segala sanjung itu
bukan milikku
dan, aku tundukkan hati
hanya pada-Mu
(27 Desember 2009)
Hidup itu pilihan, bergantung pada isi kepala dan hati Anda dalam menjalaninya (Ririe Rengganis).
Minggu, 27 Desember 2009
kau, yang dulu dan kini
dulu, kau hanya penduduk di ujung negeri
yang tak tersentuh teknologi
dalam langkah tertatih
menuju kota, mencari tenar
kini, kau adalah pesohor negeri
tetap saja kau perlu rendah hati
dan, itu tak akan membuatmu
rendah di mata yang lain
justru itu akan membuatmu tinggi
pun bernilai di mata yang lain
begitu sulitkah bagimu
menjadi rendah hati
seperti pernah diajarkan ibu
semasa kecil dulu ?
mata lain mungkin bisa kau tipu
sayang, tidak dengan mataku
bagiku, kau hanya ingin
mengingkari masa lalumu
yang kelabu, di sudut desa itu
(27 Desember 2009)
yang tak tersentuh teknologi
dalam langkah tertatih
menuju kota, mencari tenar
kini, kau adalah pesohor negeri
tetap saja kau perlu rendah hati
dan, itu tak akan membuatmu
rendah di mata yang lain
justru itu akan membuatmu tinggi
pun bernilai di mata yang lain
begitu sulitkah bagimu
menjadi rendah hati
seperti pernah diajarkan ibu
semasa kecil dulu ?
mata lain mungkin bisa kau tipu
sayang, tidak dengan mataku
bagiku, kau hanya ingin
mengingkari masa lalumu
yang kelabu, di sudut desa itu
(27 Desember 2009)
Sabtu, 26 Desember 2009
malam itu, ketika kau tanya aku (4)
biarkan aku terbang
tanpa bimbang atau benang
pengikat sayap
dalam sebuah atap
maaf, aku belum siap
(27 Desember 2009)
tanpa bimbang atau benang
pengikat sayap
dalam sebuah atap
maaf, aku belum siap
(27 Desember 2009)
senja yang setia
mentari pagi
tak lagi menjenguk hari
dan, hanya senja
begitu setia
menemani luka
(26 Desember 2009)
tak lagi menjenguk hari
dan, hanya senja
begitu setia
menemani luka
(26 Desember 2009)
malam itu, ketika kau tanya aku (3)
pernah aku terjebak cinta buta
hingga aku lupa pada logika
pun terjerembab pada lubang terdalam
melahirkan serapah yang tak sudah
membawaku pada jengah
yang amat resah pun lelah
sungguh, kini aku telah beda
bukan lagi belia
yang pernah kau kenal
pada masa remaja
tak mudah bagiku,
terjatuh pada cinta yang sama
apalagi yang buta
tanpa kalkulasi logika
kau boleh bilang apa saja
tentang diriku, yang mati rasa
atau apa saja yang kau suka
maaf, aku hanya waspada
karena enggan kembali terluka
oleh cinta yang sama
(26 Desember 2009)
hingga aku lupa pada logika
pun terjerembab pada lubang terdalam
melahirkan serapah yang tak sudah
membawaku pada jengah
yang amat resah pun lelah
sungguh, kini aku telah beda
bukan lagi belia
yang pernah kau kenal
pada masa remaja
tak mudah bagiku,
terjatuh pada cinta yang sama
apalagi yang buta
tanpa kalkulasi logika
kau boleh bilang apa saja
tentang diriku, yang mati rasa
atau apa saja yang kau suka
maaf, aku hanya waspada
karena enggan kembali terluka
oleh cinta yang sama
(26 Desember 2009)
empedu dan madu
empedu itu,
masih ada di genggamanku
sisa luka lalu
meski madu telah mengalir
pada bibirku
dan, aku tak punya hati
bila harus beri empedu itu padamu
biarlah, aku simpan luka lalu
sendiri, untukku
tak perlu kau tahu, Sayangku
tak hendak aku beri empedu,
padamu yang begitu lugu
menunggu dalam rindu
tak hendak aku beri empedu,
padamu yang mengukir senyumku
kala jenuh membelenggu
hisap saja madu pada bibirku
sepuas hatimu, sesuka dirimu
karena hanya itu yang mampu
sebagai penebus rindumu padaku
(26 Desember 2009)
masih ada di genggamanku
sisa luka lalu
meski madu telah mengalir
pada bibirku
dan, aku tak punya hati
bila harus beri empedu itu padamu
biarlah, aku simpan luka lalu
sendiri, untukku
tak perlu kau tahu, Sayangku
tak hendak aku beri empedu,
padamu yang begitu lugu
menunggu dalam rindu
tak hendak aku beri empedu,
padamu yang mengukir senyumku
kala jenuh membelenggu
hisap saja madu pada bibirku
sepuas hatimu, sesuka dirimu
karena hanya itu yang mampu
sebagai penebus rindumu padaku
(26 Desember 2009)
malam itu, ketika kau tanya aku (2)
bagaimana mereka bisa membaca
susunan aksara asmara
di antara kita ?
dan, jawabku :
tak perlu seorang jenius,
membaca susunan aksara asmara
yang meluncur mulus
dari hatimu yang setipis lakmus
(26 Desember 2009)
susunan aksara asmara
di antara kita ?
dan, jawabku :
tak perlu seorang jenius,
membaca susunan aksara asmara
yang meluncur mulus
dari hatimu yang setipis lakmus
(26 Desember 2009)
pada malam hening
mereka bilang,
kita adalah pasangan sempurna
punya segala dan cinta
biarkan mereka,
anggap saja sebagai doa
bagi langkah kita
yang tak jua bertemu sempurna
mereka bilang,
kita adalah pasangan sempurna
serupa tuan dan nyonya
begitulah sapaan mereka pada kita,
dan, kita hanya tersenyum saja
biarkan mereka,
anggap saja sebagai doa
bagi langkah kita
yang tak jua bertemu sempurna
mereka bilang,
kita adalah pasangan sempurna
biarkan saja
dan, biarlah hanya kita
menikmati luka atas cinta
yang tak jua bertemu sempurna
pada langkah-langkah berbeda
dan, biarlah hanya kita
menikmati semua tanpa dusta
dalam pelukan dan satu ciuman di kening
pada malam hening
sama seperti malam-malam hening yang lain
(24 Desember 2009)
kita adalah pasangan sempurna
punya segala dan cinta
biarkan mereka,
anggap saja sebagai doa
bagi langkah kita
yang tak jua bertemu sempurna
mereka bilang,
kita adalah pasangan sempurna
serupa tuan dan nyonya
begitulah sapaan mereka pada kita,
dan, kita hanya tersenyum saja
biarkan mereka,
anggap saja sebagai doa
bagi langkah kita
yang tak jua bertemu sempurna
mereka bilang,
kita adalah pasangan sempurna
biarkan saja
dan, biarlah hanya kita
menikmati luka atas cinta
yang tak jua bertemu sempurna
pada langkah-langkah berbeda
dan, biarlah hanya kita
menikmati semua tanpa dusta
dalam pelukan dan satu ciuman di kening
pada malam hening
sama seperti malam-malam hening yang lain
(24 Desember 2009)
pada simpang jalan-Mu
begitu banyak tanya,
yang tak hendak kutanya
pada-Mu yang selalu setia
hingga aku tiba
pada persimpangan tanpa rambu
atau memang aku yang tak mampu
membaca rambu-Mu
malam ini,
adalah malam-malam yang sama
dengan tanya yang sama :
dari tulang rusuk siapa
telah Kau ciptakan aku ke dunia ?
tulang rusuk dia,
atau dia
atau dia
atau dia
itu saja,
tanyaku pada-Mu
tunjuk saja rambu-Mu
dan, aku segera menepi dari perjalananku
(24 Desember 2009)
yang tak hendak kutanya
pada-Mu yang selalu setia
hingga aku tiba
pada persimpangan tanpa rambu
atau memang aku yang tak mampu
membaca rambu-Mu
malam ini,
adalah malam-malam yang sama
dengan tanya yang sama :
dari tulang rusuk siapa
telah Kau ciptakan aku ke dunia ?
tulang rusuk dia,
atau dia
atau dia
atau dia
itu saja,
tanyaku pada-Mu
tunjuk saja rambu-Mu
dan, aku segera menepi dari perjalananku
(24 Desember 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)