Selasa, 08 September 2009

balada penjaja cinta

menjejakkan kaki kembali di kotamu
setelah sekian tahun lalu, ku tinggalkan dirimu
dengan selembar surat bersampul ungu
di depan pintu kamarmu
sungguh, tiada niat untuk menyakitimu
dan aku tak pernah berpamitan padamu

menjejakkan kaki kembali di kotamu
melihatmu kembali di hadapanku
masih sama seperti dulu, enam tahun lalu
ketika semua mata perempuan tertuju padamu
dan aku malah memalingkan pandanganku
karena kau terlalu indah untuk mataku

paras tampanmu
kulit putihmu
mata indahmu
sempurna tubuhmu
pahatan terindah itu dirimu
dan aku selalu menghindari tatapanmu
biarlah para perempuan memujamu

hingga satu malam, kau mengetuk pintuku
berlutut di depanku dengan tersedu
entah ada apa gerangan denganmu
aku hanya bisa menunggu tangismu mereda
itu saja
tak ada niat memberimu pelukan
sekadar untuk meredakan tangismu

hanya ku berikan sekotak tisu padamu
"ada apa gerangan?" tanyaku
dan kau mulai bercerita tentangmu
segalanya, tak ada lagi rahasia
entah mengapa kau pilih aku
sebagai pendengarmu, malam itu

kau bercerita tentang kampungmu
kau bercerita tentang ibumu
kau bercerita tentang adik-adikmu
kau bercerita tentang perempuan-perempuanmu
dan aku mendengarmu
biarlah ini menjadi rahasia bagiku

malam itu, aku tahu satu hal tentangmu
perempuan-perempuan itu memuja wujudmu
bukan hatimu, hati setipis kertas tisu

malam itu, aku tahu satu hal tentangmu
kau menjual tubuhmu demi adik-adikmu
kau menjual tubuhmu, bukan hatimu

malam itu, aku tahu satu hal tentangmu
perempuan-perempuan itu sekadar kamuflase
untuk membuatku cemburu
dan aku terbahak mendengar pengakuan terakhirmu
ups, maaf, bukan maksudku

malam itu, ku katakan padamu
aku memang mengagumimu, bukan cemburu
mengagumi track record-mu
daftar perempuan-perempuan yang mengitarimu
sementara aku, bukan apa-apa di matamu

malam itu, kau katakan padaku
kau mengagumiku, ingin membuatku cemburu
dengan segala sepak terjangmu
juga perempuan-perempuan itu

malam itu, ku katakan padamu
aku bukan perempuan seperti itu
dan tak dilahirkan untuk cemburu

malam itu, kau berikan janjimu
setelah usai tugasmu membesarkan adik-adikmu
kau tinggalkan duniamu
kau tinggalkan perempuan-perempuanmu
untuk menjadi milikku

malam itu, aku hanya membisu
entah mengapa
semua kata-kata tertelan di kerongkonganku
ketika kau berlutut di hadapanku

setelah malam itu
kita jalani sebuah kisah abu-abu
demi dirimu, demi diriku

setelah malam itu
kita selalu bertemu di sudut perpustakaan
berbagi cerita tentang dunia kita

setelah malam itu
kita serupa kupu-kupu
terbang bebas ke mana pun kita mau

menjejakkan kaki kembali di kotamu
segalanya masih sama dalam pandanganku
kau masih ada di sana
menjajakan cinta demi mereka
orang-orang yang kau cinta
sepenuh jiwa

menjejakkan kaki kembali di kotamu
dan aku masih bisa memandangmu
dari seberang kamarmu
dengan senyumku






(8 September 2009)

Tidak ada komentar: