Minggu, 25 Oktober 2009

mawar putih

: untukmu



dalam ruangan serba putih,
kau merawatku penuh kasih
pun tanganmu tak pernah jirih
menampung ceceran muntah dari mulutku
menghapus aliran darah dari hidungku
menghapus tetes keringat dari tubuhku

ah, entah kapan aku mengenalmu dulu
ketika serangan pertama datang padaku
enam tahun lalu,
kau masih seorang dokter muda waktu itu
terlalu banyak bertanya tentang ini itu padaku
sembari tak lupa mencandaiku
tentang perawat-perawat yang nyinyir padaku
atau mencandaiku tentang tubuhku
kian menggelembung setelah terapi pertamaku

pun ketika waktu telah berlalu,
kau masih saja ada untukku
setiap serangan itu datang padaku
dan, malam ini adalah malam ke sekian
kau terjaga untukku
menjaga stabil suhu tubuhku
agar tak sia-sia cairan kimia itu dalam darahku

ah, mengapa kau begitu kasih padaku ?
masihkah kau simpan kasihmu itu untukku ?
sedang aku telah memintamu membuangnya dulu

maafkan aku,
aku pun mengasihimu, amat mengasihimu
sayang, aku pun tak ingin menyakitimu
aku ingin melukis senyum di bibir indahmu
aku ingin melukis pelangi di ruang hatimu

tak ingin ku lukis sungai di kedua mata indahmu
tak ingin ku lukis mendung di ruang hatimu
kelak, ketika telah tiba waktuku

maafkan aku,
biarlah kau hidup dalam hatiku
menjadi pengingat dan penyemangatku
tanpa perlu kau hidup dalam nyataku
di luar sana, masih banyak perempuan sempurna
yang sanggup berimu bahagia

maafkan aku,
kau tetaplah kekasih hatiku
kau tetaplah mawar putihku
hingga kelak tiba waktuku






(25 Oktober 2009)

Tidak ada komentar: