Sabtu, 24 Desember 2011

Malam Natal yang Lain




Oleh: Ririe Rengganis



Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Malam ini aku melihatmu kembali memimpin misa di gereja kecil di pinggir kota. Tatapan mata yang sama dengan belasan tahun lalu. Bahkan aku masih dapat melihat tatapan mata itu dari bangku paling belakang di gereja.

Lepas misa, beberapa gadis belia menghampirimu. Bahasa tubuh yang terbaca dari mata ini: mereka datang untuk menggodamu dengan alasan ingin diberkati olehmu. Aku tersenyum melihat mereka. Aku tersenyum melihatmu melayani mereka dengan sopan. Memang begitulah seharusnya, menggembalakan mereka memang memerlukan kesabaran lebih.

Lepas misa, kita pulang bersama. Menyusuri jalan itu. Jalan yang masih sama dengan belasan tahun lalu. Aku melihat tatapan mata itu, harapan itu masih ada. Entah kapan harap itu bukan sekadar harap. Kita saling bicara, meski mulut kita tidak pernah terbuka.

Negeri ini masih saja menolak jalan kita. Haruskah kita terbang ke negeri tetangga untuk menyatukan mimpi?

Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Itu saja. Lantas mengapa kita mesti peduli pada negeri ini? Negeri yang mengajari mencaci yang lain, tetapi sering kali melupakan daki di tengkuk sendiri.

Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Tidak ada yang salah. Biarkan saja mulut-mulut mereka berserapah. Toh, kita tidak akan menyerah. Pada segala yang telah tersimpan di dalam hati selama belasan tahun ini. Belasan tahun selanjutnya. Pun puluhan tahun mendatang. Hingga kita berdua menutup mata bersama.

:Bahwa Tuhan itu satu.



(24 Desember 2011)

Tidak ada komentar: