Minggu, 11 November 2012

Telah terbit di LeutikaPrio !!!

Judul: Sekuntum Padma di Seberang Jendela
Penulis: Ririe Rengganis
Tebal: xii + 48 hlm
Harga: Rp. 22.100,-

ISBN: 978-602-225-525-3

Sinopsis:
sebab saya pernah mendengar cinta,
maka saya menikmati alunannya.
sebab saya pernah membaca cinta,
maka saya kemudian menuliskannya.
sebab saya pernah mengalami cinta,
maka saya mesti siap bila terluka.
sebab cinta yang menjadikan saya sebagai manusia,
maka saya tak hendak menghujat manusia lainnya.
sebab sekian catatan cinta dalam buku ini bukan catatan cinta biasa,
maka nikmati saja sampai halaman akhir tanpa mulut nyinyir atau mencibir.


ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox FB dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0819 0422 1928. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia.

Catatan Pengantar oleh Dhenok Kristianti (Gandhi Memorial International School)


Sekuntum Padma di Seberang Jendela mengangkat tema yang beda dari tulisan-tulisan Ririe sebelumnya. Kali ini dia berbicara cinta yang lebih berwarna; ada ironi, ada perayaan, ada galau. Cinta tak selalu dihadirkan semanis madu, tidak 'sesuci' a la abad jaya romantisme, tidak juga platonik, tetapi cinta yang bergerak, berjuang, dinamis. Rekaman mengenai pergeseran nilai cinta menjadi sebuah perayaan, jouissance, yang dipisah dari nilai dan norma seperti yang terjadi dalam lingkungan sosial saat ini juga digarapnya dalam buku ini. Begitulah saya menangkap suka duka cinta a la Ririe. Ya, ini versi Ririe bercerita cinta melalui puisi. Perihal yang lain nanti berproseslah, yang penting keep on writing yes, Rie! (Hat Pujiati, Pengajar Puisi di Jurusan Sastra Inggris Universitas Jember).

Membacai kata demi kata dalam Sekuntum Padma di Seberang Jendela rasanya seperti dibawa pada suatu kegelisahan yang sangat personal. Ririe menuliskan situasi manusiawi yang rumit dengan kata-kata sederhana, yang justru menghadirkan kejutan di sana-sini. Awesome!
(Greg Wuryanto, Kandidat Dr. Ing. Technische Universit├Ąt Berlin).

Saya senang membaca puisi-puisi Ririe Rengganis dalam Sekuntum Padma di Seberang Jendela, karena sarat dengan pengalaman batin. Penyair, dalam menulis puisi, tidak melepaskan dari pengalaman batinnya. Ririe Rengganis, sebagai penyair, saya rasa, menyadari akan hal itu. Yang lebih menyenangkan lagi, Ririe menyeleksi pengalaman batin yang ia miliki, sehingga puisinya menjadi penuh arti. (Ons Untoro, Penyair dan Pekerja Budaya di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta)
 
Membaca puisi-puisi Ririe Rengganis dalam Sekuntum Padma di Seberang Jendela, langit seperti ada dalam dekapan saya. Menyetubuhi luka, cinta, dan rindu hanyalah jalan milik orang-orang yang berani. Ririe mengeksplorasi ketiganya dengan cara yang begitu lembut, lirih, nyaris seperti bintang yang berpijar di kejauhan, tidak dengan suara tangis yang menjerit-jerit dan meratap hingga terdengar ke mana-mana dan membuat heboh. Akan tetapi, tanpanya langit tak akan bisa disebut malam. Membaca puisi-puisinya; pilihan irama dan diksinya membuat tubuh saya menggigil, perih, merasakan luka, cinta, dan rindu yang dituliskannya. (Evi Idawati, Sastrawati dan Ketua Imagination Space of Art and Culture (ISAC)).

Membaca Sekuntum Padma di Seberang Jendela seperti merasakah kasih tak sampai yang diungkapkan dengan indah. Kebahagiaan yang terselip dalam kesedihan begitu 'ngelangut' dalam rangkaian kata-kata yang lugas. (Titiek Tri Indri, Editor).

Kalaulah dunia ini berjalan tanpa cinta, apa hendak jadinya? Cinta adalah energi terkuat yang menggerakkan jagat raya, termasuk sisi lainnya: rindu, pula luka. Puisi-puisi yang terkumpul dalam Sekuntum Padma di Seberang Jendela pun, dimotori oleh energi terbesar itu. Membacai puisi-puisi Ririe Rengganis, seperti membaca di mana roda itu bergerak, lalu berhenti pada akhirnya. Dan di pemberhentian-pemberhentian itu, kita akan berkaca tentang luka, rindu, atau cinta, yang barangkali kita pernah menyecapnya. Seperti yang dimintai penulis buku ini, mari menikmati cinta tanpa nyinyir, tak perlu pula mencibir. Selamat menikmati! (Else Liliani, Ibu Rumah Tangga dan Pengajar Puisi di Universitas Negeri Yogyakarta).

Puisi-puisi Ririe Rengganis dalam Sekuntum Padma di Seberang Jendela ini kadang mengalun dalam imajinasi yang indah dan tiba-tiba menyentak, seperti mimpi yang terpenggal direnggut kenyataan, walaupun imaji tentangnya tak pernah pupus. Kita dipermainkan oleh buaian dan sentakan, yang menimbulkan rasa lengang dan gelisah. Ririe tak membiarkan gelombang rasa yang demikian memagut kita berlama-lama, rasionalitas dipersandingkan sebagai perimbangan dalam dialog atau bahkan pertentangan batin, yang kemudian menunjukkan perspektifnya, titik pijak dan posisi yang dipilihnya. (Zurmailis, pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang, Pendiri Kelompok Studi Sastra dan Teater NOKTAH).

Rabu, 11 Juli 2012

catatan terakhir untukmu

- Ririe Rengganis -




tak hendak aku menulis apapun lagi
sebab sekian tulisan ini hanya jadi duri
yang menusuki hati.

tak hendak aku meminta maaf
atas sekian khilaf
sebab aku tahu sekian maafku
tak akan mampu menghapus lukamu.

tak hendak aku memohon kau kembali
atas sekian kisah yang terbagi
sebab aku sedang menunggu mati.




(12 Juli 2012)

Selasa, 19 Juni 2012

pada jalan setapak di pinggir hutan


Oleh: Ririe Rengganis
 
perempuan-perempuan karangjati
berjalan beriring tanpa alas kaki
menghitung hari ini demi esok hari

lantas apa yang kau cari?
cinta sejati?
maaf, dia tak akan mampir hari ini.
 
(19 Juni 2012)

Rabu, 13 Juni 2012

rindu tak terbantah

 
Oleh: Ririe Rengganis
 
ternyata,
aku benar-benar mencintai hujan.
tak terbantah.

menunggu hujan
ketika kemarau betah
adalah rindu tak terkatakan.

menghujat tuhan
atau mengucap mantra?
agar kau tahu aku cinta.
 
(14 Juni 2012)
 

Selasa, 12 Juni 2012

bukan kisah cinderella




Oleh: Ririe Rengganis




aku tak percaya kisah cinderella.
sebab itu dongeng belaka,
di kehidupan nyata itu tak pernah ada.

lantas salahkah bila sekali saja
aku ingin bahagia
bersamanya?




(13 Juni 2012)

Jumat, 08 Juni 2012

menunggu purnama, menunggu moksa







Oleh: Ririe Rengganis


kemarin,
menunggu purnama
dengan sukacita.
sekian puisi cinta
tertulis serupa belia
dalam kutukan asmara.

purnama tiba,
dan aku menunggu moksa.



(8 Juni 2012)

Senin, 21 Mei 2012

sekuntum padma di seberang jendela



Oleh: Ririe Rengganis



satu pagi,
kulihat sekuntum padma
di seberang jendela.
melambai diam-diam.
menebar aroma cinta
dalam desir angin
ke penjuru semesta.

indah.

sayang, padma itu milik tetangga.



(19 Mei 2012)

Sabtu, 19 Mei 2012

empat belas kuntum krisan




Oleh: Ririe Rengganis



empat belas kuntum krisan.
untukmu. untuk kita,
yang telah berbeda.

empat belas kuntum krisan
pemanis kuburan.
tak sia-sia perjalanan sekian.

empat belas kuntum krisan.
untukmu. untuk kita.
perjalanan lain telah di pelupuk mata.



(20 Mei 2012)

pesan rahasia




Oleh: Ririe Rengganis



malam ini,
aku akan naik ke atas atap.
memetik bintang
dan menuliskan satu kata di atasnya.
menempelkannya kembali
ke langit malam.
berharap angin berhembus
dan membawanya padamu.
berharap satu kata itu
terbaca olehmu.



(17 Mei 2012)

Minggu, 13 Mei 2012

antara tuba dan cinta




Oleh: Ririe Rengganis



Dulu, aku pernah merasa dicintai.
Ternyata itu bukan cinta.
Hanya tuba.

Kini, aku merasa dicintai.
Hanya merasa.
Belum tentu juga.




(13 Mei 2012)

valium dan peluru




Oleh: Ririe Rengganis



gelas melompong,
cairan valium
baru saja terminum.

tersisa kosong.

enam peluru,
masih tersimpan
diam. menunggumu.




13 Mei 2012

Sabtu, 12 Mei 2012

rindu




Oleh: Ririe Rengganis



tiba-tiba aku rindu padamu
berbincang denganmu
tentang apa saja.

tiba-tiba aku rindu padamu
tersenyum bersamamu
tentang hal sederhana.

tiba-tiba aku rindu padamu
memandang matamu.
itu saja.



(7 Mei 2012)

Sabtu, 14 April 2012

perempuan yang mencintai hujan




Oleh: Ririe Rengganis



aku mencintaimu
seperti aku mencintai hujan.
bermain, menari, tertawa
di bawah rintikmu.

aku mencintaimu
seperti aku mencintai hujan.
menangis dan mengadu
dalam derasmu.

aku mencintaimu
seperti aku mencintai hujan.
setia menunggumu,
bila kemarau tiba.



(14 April 2012)

Selasa, 20 Maret 2012

aroma dusta



Oleh: Ririe Rengganis



sudah terlalu banyak dusta terlontar dari bibirmu. sementara aku membaca sekian dusta dari dua matamu itu. sekian dusta lain aku baca dari gerak tubuhmu. sekian dusta yang lain terdengar dalam ratapanmu.

Stop! aku tidak ingin mendengar atau melihatmu lagi di jalanku.

pergi saja ke kamarmu. pergilah ke sudutnya. tidak ada orang lain yang sanggup menyembuhkan penyakitmu itu. mulailah bertanya pada nuranimu: untuk apa kau lakukan semua? bukankah dusta itu penyakit tanpa obat? sebab sebuah dusta akan bersambung dusta yang lain pula. akankah kau hidup bersama dusta selamanya? entah sampai kapan kau sanggup memikul beban dustamu. entah sampai kapan kau sanggup dibelit sulur-sulur dustamu.

ah, satu-satunya hal paling alami yang pernah kutemui itu ternyata kau dan sekian dustamu. benar-benar alami. tanpa bahan pengawet. mudah busuk bila disimpan terlalu lama. maaf, aku tidak sanggup menghirup aroma dustamu lagi.



(21 Maret 2012)




Kamis, 15 Maret 2012

another tears


another tears

Oleh: Ririe Rengganis



air mata itu tumpah lagi. ketika dengan berat hati, mulut mesti berucap kisah ini berakhir. ini bukan tentang keraguan padamu, yang telah sekian belas tahun menunggu. ini bukan tentang cinta belia, yang mungkin tidak pernah ada dalam diriku. ini tentang aku, yang mesti menyelesaikan perjalanan sendiri. sebab kutukan itu telah diukir dalam aliran darahku. sebab kutukan itu telah diukir dalam namaku. sebab kutukan itu telah tertulis dalam jalan kisahku.

ya, sejuta kutukan itu memang mesti aku tuntaskan sendiri. sejuta kutukan untukku, yang kelak kuubah sebagai pengubah jalanmu, anak-anakku. sebab kalian berhak hidup lebih baik, ketika zaman makin kejam menghajar tubuh kalian.

ya, sejuta kutukan itu mesti aku telan sendiri. mengunyahnya diam-diam. dan kelak memuntahkannya sebagai bunga-bunga di taman. tempat kalian bercanda dengan seribu kupu-kupu di musim semi yang baru.



(15 Maret 2012)

Sabtu, 21 Januari 2012

kisah dalam secangkir kopi




Oleh: Ririe Rengganis



kemarin,
terlalu banyak tawa terlontar.
seolah esok airmata
tak akan tumpah.

hari ini,
terlalu banyak airmata mengalir
seolah esok tawa
tak pernah ada.

sungguh,
tawa dan airmata
teraduk dalam cangkir kopi.
pahit menggigit.

sungguh,
aku tersiksa! lantas
siapa hendak menambal
hati yang retak karenamu?



(20 Januari 2012)

Rabu, 18 Januari 2012

angan terkoyak




Oleh: Ririe Rengganis



angan tentangmu
mesti berakhir,
sebelum bertemu pagi.

sebab sayap ini
telah koyak,
sebelum sampai padamu.



(15 Januari 2012)

memandangmu di balik jendela




Oleh: Ririe Rengganis



pandang mata sempat bertemu,
tetapi aku mesti menundukkan pandangku
padamu yang telah mencuri sebagian hati
dengan senyum manismu.

aku mesti tahu di mana batasku.
sebab aku bukanlah mereka,
bunga-bunga menawan pemikat kumbang.
sebab aku bunga rumput liar.

biarlah aku memandangmu di kejauhan
dan menyimpan rahasia ini seorang diri saja.
sebab aku belum lagi siap bila mesti terluka
untuk ke sekian kalinya.



(15 Januari 2012)

tentang nama yang tak boleh disebut




Oleh: Ririe Rengganis



aku tak tahu lagi bagaimana mesti mengeja namamu. nama yang tak boleh disebut dalam rumahku. nama yang serupa duri menusuk gendang telinga ibuku. nama yang serupa sembilu yang mengiris hati ibuku. nama yang serupa debu mengusik penglihatan ibuku.

aku tak tahu lagi bagaimana mesti mengeja namamu. nama yang begitu biru dalam setiap catatan. nama yang begitu beku mengendap dalam ruang hati. nama yang tersebut diam-diam di alam bawah sadar.

sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana mesti mengeja namamu. meski aku ingin mengeja namamu serupa nafas yang tereja dalam hidupku.



(13 Januari 2012)

Selasa, 03 Januari 2012

kisahmu, kemarin.

Oleh: Ririe Rengganis


pada beku airmatamu,
aku temukan rindu
tak tersampaikan
pada tuju.

pada kelu lidahmu,
aku dengar parau
tentang cita
pada satu.

pada diam tubuhmu,
aku lihat gelombang
cinta membuncah
hanya padaku.



(3 Januari 2012)

Minggu, 01 Januari 2012

Januari50K: Pelahap


Mozaik 1


Lelaki itu sungguh hebat. Tubuhnya kurus dan terlihat lemah tanpa daya, tetapi ia mampu melahap apa saja yang ada di depan matanya. Iya, ia melahap apa saja. Tembok bangunan, meja, kursi, papan tulis, spidol, kertas, uang, bahkan manusia.

Pagi itu masih amat sepi di ruangan kantor. Aku duduk sendiri menghadap laptop, menyelesaikan sebuah laporan yang harus diserahkan pada atasan secepatnya meski tidak harus diserahkan hari ini. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Waktu terus berjalan dan ruang kantor masih saja sepi.

Menjelang tengah hari, lelaki itu masuk ke dalam ruang kantor. Dengan senyum ramah, ia menyapa. Bertanya tentang kabar. Sedikit berbasa-basi padaku. Basa-basi yang juga kubalas dengan basa-basi tanpa memindah pandangan mataku dari laptop. Tanpa memindah jemari yang sedang menari di atas keyboard. Sebab bagiku, basa-basi lelaki itu benar-benar basi. Dan, aku punya panggilan untuknya, Lelaki Basi.

Sejenak kemudian, seorang lelaki lain masuk ke dalam ruang kantor. Lelaki belia, usianya mungkin masih saja belasan. Membawa map dan menyerahkan pada Lelaki Basi itu.

“Bapak, bisa minta tanda tangan? Untuk pengurusan beasiswa.” kata Lelaki belia itu.

“Beasiswa? Memang selama ini Anda termasuk mahasiswa berprestasi? Apa saja prestasi Anda, Saya ingin dengar.” Lelaki Basi itu terlihat angkuh.

Aku melihat lidah Lelaki Basi itu menjulur. Lidahnya bercabang serupa lidah ular. Aku melihat lidahnya mulai menjilati keringat Lelaki belia yang sedang menjelaskan prestasinya selama ini. Lelaki belia itu pun sedang menjelaskan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sebab ayahnya hanya bekerja sebagai buruh tani di sebuah desa di daerah pantai utara. Sebab ibunya hanya bekerja di rumah sebagai pembuat gorengan yang dijual keliling kampung. Sebab ia masih memiliki dua orang adik yang masih perlu disuapi. Sebab ia sendiri harus bekerja sembari kuliah untuk membayar uang kos dan kebutuhan kuliah lainnya.

“Prestasi Anda, bolehlah. Bagus itu, tetapi apakah Anda selama ini dekat dengan Saya?” Lelaki Basi itu bertanya lagi.

“Apakah pengurusan beasiswa itu juga mensyaratkan kedekatan antara mahasiswa dengan Bapak?” Lelaki belia itu balik bertanya pada Lelaki Basi.

“Jelas itu. Anda boleh dikatakan cerdas secara intelektual, tetapi di mata saya Anda tidak cukup cerdas sebab Anda tidak pandai mengambil hati Saya. Tidak pandai menyenangkan saya.” Lelaki Basi itu masih saja terlihat angkuh.

Aku melihat lidah Lelaki Basi itu mulai menjilati kertas di atas mejanya. Kertas formulir beasiswa yang seharusnya ditandatangani agar mahasiswa itu bisa mendapat beasiswa yang menjadi haknya, sebab ia memang berprestasi akademik bagus dan ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Kertas itu basah. Huruf-huruf di atas kertas itu meleleh memenuhi meja. Dan, Lelaki Basi itu memunguti lelehan huruf-huruf itu dengan lidahnya. Lidah bercabang serupa ular.

“Anda boleh kembali pada saya tahun depan untuk tanda tangan saya. Dan, selama setahun penantian itu, Anda tunjukkan pada Saya bagaimana menyenangkan Saya.” Lelaki Basi itu mengakhiri pembicaraan.

Lelaki belia itu meninggalkan ruang kantor dengan lunglai. Pupus sudah harapan untuk mendapatkan beasiswa tahun ini. Sebab ia tidak cukup pandai menyenangkan hati Lelaki Basi selama ini.

Aku melihat Lelaki Basi itu mulai menjilati meja dan kursi. Menelannya. Masing-masing satu. Menjilati tumpukan kertas di atas meja. Menelannya. Selembar demi selembar. Ketika seorang Lelaki setengah baya memasuki ruang kantor, ia menghentikan aktivitasnya menjilati segala isi ruangan. Lelaki setengah baya itu atasanku. Atasan Lelaki Basi itu. Atasan kita yang bekerja di ruang kantor ini.

“Bagaimana persiapan penyambutan tamu dari Jakarta minggu depan?” tanya Atasanku itu padaku.

“Tinggal beberapa hal saja, Bapak. Semua sudah beres.” jawabku singkat.

Aku menyerahkan beberapa lembar kertas pada Bapak Atasan. Ia membaca dengan cepat dan membubuhkan beberapa tanda tangan di atas beberapa lembar kertas. Beberapa lembar kertas hasil kerja kami, aku dan beberapa teman lain yang sampai harus bermalam di kantor ini, minus Lelaki Basi itu tentunya.

“Oya, Pak. Tolong diatur penjemputan tamu dari Jakarta minggu depan ya.” Bapak Atasan meminta Lelaki Basi itu menjemput tamu agung dari Jakarta yang akan datang berkunjung minggu depan.

Ya, kunjungan tamu agung. Bagaimana tidak agung bila kelangsungan kantor ini ditentukan oleh hasil kunjungan minggu depan atau kami semua akan mendapat malu atas kinerja yang telah terbangun selama ini. Kinerja pendidik yang seharusnya mencerdaskan anak-anak bangsa dengan baik. Kinerja pendidik yang seharusnya tidak bercampur dengan kepentingan politik. Kinerja pendidik yang seharusnya tidak dipenuhi bermacam intrik.

*****
(688 kata)