Tampilkan postingan dengan label Untuk Bram Seto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Bram Seto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2009

doa senja: tiga sahabat

: untuk andrey, tetuko, dan bram seto


1
rosariomu,
menarik mataku
dan aku belajar tentangmu
belajar menghargaimu
sebagai sahabatku

2
doa-doamu,
terdengar merdu di telingaku
dan kembali kau ajariku
melantunkan doa-doa di tanah-Mu
dengan segenap jiwaku

3
puja darmamu,
begitu nyata di mataku
serupa karang tangguhmu
menghapus segala airmataku
pun mengajari memahami karmaku





(22 Oktober 2009)

Rabu, 16 September 2009

sebuah kotak untukmu

Who, like the moon, unblemished, pure,
is clear and limpid, and in whom
delights in being a consumed,
that one I call a Brahmin True.
(Chapter 26, The Brahmana, Verse 413: Learning The Charm)




: untuk Bram Seto


terlahir sebagai putra Ayah dan Bunda
dan sebuah nama sebagai anugerah
melekat serupa nama dewa: Brahmana
serupa asa melekat dalam jiwa

dan menjadi sahabatmu adalah hadiah terindahku
memahami dirimu adalah tugas terbesarku
memasuki hidupmu adalah anugerah terindahku
melangkah bersamamu adalah pelajaran terhebatku

berbagi tawa bersamamu adalah kebahagiaan bagiku
berbagi tangis bersamamu adalah kehormatan bagiku
berbagi kisah bersamamu adalah kebanggaan bagiku

kau telah menjadi teman, berbagi senyuman
kau telah menjadi sahabat, berbagi dekat
kau telah menjadi guru, berbagi ilmu

ketika usiamu beranjak
aku hanya mampu memberi beberapa baris sajak
itu pun jika memang pantas disebut sajak
sebagai balasan atas kata-kata bijak
yang tertinggal serupa jejak-jejak

ketika usiamu makin dewasa
aku hanya mampu menyebut namamu di setiap doa
itu pun jika memang pantas disebut doa
sebagai balasan bagi jiwa yang selalu terjaga
serupa malaikat penjaga

ketika usiamu makin beranjak
padamu, aku menitipkan sebuah kotak
bukalah ketika hatimu sudah tak lagi bergejolak
dan aku selalu menunggu serupa kanak-kanak
yang enggan beranjak ketika melihat coklat sekotak










(17 September 2009)

"happy birthday, Ako Bram...."

Minggu, 30 Agustus 2009

agustus

: untuk Braminto Rabowo Seto




2005,
agustus
hidungku masih penuh ingus
ketika sebuah kisah tak berjalan mulus
dan, kau datang menyelinap
serupa asap dupa memenuhi atap
wangi kesturi
dan, kau sahabat ketika aku kehilangan

2006,
agustus
datang menjengukmu serupa angin berhembus
sejenak, melihatmu sedang serius
dan, aku pun kembali berhembus

2007,
agustus
hidungmu beringus
ketika kisahmu tak berjalan mulus
dan, aku menjelma angin berhembus
membelai wajahmu yang menirus
di setiap malammu

2008,
agustus
ketika kita benarbenar bersua
di sebuah kota tua
tak henti kau ukir tawa
menjelma kita
dan, kita menjelma makna

2009,
agustus
hidungku kembali beringus
sebuah kisah lain tak berjalan mulus
dan, kau tetap berhembus
serupa angin di setiap malamku
dan, kau selalu ada di setiap kehilanganku


dirimu,
sahabat terbaikku









(Bram, terima kasih untuk segala yang telah terbagi)

Jumat, 27 Maret 2009

catatan senja

untuk Sang Brahmana


lepas magrib
semua terasa senyap
dgn mata sembab
terjerembab dalam pengap

ingin ku terbang melayang
dalam awang
dgn tubuh telanjang
tanpa kedok
yg selama ini telah buatku muak

ingin ku sudahi
semua mimpi
ingin ku ludahi
semua janji

dalam lindap, pernah ku terjerembab
dalam pekat, pernah ku terjerat

ingin ku cepat
minggat dari jerat keparat
ingin ku umpat
ludah sesat laknat

dan, dongeng 1001 malam
telah tamat
dalam malam pekat.

Rabu, 11 Maret 2009

di mataku:

buat bram seto

lelaki lugu
itu di hadapanku
termangu
dengan mata sendu
dan senyum lucu

"adakah kau tahu?
aku rindu padamu
rindu yang tak pupus
meski waktu
telah menjamur
dalam lapuk"

dan, tawa nakal
menggema dalam ruang
seketika

"aku
telah lusuh dalam waktu rindu???
aku juga tak tahu,
apa beda dengan nafsu???"

entah
yang kudengar
hanya suara sumbang
dalam rumpang

: bahwa kita adalah
sepasang lajang jalang
yang tak peka norma : kata mereka

biarkan saja, Sayang
peduli apa kita pada mereka?!
karena:
mereka hanya paham norma,
bukan cinta yang kita punya

catatan di pinggir penumping

buat bram seto


ketika hati
telah serupa kotakbesi
dingin
terkunci

di manakah kau simpan kunci itu, kekasihku?
bukankah setahun lalu,
kunci itu pernah kau serahkan padaku?
seraya berkata:
"renjana ini untukmu, cintaku."

ingatkah kau?
lantas ke mana kau
kubur renjana itu, kekasihku?
dalam palung hatimu?

jangan!!!
biarkan renjana itu
merekah indah
dalam wadah

jangan ingkari nurani,
bahwa dirimu juga layak bermimpi:
bahwa kita adalah satu diri
satu hati

biarlah diri
biarlah hati
saling mengerling
dalam puingpuing bising
melenting di pinggir penumping

Jumat, 20 Februari 2009

tuturmu, semalam

untuk bram seto


ketika hati tlah seputih kapas
seringan bulu angsa

apalagi yang kau cari, hai cinta?
seperti semalam, waktu kau bersabda:

cinta yang kita punya tlah lama bertahta
meski hanya dalam sukma

maka biarlah ia menemukan jalan
dalam renjana keabadian

sekarang, kita di sini
berbicara pada hati
jujur pada nurani

tentang sebuah hati

"terbanglah bebas ke angkasa luas
biarlah angin menghembus
membawamu lukamu
bersamaku kupukupuku"

sujudku padaMU
tlah mengirimmu
lelaki lugu serupa biksu
yang tak pandai merayu apalagi bercumbu
yang memperlakukanku serupa ratu
tanpa peduli pada masa lalu kelu
mengajarku laku baru tanpa ragu

"1000 hari lalu,
aku serupa dirimu layu dalam ragu

1000 hari tlah berlalu
aku ingin menuntunmu
dalam hidup serupa lumut
yang mampu menghancurkan batu
dalam waktu

aku ingin menuntunmu
dalam hidup serupa semut
yang mampu menghancurkan gunung
dalam waktu"

biarlah waktu
mengendapkan embun dalam kalbu
dekat erat
mengerat sang keparat
lumatlumat
dalam jerat sidat

"puanku, kau serupa ibu
yang mengajarku
laku dalam waktu"

dan, kau serupa biksu
lugu mengajarku
terbang serupa kupukupu
menungguku dalam waktu
mengajarku laku
tanpa palsu tanpa ragu
hingga akhir waktu

Kamis, 19 Februari 2009

biru rindu

untuk bram seto



kemarin, datang seorang lelaki
suatu pagi
di bawah terik mentari

berbicara padaku
tentang hidup
hidupmu hidupku

ternyata, kita dibesarkan dengan sama
di antara kerasnya ayah
nelangsanya bunda
dan, kita tumbuh di antara lompatanlompatan karang

kini kita jumpa, telah dewasa
ada renjana dalam sukma

"1000 hari lalu,
ku nikmati rautmu
dalam bisu
indah bersahaja"

"1000 hari berlalu,
ku nikmati rautmu
dalam riuh
bertanya ini itu
sembari menggenggam jemarimu
selayak bocah
rindu pada rayu"

katakatamu:
"hatiku ada padamu
seperti katakataku lalu
sayang, tidak ragaku
masih ada bundaramaku
menunggu baktiku,
maafkan aku"

kelu
rindu
dalam kalbu

"berjalanlah lurus, tinggalkan aku
hatiku masih sekeras batu
kokoh laksana karang
meski ombak menerjang
ku akan menjagamu dari jauh
membantumu kala kau terjatuh
hanya itu, kulakukan untukmu
untuk sebuah cinta biru"

berpisah kita, setelahnya

kau lanjutkan lakumu
ku lanjutkan lakuku

kau menjelma biksu
dalam biru rindu
ku menjelma kupukupu ungu
terbang mengitarimu
hingga merapuh sayapku

dan, tersimpan rindu dalam kelu
tanpa ragu
ku tunggu
waktu luruhku
di antara batubatu