Hidup itu pilihan, bergantung pada isi kepala dan hati Anda dalam menjalaninya (Ririe Rengganis).
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Juni 2012
Rabu, 13 Juni 2012
rindu tak terbantah
Oleh: Ririe Rengganis
ternyata,
aku benar-benar mencintai hujan.
tak terbantah.
menunggu hujan
ketika kemarau betah
adalah rindu tak terkatakan.
menghujat tuhan
atau mengucap mantra?
agar kau tahu aku cinta.
(14 Juni 2012)
Selasa, 12 Juni 2012
bukan kisah cinderella
Oleh: Ririe Rengganis
aku tak percaya kisah cinderella.
sebab itu dongeng belaka,
di kehidupan nyata itu tak pernah ada.
lantas salahkah bila sekali saja
aku ingin bahagia
bersamanya?
(13 Juni 2012)
Jumat, 08 Juni 2012
menunggu purnama, menunggu moksa
Oleh: Ririe Rengganis
kemarin,
menunggu purnama
dengan sukacita.
sekian puisi cinta
tertulis serupa belia
dalam kutukan asmara.
purnama tiba,
dan aku menunggu moksa.
(8 Juni 2012)
Senin, 21 Mei 2012
sekuntum padma di seberang jendela
Oleh: Ririe Rengganis
satu pagi,
kulihat sekuntum padma
di seberang jendela.
melambai diam-diam.
menebar aroma cinta
dalam desir angin
ke penjuru semesta.
indah.
sayang, padma itu milik tetangga.
(19 Mei 2012)
Sabtu, 19 Mei 2012
empat belas kuntum krisan
Oleh: Ririe Rengganis
empat belas kuntum krisan.
untukmu. untuk kita,
yang telah berbeda.
empat belas kuntum krisan
pemanis kuburan.
tak sia-sia perjalanan sekian.
empat belas kuntum krisan.
untukmu. untuk kita.
perjalanan lain telah di pelupuk mata.
(20 Mei 2012)
pesan rahasia
Oleh: Ririe Rengganis
malam ini,
aku akan naik ke atas atap.
memetik bintang
dan menuliskan satu kata di atasnya.
menempelkannya kembali
ke langit malam.
berharap angin berhembus
dan membawanya padamu.
berharap satu kata itu
terbaca olehmu.
(17 Mei 2012)
Minggu, 13 Mei 2012
antara tuba dan cinta
Oleh: Ririe Rengganis
Dulu, aku pernah merasa dicintai.
Ternyata itu bukan cinta.
Hanya tuba.
Kini, aku merasa dicintai.
Hanya merasa.
Belum tentu juga.
(13 Mei 2012)
valium dan peluru
Oleh: Ririe Rengganis
gelas melompong,
cairan valium
baru saja terminum.
tersisa kosong.
enam peluru,
masih tersimpan
diam. menunggumu.
13 Mei 2012
Sabtu, 12 Mei 2012
rindu
Oleh: Ririe Rengganis
tiba-tiba aku rindu padamu
berbincang denganmu
tentang apa saja.
tiba-tiba aku rindu padamu
tersenyum bersamamu
tentang hal sederhana.
tiba-tiba aku rindu padamu
memandang matamu.
itu saja.
(7 Mei 2012)
Sabtu, 14 April 2012
perempuan yang mencintai hujan
Oleh: Ririe Rengganis
aku mencintaimu
seperti aku mencintai hujan.
bermain, menari, tertawa
di bawah rintikmu.
aku mencintaimu
seperti aku mencintai hujan.
menangis dan mengadu
dalam derasmu.
aku mencintaimu
seperti aku mencintai hujan.
setia menunggumu,
bila kemarau tiba.
(14 April 2012)
Selasa, 20 Maret 2012
aroma dusta
Oleh: Ririe Rengganis
sudah terlalu banyak dusta terlontar dari bibirmu. sementara aku membaca sekian dusta dari dua matamu itu. sekian dusta lain aku baca dari gerak tubuhmu. sekian dusta yang lain terdengar dalam ratapanmu.
Stop! aku tidak ingin mendengar atau melihatmu lagi di jalanku.
pergi saja ke kamarmu. pergilah ke sudutnya. tidak ada orang lain yang sanggup menyembuhkan penyakitmu itu. mulailah bertanya pada nuranimu: untuk apa kau lakukan semua? bukankah dusta itu penyakit tanpa obat? sebab sebuah dusta akan bersambung dusta yang lain pula. akankah kau hidup bersama dusta selamanya? entah sampai kapan kau sanggup memikul beban dustamu. entah sampai kapan kau sanggup dibelit sulur-sulur dustamu.
ah, satu-satunya hal paling alami yang pernah kutemui itu ternyata kau dan sekian dustamu. benar-benar alami. tanpa bahan pengawet. mudah busuk bila disimpan terlalu lama. maaf, aku tidak sanggup menghirup aroma dustamu lagi.
(21 Maret 2012)
Kamis, 15 Maret 2012
another tears
another tears
Oleh: Ririe Rengganis
air mata itu tumpah lagi. ketika dengan berat hati, mulut mesti berucap kisah ini berakhir. ini bukan tentang keraguan padamu, yang telah sekian belas tahun menunggu. ini bukan tentang cinta belia, yang mungkin tidak pernah ada dalam diriku. ini tentang aku, yang mesti menyelesaikan perjalanan sendiri. sebab kutukan itu telah diukir dalam aliran darahku. sebab kutukan itu telah diukir dalam namaku. sebab kutukan itu telah tertulis dalam jalan kisahku.
ya, sejuta kutukan itu memang mesti aku tuntaskan sendiri. sejuta kutukan untukku, yang kelak kuubah sebagai pengubah jalanmu, anak-anakku. sebab kalian berhak hidup lebih baik, ketika zaman makin kejam menghajar tubuh kalian.
ya, sejuta kutukan itu mesti aku telan sendiri. mengunyahnya diam-diam. dan kelak memuntahkannya sebagai bunga-bunga di taman. tempat kalian bercanda dengan seribu kupu-kupu di musim semi yang baru.
(15 Maret 2012)
Sabtu, 21 Januari 2012
kisah dalam secangkir kopi
Oleh: Ririe Rengganis
kemarin,
terlalu banyak tawa terlontar.
seolah esok airmata
tak akan tumpah.
hari ini,
terlalu banyak airmata mengalir
seolah esok tawa
tak pernah ada.
sungguh,
tawa dan airmata
teraduk dalam cangkir kopi.
pahit menggigit.
sungguh,
aku tersiksa! lantas
siapa hendak menambal
hati yang retak karenamu?
(20 Januari 2012)
Rabu, 18 Januari 2012
angan terkoyak
Oleh: Ririe Rengganis
angan tentangmu
mesti berakhir,
sebelum bertemu pagi.
sebab sayap ini
telah koyak,
sebelum sampai padamu.
(15 Januari 2012)
memandangmu di balik jendela
Oleh: Ririe Rengganis
pandang mata sempat bertemu,
tetapi aku mesti menundukkan pandangku
padamu yang telah mencuri sebagian hati
dengan senyum manismu.
aku mesti tahu di mana batasku.
sebab aku bukanlah mereka,
bunga-bunga menawan pemikat kumbang.
sebab aku bunga rumput liar.
biarlah aku memandangmu di kejauhan
dan menyimpan rahasia ini seorang diri saja.
sebab aku belum lagi siap bila mesti terluka
untuk ke sekian kalinya.
(15 Januari 2012)
tentang nama yang tak boleh disebut
Oleh: Ririe Rengganis
aku tak tahu lagi bagaimana mesti mengeja namamu. nama yang tak boleh disebut dalam rumahku. nama yang serupa duri menusuk gendang telinga ibuku. nama yang serupa sembilu yang mengiris hati ibuku. nama yang serupa debu mengusik penglihatan ibuku.
aku tak tahu lagi bagaimana mesti mengeja namamu. nama yang begitu biru dalam setiap catatan. nama yang begitu beku mengendap dalam ruang hati. nama yang tersebut diam-diam di alam bawah sadar.
sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana mesti mengeja namamu. meski aku ingin mengeja namamu serupa nafas yang tereja dalam hidupku.
(13 Januari 2012)
Selasa, 03 Januari 2012
kisahmu, kemarin.
Oleh: Ririe Rengganis
pada beku airmatamu,
aku temukan rindu
tak tersampaikan
pada tuju.
pada kelu lidahmu,
aku dengar parau
tentang cita
pada satu.
pada diam tubuhmu,
aku lihat gelombang
cinta membuncah
hanya padaku.
(3 Januari 2012)
pada beku airmatamu,
aku temukan rindu
tak tersampaikan
pada tuju.
pada kelu lidahmu,
aku dengar parau
tentang cita
pada satu.
pada diam tubuhmu,
aku lihat gelombang
cinta membuncah
hanya padaku.
(3 Januari 2012)
Sabtu, 24 Desember 2011
Malam Natal yang Lain
Oleh: Ririe Rengganis
Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Malam ini aku melihatmu kembali memimpin misa di gereja kecil di pinggir kota. Tatapan mata yang sama dengan belasan tahun lalu. Bahkan aku masih dapat melihat tatapan mata itu dari bangku paling belakang di gereja.
Lepas misa, beberapa gadis belia menghampirimu. Bahasa tubuh yang terbaca dari mata ini: mereka datang untuk menggodamu dengan alasan ingin diberkati olehmu. Aku tersenyum melihat mereka. Aku tersenyum melihatmu melayani mereka dengan sopan. Memang begitulah seharusnya, menggembalakan mereka memang memerlukan kesabaran lebih.
Lepas misa, kita pulang bersama. Menyusuri jalan itu. Jalan yang masih sama dengan belasan tahun lalu. Aku melihat tatapan mata itu, harapan itu masih ada. Entah kapan harap itu bukan sekadar harap. Kita saling bicara, meski mulut kita tidak pernah terbuka.
Negeri ini masih saja menolak jalan kita. Haruskah kita terbang ke negeri tetangga untuk menyatukan mimpi?
Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Itu saja. Lantas mengapa kita mesti peduli pada negeri ini? Negeri yang mengajari mencaci yang lain, tetapi sering kali melupakan daki di tengkuk sendiri.
Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Tidak ada yang salah. Biarkan saja mulut-mulut mereka berserapah. Toh, kita tidak akan menyerah. Pada segala yang telah tersimpan di dalam hati selama belasan tahun ini. Belasan tahun selanjutnya. Pun puluhan tahun mendatang. Hingga kita berdua menutup mata bersama.
:Bahwa Tuhan itu satu.
(24 Desember 2011)
Sabtu, 17 Desember 2011
ketika hujan tiba senja
Oleh: Ririe Rengganis
hujan menangis.
airmata mengalir
pada jendela.
dalam tangis,
aku merapal
entah doa atau mantra.
tiada beda.
dengan satu harap,
esok kau tersenyum.
dalam sejuk embun,
hangat mentari pagi.
itu saja.
15 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


