Minggu, 01 Januari 2012

Januari50K: Pelahap


Mozaik 1


Lelaki itu sungguh hebat. Tubuhnya kurus dan terlihat lemah tanpa daya, tetapi ia mampu melahap apa saja yang ada di depan matanya. Iya, ia melahap apa saja. Tembok bangunan, meja, kursi, papan tulis, spidol, kertas, uang, bahkan manusia.

Pagi itu masih amat sepi di ruangan kantor. Aku duduk sendiri menghadap laptop, menyelesaikan sebuah laporan yang harus diserahkan pada atasan secepatnya meski tidak harus diserahkan hari ini. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Waktu terus berjalan dan ruang kantor masih saja sepi.

Menjelang tengah hari, lelaki itu masuk ke dalam ruang kantor. Dengan senyum ramah, ia menyapa. Bertanya tentang kabar. Sedikit berbasa-basi padaku. Basa-basi yang juga kubalas dengan basa-basi tanpa memindah pandangan mataku dari laptop. Tanpa memindah jemari yang sedang menari di atas keyboard. Sebab bagiku, basa-basi lelaki itu benar-benar basi. Dan, aku punya panggilan untuknya, Lelaki Basi.

Sejenak kemudian, seorang lelaki lain masuk ke dalam ruang kantor. Lelaki belia, usianya mungkin masih saja belasan. Membawa map dan menyerahkan pada Lelaki Basi itu.

“Bapak, bisa minta tanda tangan? Untuk pengurusan beasiswa.” kata Lelaki belia itu.

“Beasiswa? Memang selama ini Anda termasuk mahasiswa berprestasi? Apa saja prestasi Anda, Saya ingin dengar.” Lelaki Basi itu terlihat angkuh.

Aku melihat lidah Lelaki Basi itu menjulur. Lidahnya bercabang serupa lidah ular. Aku melihat lidahnya mulai menjilati keringat Lelaki belia yang sedang menjelaskan prestasinya selama ini. Lelaki belia itu pun sedang menjelaskan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sebab ayahnya hanya bekerja sebagai buruh tani di sebuah desa di daerah pantai utara. Sebab ibunya hanya bekerja di rumah sebagai pembuat gorengan yang dijual keliling kampung. Sebab ia masih memiliki dua orang adik yang masih perlu disuapi. Sebab ia sendiri harus bekerja sembari kuliah untuk membayar uang kos dan kebutuhan kuliah lainnya.

“Prestasi Anda, bolehlah. Bagus itu, tetapi apakah Anda selama ini dekat dengan Saya?” Lelaki Basi itu bertanya lagi.

“Apakah pengurusan beasiswa itu juga mensyaratkan kedekatan antara mahasiswa dengan Bapak?” Lelaki belia itu balik bertanya pada Lelaki Basi.

“Jelas itu. Anda boleh dikatakan cerdas secara intelektual, tetapi di mata saya Anda tidak cukup cerdas sebab Anda tidak pandai mengambil hati Saya. Tidak pandai menyenangkan saya.” Lelaki Basi itu masih saja terlihat angkuh.

Aku melihat lidah Lelaki Basi itu mulai menjilati kertas di atas mejanya. Kertas formulir beasiswa yang seharusnya ditandatangani agar mahasiswa itu bisa mendapat beasiswa yang menjadi haknya, sebab ia memang berprestasi akademik bagus dan ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Kertas itu basah. Huruf-huruf di atas kertas itu meleleh memenuhi meja. Dan, Lelaki Basi itu memunguti lelehan huruf-huruf itu dengan lidahnya. Lidah bercabang serupa ular.

“Anda boleh kembali pada saya tahun depan untuk tanda tangan saya. Dan, selama setahun penantian itu, Anda tunjukkan pada Saya bagaimana menyenangkan Saya.” Lelaki Basi itu mengakhiri pembicaraan.

Lelaki belia itu meninggalkan ruang kantor dengan lunglai. Pupus sudah harapan untuk mendapatkan beasiswa tahun ini. Sebab ia tidak cukup pandai menyenangkan hati Lelaki Basi selama ini.

Aku melihat Lelaki Basi itu mulai menjilati meja dan kursi. Menelannya. Masing-masing satu. Menjilati tumpukan kertas di atas meja. Menelannya. Selembar demi selembar. Ketika seorang Lelaki setengah baya memasuki ruang kantor, ia menghentikan aktivitasnya menjilati segala isi ruangan. Lelaki setengah baya itu atasanku. Atasan Lelaki Basi itu. Atasan kita yang bekerja di ruang kantor ini.

“Bagaimana persiapan penyambutan tamu dari Jakarta minggu depan?” tanya Atasanku itu padaku.

“Tinggal beberapa hal saja, Bapak. Semua sudah beres.” jawabku singkat.

Aku menyerahkan beberapa lembar kertas pada Bapak Atasan. Ia membaca dengan cepat dan membubuhkan beberapa tanda tangan di atas beberapa lembar kertas. Beberapa lembar kertas hasil kerja kami, aku dan beberapa teman lain yang sampai harus bermalam di kantor ini, minus Lelaki Basi itu tentunya.

“Oya, Pak. Tolong diatur penjemputan tamu dari Jakarta minggu depan ya.” Bapak Atasan meminta Lelaki Basi itu menjemput tamu agung dari Jakarta yang akan datang berkunjung minggu depan.

Ya, kunjungan tamu agung. Bagaimana tidak agung bila kelangsungan kantor ini ditentukan oleh hasil kunjungan minggu depan atau kami semua akan mendapat malu atas kinerja yang telah terbangun selama ini. Kinerja pendidik yang seharusnya mencerdaskan anak-anak bangsa dengan baik. Kinerja pendidik yang seharusnya tidak bercampur dengan kepentingan politik. Kinerja pendidik yang seharusnya tidak dipenuhi bermacam intrik.

*****
(688 kata)

Minggu, 25 Desember 2011

Januari50K: Pelahap

Ririe Rengganis

Sinopsis


Aku terlahir sebagai manusia. Ibu dan Ayahku pun manusia, yang mengajarkan banyak sekali tentang nilai-nilai kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Sayangnya, suatu ketika aku mesti masuk ke dalam sebuah dunia yang begitu ajaib di mataku. Bagaimana tidak ajaib? Ketika aku melihat seorang manusia melahap meja, kursi, lembaran uang, gedung, bahkan manusia lainnya.

Aku terlahir sebagai manusia dan kini aku terjebak dalam sebuah dunia ajaib. Aku mesti bertahan untuk tetap menjadi manusia. Aku mesti bertahan dan menyelamatkan mereka, embrio-embrio manusia yang baru saja belajar menjadi manusia. Aku mesti bertahan, meski kadang tubuhku dijilat manusia-manusia berkepala besar dan berperut buncit itu. Aku mesti bertahan, meski kadang butir-butir keringatku disedot manusia-manusia bermulut lebar itu.

Aku terlahir sebagai manusia. Ketika aku terjebak dalam sebuah dunia ajaib, aku bertahan untuk tetap menjadi manusia. Mampukah aku berjuang sendiri dalam menyelamatkan embrio-embrio manusia yang baru belajar menjadi manusia itu? Mampukah aku tetap menjadi manusia yang memanusiakan manusia di antara manusia-manusia pelahap itu?



(155 kata)

Sabtu, 24 Desember 2011

Malam Natal yang Lain




Oleh: Ririe Rengganis



Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Malam ini aku melihatmu kembali memimpin misa di gereja kecil di pinggir kota. Tatapan mata yang sama dengan belasan tahun lalu. Bahkan aku masih dapat melihat tatapan mata itu dari bangku paling belakang di gereja.

Lepas misa, beberapa gadis belia menghampirimu. Bahasa tubuh yang terbaca dari mata ini: mereka datang untuk menggodamu dengan alasan ingin diberkati olehmu. Aku tersenyum melihat mereka. Aku tersenyum melihatmu melayani mereka dengan sopan. Memang begitulah seharusnya, menggembalakan mereka memang memerlukan kesabaran lebih.

Lepas misa, kita pulang bersama. Menyusuri jalan itu. Jalan yang masih sama dengan belasan tahun lalu. Aku melihat tatapan mata itu, harapan itu masih ada. Entah kapan harap itu bukan sekadar harap. Kita saling bicara, meski mulut kita tidak pernah terbuka.

Negeri ini masih saja menolak jalan kita. Haruskah kita terbang ke negeri tetangga untuk menyatukan mimpi?

Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Itu saja. Lantas mengapa kita mesti peduli pada negeri ini? Negeri yang mengajari mencaci yang lain, tetapi sering kali melupakan daki di tengkuk sendiri.

Tuhan itu satu. Cara kita menemuinya itu yang berbeda. Tidak ada yang salah. Biarkan saja mulut-mulut mereka berserapah. Toh, kita tidak akan menyerah. Pada segala yang telah tersimpan di dalam hati selama belasan tahun ini. Belasan tahun selanjutnya. Pun puluhan tahun mendatang. Hingga kita berdua menutup mata bersama.

:Bahwa Tuhan itu satu.



(24 Desember 2011)

Sabtu, 17 Desember 2011

ketika hujan tiba senja




Oleh: Ririe Rengganis



hujan menangis.
airmata mengalir
pada jendela.

dalam tangis,
aku merapal
entah doa atau mantra.

tiada beda.
dengan satu harap,
esok kau tersenyum.

dalam sejuk embun,
hangat mentari pagi.
itu saja.



15 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

kemarin, hari ini, dan esok.




Oleh: Ririe Rengganis



kemarin, aku mesti belajar berbesar hati. ketika semua caci dilempar ke wajah tanpa henti. ketika semua usahaku mewujudkan mimpi anak-anakku mesti dijegal kata berbelati. ketika semua kataku dianggap sebagai pembelaan diri. ketika semua argumenku mesti berhadapan dengan manusia-manusia tanpa hati dan akal budi. ketika lidah-lidah itu tidak pernah henti menguliti hati.

hari ini, aku mesti belajar berbesar hati. ketika ternyata keringatku tidak pernah cukup memberi minum atas haus anak-anakku. ketika ternyata hela nafasku tidak pernah cukup memberi makan atas lapar anak-anakku. ketika semua lelah langkahku mesti berujung protes ketidakpuasan atas keingintahuan anak-anakku.

esok, aku mesti belajar berbesar hati. untuk sekian ribu ketidakpuasan lain. untuk sekian ribu keinginan. untuk sekian ribu makian. untuk sekian ribu entah.



(8 Desember 2011)

Minggu, 04 Desember 2011

kisah bulan merah




Oleh: Ririe Rengganis



sssttt ….
bulan merah
merekah
di ujung jendela.

cantik dan memikat.
mengundang
bintang-bintang
mendekat. memeluk erat.

satu, dua, tiga
hingga ribuan bintang.
memeluk bulan merah
begitu rupa.

dalam diam, pecah tangis
bulan merah. runtuh
bersama jatuh
sang embun.



(28 November 2011)

Selasa, 15 November 2011

Selagriya

Lirik: Ririe Rengganis
Gambar: Kris Budiman




meniti
alur menghijau. demi
bersua paras cantikmu.

mencumbu masa lalu
dalam catatan kisah
: tentangmu.


(15 November 2011)



Minggu, 13 November 2011

setengah hati




Oleh: Ririe Rengganis



hidupmu terlihat membosankan, sayang. bagaimana tidak? setiap hari aku mesti mendengarmu merajuk tentang rasa masakan yang kurang garam. setiap hari aku mesti mendengarmu merajuk tentang rasa kopi yang kurang gula. hidup itu bukan hanya tentang asin dan manis semata, sayang.

hidupmu terlihat membosankan, sayang. bagaimana tidak? setiap hari aku mesti mendengarmu mencela pakaian yang kupakai, yang kau bilang membuat tubuhku terlihat lebih gendut. setiap hari aku mesti mendengarmu mencela kerapianku dalam bersikap, yang kau bilang terlihat murahan. hidup itu bukan hanya tentang kepantasan dan kerapian, sayang.

ketika aku bangun pagi ini dengan setengah hati, aku pun mesti mendengar rajukanmu, tentang ini-itu. rajukan yang serupa angin puting beliung, memporakporandakan isi kepalaku.

pagi ini, aku ingin pergi bersama setengah hatiku, yang masih tersimpan rapi di lemari. sebab aku teramat lelah mendengar segala rajukmu.

pagi ini, biarkan aku menepi. setelah beberapa pagi angin tidak pernah berhenti menghembusku.



(13 November 2011)

Sabtu, 12 November 2011

bukan kisah Jocasta dan Oedipus




Oleh: Ririe Rengganis


aku bukan Jocasta yang menikah dengan Laius, ayahmu. kau bukan pula Oedipus yang terlahir dari rahimku. lantas mengapa sekat itu masih saja kau buat? sedang aku berkali telah melipat sekat itu dan menyimpannya di bawah ranjangku.

biarkan aku menjelma Medusa dengan ribuan ular di kepalaku.

biarkan aku jadi penggoda bagi pertapa yang begitu taat sepertimu.

biarkan aku jadi bunga di antara pucuk-pucuk cemara yang menghijau di matamu.

biarkan aku seperti purnama malam ini, yang tertelan pesonamu.

biarkan saja sekat itu tetap terlipat di bawah ranjang. sebab aku bukan Jocasta yang menikah dengan Laius, ayahmu. sebab kau bukan pula Oedipus yang terlahir dari rahimku.

biarkan aku mengucap selamat malam padamu dan mengecup keningmu sebelum kau jatuh tertidur.

biarkan aku jadi embun yang membasuh lelah semalam dan mengantar harimu menuju senja.

biarkan aku jadi senja yang menemanimu bercanda di beranda dan menunggu malam menidurkan kita.

sebab kau bukan Oedipus yang terlahir dari rahimku dan aku bukan Jocasta, ibumu. biarkan sekat itu tetap terlipat di bawah ranjang. mari melewati hari serupa nafas, yang menghidupi raga. mari melewati hari serupa doa, yang menghidupi jiwa.

mari menghitung mentari setiap pagi, hingga waktu itu tiba.

mari  melewati setiap senja, hingga batas itu bukan lagi batas.

mari menikmati malam dalam kidung-kidung syahdu, hingga satu tertemukan.

sebab aku bukan Jocasta, ibumu dan kau bukan Oedipus, yang terlahir dari rahimku. sebab kau lebih menawan dibanding purnama, yang tenggelam di langit semalam.



(11 November 2011)

Sabtu, 05 November 2011

Kolaborasi November

sore sebelum hujan

Lirik: Kris Budiman & Ririe Rengganis
Gambar: Kris Budiman




jemari angin
runtuhkan daun-daun
di aspal jalan

engkau membaca
kuning wajahnya
pada gugur cuaca

semuram kelabu
rona langit
di ubun hari

menunggu tangis
runtuh. menghapus
galau kemarau.



(Yogyakarta-Surabaya, 2-5 November 2011)