

tidur tanpa mimpi, semoga…

malam ini,
tak ingin kutidur berteman mimpi
hingga esok pagi
tak perlu lagi kukejar mimpi,
yang jadi bunga tidur malam ini

sebab langkah-langkah kaki ini
masih harus terus berlari
tanpa henti mengejar mimpi,
yang telah berbunga pada musim semi
di tahun lalu, tentang sebuah janji hati


(3 Februari 2010)

sebuah kisah tragis di februari yang manis

perawan gunung yang malu-malu
menunjukkan senyum pilu padamu,
sebab ia lebih suka mengguyurmu
dengan gerimis yang ritmis
di antara relung-relung hati yang mengais
pada ranting-ranting pakis

ah, perawan yang manis...
sayang, ia harus bertemu jejaka bengis,
yang gemar menenun tangis
pada mata perawan-perawan manis

dan, sebuah kisah cinta
telah berujung pada tragis
di februari yang manis


(3 Februari 2010)

sebab kau banci bermulut belati

/i/
bila kau anggap aku sebagai temanmu,
lantas mengapa aku selalu jadi sasaran kemarahanmu ?

bila kau anggap aku sebagai sahabatmu,
lantas mengapa aku selalu jadi sasaran hujatanmu ?

begitu pandai kau memutar lidah
dengan melempar segala salah
pun membuang segala amarah
seolah aku ini keranjang sampah

dan, aku masih diam terpaku
mendengar segala serapahmu

/ii/
kau hanya berpikir
tentang hatimu sendiri,
yang takut tersakiti kembali

dan, kau tak pernah berpikir
tentang hati yang lain,
yang telah kau sakiti berulang kali

sayang kali ini,
aku tak berdiam diri lagi
sebab aku bukan batu,
yang terus diam atas segala ludahmu
sebab aku bukan pengecut sepertimu,
yang segera membuatmu terlecut sekaligus terkejut

tunggu saja,
segala karma akan segera kau terima

/iii/
kau boleh saja berpongah diri
dengan harga dirimu yang terlalu tinggi,
seolah kau satu-satunya lelaki
yang hidup dan tertinggal di muka bumi

maaf, bagiku kau tak lebih dari
seorang banci bermulut belati
pun seorang pecundang
yang tak paham kasih sayang

bagiku, kau lebih pantas lompat ke jurang
atau terjun ke laut dari bibir karang
di pantai berpasir kulit-kulit kerang


(3 Februari 2010)

sebab aku telah bahagia

cinta yang kau eja
telah membuatku buta,
tak mampu menyulam kata
pun menenun makna
seperti biasa

pergi saja,
aku ingin kembali menatap dunia
dengan kedua mata
yang aku punya

sebab aku telah bahagia,
meski berjalan sendiri saja


(3 Februari 2010)

cinta dalam sepotong semangka

cinta itu datang memerah
pada bibir yang kian pucat
melewati kerongkongan yang tercekat

ah, nikmat !!!
begitu lidahmu mencecap
nikmat semangka memerah

sekejap saja,
menghapus dahaga
pada siang yang gerah

setelahnya, sirna
ketika senja menjelang
bibir itu kembali pucat
kerongkongan pun kembali tercekat

setelahnya, terkapar
kembali dalam sadar yang sepi
dengan suhu tubuh yang kian meninggi
pun nyeri menggigit di setiap sendi
dan relung hati

cinta dalam sepotong semangka
nikmat meski sesaat
telah membuatmu tersesat
pada ujung jalan bernama bencana

kau boleh beri sepotong semangka
pada siapa saja yang kau suka
kecuali aku, sebab aku
tak pernah tertarik pada semangkamu



(2 Februari 2010)

akukah itu ?

aku masih ragu
bukan padamu, tetapi padaku

akukah itu,
yang kau tunggu
dalam pencarianmu ?

maafkan aku, bila ragu itu
masih menyesaki rongga dadaku
hingga membuatmu
tak henti menenun biru
pada jalamu

akukah itu ?


(31 Januari 2010)

sebab bahasa adalah jiwa

sebab bahasa adalah jiwa



sebab bahasa adalah jiwa,
dari mulutmu terpancar segala
pun dari ujung jemarimu terukir rasa

sebab bahasa adalah jiwa,
dan kita adalah manusia berbahasa,
masihkah kau akan menggigit
dengan taring kata
pun mengalirkan bisa makna
ke dalam aliran darah si mangsa ?
serupa ular di sudut jendela
ketika hujan tiba di luar sana

sebab bahasa adalah jiwa,
dan aku tahu jiwamu serupa apa
ketika kau tak henti memaki dan mencela
di seberang lautan sana


(29 Januari 2010)

dalam sunyi, aku pergi

kau bilang rindu
padaku yang berhati batu
entah temu berbuah laku
sungguh, aku pun tak tahu

kau bilang sayang
padaku yang serupa bayang-bayang
entah gelap bertemu terang
sungguh, aku tak ingin melayang

kau bilang cinta
padaku yang telah lupa
entah ingat kembali dari alpa
sungguh, aku tak ingin meluka

dan, aku memilih pergi diam-diam
dari angka enam, yang terbenam
pada langit yang kian menghitam
tanpa sebuah pesan tertinggal
termasuk ucapan selamat tinggal


(28 Januari 2010)

di negeri itu

menunggu musim salju
'tuk mengikat rindu
sekokoh rimbun batu
di tepian pantai biru

aku dan kau
: satu


(28 Januari 2010)

pesan singkatmu

dan, aku termangu
membaca pesan singkatmu
: biarkan aku
tetap pada jalanku
tetap pada pilihanku

tak hendak aku menggores
luka padanya, yang telah setia
dalam jalan panjang penantian
berujung pada sempurna

pun tak hendak aku menggores
luka padamu, yang telah menunggu
sebuah temu setelah waktu
memisahkan segala laku

: biarkan aku
dalam labirin itu
hingga waktu bukan lagi milikku


(28 Januari 2010)

lumut dan rimbun batu

lumut tertimbun di atas kalpataru,
kalut yang mengharu biru
di antara rimbun batu


(26 Januari 2010)

sebab kau adalah lumut

sebab kau adalah lumut,
tumbuh di atas batu kalut
dan meremahkan segala takut

sebab kau bukanlah pengecut,
yang menggelinjang serupa belut
di sela-sela hamparan rumput

sebab kau adalah lumut,
yang lebih liar dari rumput
mampu menghancurkan segala takut


(25 Januari 2010)

sebab aku adalah aku, bukan kau

tak hendak kutulis puisi
dari sebuah luka hati
seorang lelaki,
yang mencintai sunyi

sebab aku menulis puisi
dari nyanyian-nyanyian hati,
yang menyenandungkan melodi

tak hendak kutulis kisah
dari sebuah dera jengah
seorang pemanah,
yang sedang istirah

sebab aku menulis kisah
dari derap langkah-langkah,
yang tak mengenal lelah

pun tak hendak kutulis cinta
dari sebuah dusta kata
seorang lelaki hina,
yang gemar main-main hati wanita

sebab aku menulis cinta
dari suara-suara jiwa,
yang jujur menyanyikan kidung-kidung cinta

dan, aku tak pernah peduli
pada segala cela dan cibir
dari bibir yang penuh satire
pun pada segala serapah
yang tak henti menyumpah
pada setiap ayunan langkah

sebab aku menulis,
menghindari hatimu yang bengis
pun matamu yang memandang sinis
meski mulutmu terlihat manis

sebab aku adalah aku
sedang kau adalah kau
tetap saja pada jalurmu,
dan aku pada jalurku

sebab pandang kita berbeda
memandang dunia yang sama
dan itu bukan dosa
karena memang seperti itulah dunia
penuh segala warna, yang mengenyangkan jiwa

(25 Januari 2010)

sebab kau, yang tersayang

menghitung sayang
pada perjalanan panjang
tentang kasih yang begitu lapang

ah, ternyata tak terbilang
pun hingga tak berbilang
membuatku ingin segera pulang
pada hatimu yang amat lapang
pun penuh cahaya terang
bagiku, yang pernah hilang

sebab kau,
bukan sekadar bintang terang
di langit malam, yang menghilang
ketika hari berganti terang

sebab kau,
bukan sekadar kunang-kunang
yang gemar terbang melayang
di antara gelap membayang

sebab kau,
bukan sekadar burung layang-layang
yang kembali ke sarang
ketika senja telah datang

sebab kau,
satu-satunya jiwa yang terpasang
di sebelah jiwaku yang pernah hilang

sebab kau,
yang tersayang
selalu tersimpan dalam ruang
dan tak akan pernah hilang


(24 Januari 2010)

melarung mendung

mendung menggantung
di langit yang bingung
dan, sepasang burung
masih saja murung
menunggu angin bertarung
menyingkirkan mendung

percaya saja,
mendung akan menyingkir segera
dari langit kita

dan, sepasang burung
masih menunggu mendung
: melarung
dari langit yang murung


(23 Januari 2010)

tentang mawar yang kau antar

ternyata mawar yang kau antar
ke depan pintu kamar
adalah yang paling mawar
di antara rimbun belukar
hingga aku melempar senyum tawar

ternyata duri yang kau tusuki
pada relung hati
adalah yang paling duri
di antara nyeri tersunyi
hingga aku tak ingin lagi bermimpi

setelah mawar dan duri,
apalagi yang hendak kau beri
pada perempuan bermulut sunyi ?



(22 Januari 2010)

lelaki yang menolak takluk

aku bukan seorang penakluk. tak hendak aku membuatmu tunduk. karena aku hanya seorang sahabat, yang tak rela melihatmu terikat dalam luka-luka penuh karat. dan, karat-karat itu telah melekat erat pada hati dan benakmu, hingga kau alami kebutaan hebat pada matamu yang hitam pekat.

dan, bila aku telah membuatmu suntuk. pun tak henti mengutuk bahwa perempuan itu busuk. dan, perempuan busuk itu pelan-pelan telah membuat hatimu takluk. maka, maafkan aku, sahabatku. tak hendak aku menambah kisah kelabu dalam langkah-langkah kakimu. pun lelah pada bidang bahumu.

aku akan pergi, februari nanti. dan, tak perlu kau cari. karena aku pun ingin sendiri. di sini, sampai nanti. sampai bumi ini lelah berlari.



(22 Januari 2010)

lelaki yang dibutakan luka

masih saja kau genggam uang logam itu,
ada cinta tergambar di sebelah sisi
sedang luka tergambar di sisi lain

pada simpang jalan,
kau lemparkan uang logam
sebagai penunjuk arah langkah
: luka atau cinta

ah, masihkah kau buta ?
karena luka-luka lama
yang telah membutakan jiwa
hingga kau tak mampu melihat beda
dari kilau yang kau kira sama
: emas atau tembaga

dan, luka-luka itu
telah membutakan mata hatimu


(22 Januari 2010)

getar itu masih ada

tak ada kata
tak ada tanda
tak ada makna
tak ada luka
tak ada dusta
tak ada gelak tawa
pun tak ada canda
seperti biasa

sayang, kita percaya
masih ada cinta dalam mata
yang tak pandai berdusta
pun dalam suara penuh getar
yang mengucap debar dalam dada


(22 Januari 2010)

penjuru itu dirimu

kau adalah barat,
tempat segala rasa melekat
dalam lindap yang memeluk erat

kau adalah timur,
tempat segala rasa meluncur
pun terucap segala jujur

kau adalah utara,
tempat segala rasa mendera
dalam rindu yang membara

kau adalah selatan,
tempat segala rasa tertawan
pun tujuan peristirahatan

kau adalah timur laut,
tempat segala tentang kalut
terucap jujur tanpa ribut

kau adalah barat daya,
tempat labuhan segala bahaya
pun segala cita tercipta

kau adalah barat laut,
tempat segala tentang takut
menghilang dari benak melumut

kau adalah tenggara,
sebuah tujuan akhir kembara
tentang sebuah cinta bermula

kau adalah penjuru,
tempat tertanam segala rindu


(22 Januari 2010)

lelaki yang membakar ikrar

api itu telah membakar
segala yang pernah terikrar
dan, janji setia hanya jadi sebuah makar
yang ternyata berujung pada ingkar

sedang kau masih saja terkapar
penuh luka bakar dari bahan bakar,
yang kau nyalakan dari hatimu yang penuh luka memar

entah, sampai kapan kau tahan pada ingkar
tentang segala luka memar
yang kau simpan dalam nyala damar
di sudut gelap kamar


(22 Januari 2010)

: sang pemanah

malam ini,
aku menjelma kabut
yang menemanimu menyingkap kalut

dan, esok pagi
aku menjelma embun
yang membasuhmu dari segala ngungun

hingga kau mampu
membalut segala luka
pun mengusir segala jengah
dalam langkah-langkah gagah
seorang satria pemanah,
meski tanpa busur dan anak panah

karena bagiku,
mata tak kasat mata milikmu
adalah senjata paling mematikan
dan menghujam ke dalam ulu hati
setiap musuh yang tak punya nurani


(21 Januari 2010)

sejati itu dirimu, sauhku

kau bilang,
tak pandai menulis puisi
pun tak pandai basa-basi
tetapi hanya padamu
kisah sejati itu berlabuh

karena kau adalah sauh
bagi sampan kecilku,
yang menghentikan pencarianku
akan sebuah dermaga
bagi sebuah bahtera cinta
: kita

hanya ada kau dan aku,
serta surga-Mu


(21 Januari 2010)

nyanyian hati di februari

dan, sebentar lagi
tiba Februari
pun tiba musim semi
tiba waktu mengikat janji
bagi kita, di kebun bunga matahari

dan, setelahnya kita berlari
meninggalkan segala nyeri
dari negeri yang begitu tuli
mendengar nyanyian hati

dan, setelahnya kita pergi
mencabuti segala duri
yang menusuki telapak kaki
demi mereka, anak-anak matahari
yang lahir dari rahim sunyi
perempuan yang tak lagi suci


(21 Januari 2010)

aku paham, aku pergi

tak pernah kutanam
bibit benci di palung terdalam
meski hitam matamu tak henti menghujam
penuh benci yang sembunyi di balik senyuman

sayangnya, aku sungguh paham
segala benci yang kau tanam
adalah racun terhitam yang harus kutelan
demi anak yang akan kau lahirkan

sayangnya, aku sungguh paham
pada segala rasa bencimu itu
karena aku punya hati yang mampu merasa bencimu itu
di ujung lidahku yang kian kelu

sayangnya, aku sungguh paham
pada segala tanda yang kau kirim padaku
lewat jari tengahmu yang kau acungkan di depan wajahku
karena aku tidak buta
untuk bisa mencerna segala tanda

sayangnya, aku sungguh paham
bila uluran persahabatan
yang aku ulurkan tulus padamu
telah kau balas dengan segala caci maki dan benci
pada sudut hati terdalamku

aku punya hati, aku paham telah kau benci
aku tidak buta, aku paham semua tanda
maafkan aku, tak hendak kupinta maaf padamu
aku hanya ingin ucapkan terima kasih atas segalanya
pun pada racun terhitam
yang harus kutelan malam itu


(21 Januari 2010)

lelaki yang setia pada luka (3)

pada malam itu,
setelah pergimu
kau masih menyimpan biru
yang terlukis pada senyummu

bagiku, senyummu palsu
membalut bilur-bilur rindu
pada ruang hatimu
yang terbungkus angkuh dirimu

dan, aku masih menunggu
rindu itu jujur tereja dari bibirmu
hanya untukku


(20 Januari 2010)

lelaki yang setia pada luka (2)

aku hanya punya bahu
untuk menampung tiap sedu
pun sepasang lengan
untuk menenangkan tiap ketakutan

aku hanya punya jemari
untuk menghapus tiap airmata
pun hati yang lapang
untuk memberi segenap sayang

dengan semua milikku itu,
mengapa kau masih saja ragu
untuk melangkah bersamaku ?

dengan semua milikku itu,
aku pernah balut segala lukamu
sayang, kau terlalu setia
pada luka yang ditorehnya
dalam jiwamu yang mencintanya


(20 Januari 2010)

lelaki yang setia pada luka (1)

setia pada dusta
pun luka menganga
tentang cinta
yang menggores jiwa

silakan nikmati saja
hingga jengahmu pada luka tiba
dan, aku menunggumu di surga


(20 Januari 2010)

ingkarmu

lembaran itu
mencatat luka baru
dalam dinding hatimu
sebuah kisah sendu
terulang pada langkahmu

dan, kau masih sama
tetap keras kepala
serupa karang terjal
yang patah dan terluka
di tepi pantai jiwa

sedang aku memandangmu
berusaha mengingkari kata hatimu
entah sampai kapan ?
mungkin sampai kau benar-benar kehilanganku,
gelombang laut yang setia
membasuh segala luka yang kau punya

dan, kita tetap sama
tetap terjebak dalam labirin yang sama
berputar-putar mencari jawab atas cinta
yang tak jua sempurna


(20 Januari 2010)

Liebe

segala tentangmu
mengalir dalam darahku
pun berdetak dalam jantungku

segala tentangmu
adalah hidup dan impianku
yang hanya satu

segala tentangmu
adalah aku tanpa ragu
hanya rindu dalam ruang kalbu


(19 Januari 2010)

belajar mencintaimu, belajar melupakannya

sempat kau bilang lupa namaku
meski kau bilang tak lupa wajahku
pun tak lupa pada wujud luguku
dan, aku bilang tak mengapa
aku telah terbiasa dilupakan siapa saja

setelahnya, kau mulai rajin mengenalku kembali
teman yang sempat kau lupakan itu
hingga kau bilang mulai rindu padaku
dan, kau bisikkan cinta padaku

aku hanya tersenyum
mendengar segala pengakuanmu
yang mungkin saja terburu rindu dan waktu

ketika kau tanya aku
tentang rindu yang sama padamu
pun tentang cinta yang sama padamu

maafkan aku bila tak mampu
beri rindu yang sama padamu
pun beri cinta yang sama padamu
karena aku bukan lagi temanmu yang lugu,
yang sempat kau lupakan itu

bila kau tanya padaku
tentang rindu
pun tentang cinta itu

maafkan aku,
karena aku masih belajar merindu
pun mencintaimu seperti milikmu

maafkan aku,
karena setengah hatiku
ada padanya, yang setia
dalam senandung novena
pun yang setia
dalam cinta tanpa karena

maafkan aku,
bila masih belajar merindu
pun mencintaimu seperti milikmu
sembari belajar melupa padanya
yang setia dalam cinta tanpa karena

maafkan aku,
bila jujur ini menyakitimu
dan menyakitinya

(19 Januari 2010)

sempurna, tetapi tak sempurna

sempurna,
tetapi tak sempurna
itulah kita

dan, tak ada sempurna
di dunia yang penuh norma
pun beragam dogma

sempurna hanya milik surga,
yang mampu tampung semua
bahkan segala warna
pun segala beda sesungguhnya
: Tuhan tak pernah buta
atas segala langkah makhluk-Nya

Tuhan tak pernah buta
tak henti aku percaya, itu saja


(19 Januari 2010)