: untuk lelaki di masa lalu
malam ini,
telah kuhapus namamu dalam setiap jejakku....
esok,
akan kuhapus dirimu dalam setiap catatan hatiku....
lusa,
akan kuhapus wujudmu dalam setiap ingatanku....
dan, kutinggalkan dirimu
dengan angkuhmu,
selamanya....
semoga berbahagia
dengan cinta barumu....
Hidup itu pilihan, bergantung pada isi kepala dan hati Anda dalam menjalaninya (Ririe Rengganis).
Tampilkan postingan dengan label Untuk GDK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk GDK. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 April 2009
Senin, 09 Februari 2009
Lelaki Ular
untuk gdk
lelaki itu ular
lidahnya sama berbisa seperti ular
datang mengendapendap
muncul di hadapan tanpa suara
sembari menghembuskan racun dari mulutnya
dengan lidah menjulur
membelit hati
menelan sukma
lantas pergi setelah
menghancurkan raga
ya, lelaki itu ular
yang akhirnya masuk dalam sergapan elang bondol
yang siap menelannya bulatbulat
tanpa sisa
Memoar Ular
kelak, ketika perjalananku telah sampai pada suatu
titik waktu
ssst, akan kuceritakan begitu banyak kisah padamu, Ibu
tentang ular-ular yang begitu sering menggigitku
kelak akan kuceritakan semua padamu, Ibu
sebuah memoar ular
titik waktu
ssst, akan kuceritakan begitu banyak kisah padamu, Ibu
tentang ular-ular yang begitu sering menggigitku
kelak akan kuceritakan semua padamu, Ibu
sebuah memoar ular
Istirah
telah banyak ku lalui begitu banyak kisah
telah banyak ku jumpai selaksa manusia
kini,
telah ku lupakan semua cerita tentang rasa
telah ku tinggalkan semua cerita tentang asa
dan, yang tertinggal kini hanyalah hampa
di sudut ruang,
ku bersimpuh di kakiMu
: izinkanku istirah
karena aku sudah teramat lelah
dalam tetirah
yang membawa jengah
telah banyak ku jumpai selaksa manusia
kini,
telah ku lupakan semua cerita tentang rasa
telah ku tinggalkan semua cerita tentang asa
dan, yang tertinggal kini hanyalah hampa
di sudut ruang,
ku bersimpuh di kakiMu
: izinkanku istirah
karena aku sudah teramat lelah
dalam tetirah
yang membawa jengah
Rabu, 28 Januari 2009
Pengkhianat Berwajah Malaikat
: untuk gdk
ketika ku bertemu denganmu
setahun lalu
di ruang tamu rumahku,
ku pikir dirimu berbeda
meski kadang kerja pikiran tak selalu benar
karena kebenaran itu relatif (seperti kuliah filsafat, yang seringkali kau dengungkan)
perjalanan waktu,
ku lihat ada yang mulai berubah darimu
mulai sering naik pitam, untuk alasan-alasan yang kadang tak jelas
alasan-alasan yang kadang kau buat
untuk memicu pertengkaran
seperti bensin yang kau tuang pada api yang kau buat sendiri
kemarin, lepas lebaran
ketika kau undang diriku
datang ke rumahmu
untuk kenal dengan keluargamu
kau tawarkan setumpuk harap
tentang impian
(ternyata memang hanya impian)
kemarin, sebelum tulisan ini ku buat
seorang perempuan datang padaku lewat sms
mengatakan bahwa aku ini pecundang yang merebut
calon suami orang
perempuan yang baru kau kenal 20 hari lalu
pesanku hanya satu:
menikahlah dengannya jika memang dirinya lebih sempurna
menikahlah dengannya jika memang dirinya dapat membuatmu nyaman
menikahlah dengannya
dengan satu syarat: tinggalkan aku dan didik istrimu untuk tidak mengatakan orang lain sebagai pecundang, sementara dirinya adalah pecundang yang hadir di antara kita.
didiklah istrimu untuk lebih memahami perasaan perempuan
meski kemarin ia berbicara "atas nama sesama perempuan",
maaf, kalau boleh aku mengumpat: BULLSHIT !!!
semua kata-kata istrimu itu adalah sebenarnya
"damai-damai palsu yang kelak akan mengurung kebebasanmu,
kebebasan pikiranmu, kebebasan perasaanmu"
(seperti kau pernah bilang padaku dulu)
ketakutanmu akan pernikahan seperti yang pernah kau kutbahkan padaku
akan terjadi segera.
sama persis seperti yang kau bayangkan.
dengan jelas, tampak di depan mataku
ketika kau sama sekali tak memiliki privacy
hanya untuk menerima pesan singkat dari keluargamu.
dia akan jadi bayanganmu, yang membelenggu kebebasan
yang selalu kau inginkan.
hari ini, ketika ku sampai pada satu kesimpulan:
bahwa dirimu adalah
pengkhianat berwajah malaikat
hingga teman kecilku, datang pagi ini
ketika semalam, ia tahu aku menangis di sudut kamar semalaman
menangisi kebodohanku, karena mempercayai lidah ularmu
selama setahun ini
menangisi kebodohanku, telah membuang waktu dan tenaga
untuk lelaki pengecut
yang bahkan tak berani menatap mataku
ketika kita berbicara
untuk lelaki pengecut
yang tak berani meminta maaf pada Ibuku
atas harapan-harapan yang telah dituai sendiri.
untuk lelaki pengecut
yang selalu berlari dari
masalah yang dibuatnya sendiri
(terima kasih, teman kecilku.
untuk menampung tangisku, di dada bidangmu
untuk mendengar kecewaku
untuk mengelus punggungku, seraya berkata:
kelak KARMA Tuhan akan berlaku padanya,
orang yang selalu menyakiti hatimu, hati Ibumu)
ketika ku bertemu denganmu
setahun lalu
di ruang tamu rumahku,
ku pikir dirimu berbeda
meski kadang kerja pikiran tak selalu benar
karena kebenaran itu relatif (seperti kuliah filsafat, yang seringkali kau dengungkan)
perjalanan waktu,
ku lihat ada yang mulai berubah darimu
mulai sering naik pitam, untuk alasan-alasan yang kadang tak jelas
alasan-alasan yang kadang kau buat
untuk memicu pertengkaran
seperti bensin yang kau tuang pada api yang kau buat sendiri
kemarin, lepas lebaran
ketika kau undang diriku
datang ke rumahmu
untuk kenal dengan keluargamu
kau tawarkan setumpuk harap
tentang impian
(ternyata memang hanya impian)
kemarin, sebelum tulisan ini ku buat
seorang perempuan datang padaku lewat sms
mengatakan bahwa aku ini pecundang yang merebut
calon suami orang
perempuan yang baru kau kenal 20 hari lalu
pesanku hanya satu:
menikahlah dengannya jika memang dirinya lebih sempurna
menikahlah dengannya jika memang dirinya dapat membuatmu nyaman
menikahlah dengannya
dengan satu syarat: tinggalkan aku dan didik istrimu untuk tidak mengatakan orang lain sebagai pecundang, sementara dirinya adalah pecundang yang hadir di antara kita.
didiklah istrimu untuk lebih memahami perasaan perempuan
meski kemarin ia berbicara "atas nama sesama perempuan",
maaf, kalau boleh aku mengumpat: BULLSHIT !!!
semua kata-kata istrimu itu adalah sebenarnya
"damai-damai palsu yang kelak akan mengurung kebebasanmu,
kebebasan pikiranmu, kebebasan perasaanmu"
(seperti kau pernah bilang padaku dulu)
ketakutanmu akan pernikahan seperti yang pernah kau kutbahkan padaku
akan terjadi segera.
sama persis seperti yang kau bayangkan.
dengan jelas, tampak di depan mataku
ketika kau sama sekali tak memiliki privacy
hanya untuk menerima pesan singkat dari keluargamu.
dia akan jadi bayanganmu, yang membelenggu kebebasan
yang selalu kau inginkan.
hari ini, ketika ku sampai pada satu kesimpulan:
bahwa dirimu adalah
pengkhianat berwajah malaikat
hingga teman kecilku, datang pagi ini
ketika semalam, ia tahu aku menangis di sudut kamar semalaman
menangisi kebodohanku, karena mempercayai lidah ularmu
selama setahun ini
menangisi kebodohanku, telah membuang waktu dan tenaga
untuk lelaki pengecut
yang bahkan tak berani menatap mataku
ketika kita berbicara
untuk lelaki pengecut
yang tak berani meminta maaf pada Ibuku
atas harapan-harapan yang telah dituai sendiri.
untuk lelaki pengecut
yang selalu berlari dari
masalah yang dibuatnya sendiri
(terima kasih, teman kecilku.
untuk menampung tangisku, di dada bidangmu
untuk mendengar kecewaku
untuk mengelus punggungku, seraya berkata:
kelak KARMA Tuhan akan berlaku padanya,
orang yang selalu menyakiti hatimu, hati Ibumu)
Rabu, 03 Desember 2008
Tuhan, izinkanku....
luka menganga
kembali
sekali lagi
harapan sirna
kembali
sekali lagi
Tuhan, izinkanku
marah padaMu
sekali ini
Amin.
kembali
sekali lagi
harapan sirna
kembali
sekali lagi
Tuhan, izinkanku
marah padaMu
sekali ini
Amin.
Selasa, 14 Oktober 2008
Sebuah Perjalanan
Kemarin, ketika ku berada dalam sebuah perjalanan ke rumahmu
Ada sedikit senang, ragu, dan ketakutan....
Senang???
Ya, senang
Senang, karena akan bertemu denganmu
"seseorang yang telah menemaniku dengan kehadirannya"
Senang, karena akan bertemu dengan Ibumu
"seseorang yang telah melahirkanmu ke dunia"
Senang, karena akan melihat kampung halamanmu
"tempat di mana dirimu tumbuh dan ditempa oleh hidup"
Ragu???
Ya, ragu
Ragu, akankah dirimu orangnya?
"yang telah dikirim Tuhan untuk menemani sisa usiaku"
Ragu, akankah keluargamu menerimaku?
"yang kelak tidak akan melemparku seperti yang lain"
Ragu, akankah tempat itu tidak akan membuatku terluka lagi?
"yang pernah kualami sebelum ini"
Ketakutan???
Ya, ketakutan
Ketakutan, akankah dirimu menerimaku "seutuhnya"?
"yang tak akan mencampakkanku, setelah tahu sebuah rahasia besar"
Ketakutan, akankah keluargamu menerimaku?
"yang tulus menerimaku, lahir dan batin"
Ketika perjalanan itu berakhir, aku hanya menyimpan satu harap:
"bahwa kelak perjalanan itu akan berakhir bahagia
dan bukan hanya mimpi indah semata"
"bahwa kelak aku mampu mewujudkan impian dan doa Ibuku,
ketika nafas masih berada dalam ragaku"
"bahwa kelak, ada seorang Pangeran,
yang bersamanya akan kuhabiskan sisa usiaku"
(Catatan dari Purworejo, 9 Oktober 2008; 23.45)
Ada sedikit senang, ragu, dan ketakutan....
Senang???
Ya, senang
Senang, karena akan bertemu denganmu
"seseorang yang telah menemaniku dengan kehadirannya"
Senang, karena akan bertemu dengan Ibumu
"seseorang yang telah melahirkanmu ke dunia"
Senang, karena akan melihat kampung halamanmu
"tempat di mana dirimu tumbuh dan ditempa oleh hidup"
Ragu???
Ya, ragu
Ragu, akankah dirimu orangnya?
"yang telah dikirim Tuhan untuk menemani sisa usiaku"
Ragu, akankah keluargamu menerimaku?
"yang kelak tidak akan melemparku seperti yang lain"
Ragu, akankah tempat itu tidak akan membuatku terluka lagi?
"yang pernah kualami sebelum ini"
Ketakutan???
Ya, ketakutan
Ketakutan, akankah dirimu menerimaku "seutuhnya"?
"yang tak akan mencampakkanku, setelah tahu sebuah rahasia besar"
Ketakutan, akankah keluargamu menerimaku?
"yang tulus menerimaku, lahir dan batin"
Ketika perjalanan itu berakhir, aku hanya menyimpan satu harap:
"bahwa kelak perjalanan itu akan berakhir bahagia
dan bukan hanya mimpi indah semata"
"bahwa kelak aku mampu mewujudkan impian dan doa Ibuku,
ketika nafas masih berada dalam ragaku"
"bahwa kelak, ada seorang Pangeran,
yang bersamanya akan kuhabiskan sisa usiaku"
(Catatan dari Purworejo, 9 Oktober 2008; 23.45)
Rabu, 27 Agustus 2008
mutiara dan kupu-kupu
"mutiara itu cantik, putih, kemilau, abadi...
berharga, sejak mula...
tidak dengan kupu-kupu, yang mesti berjuang,
dari pupa lalu kepompong...
kecantikan kupu-kupu pun tak abadi, sebelum akhirnya mati"
(untuk lelaki yang tak pernah menganggapku ada dalam hidupnya: ternyata hanya ada mutiara dalam hatimu), 27 Agustus 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)