di sebuah sudut di jalan itu, ku jumpa dirimu. sekadar untuk berbincang tentang kita.
dan, kita duduk di sebuah beranda rumah tua. sebuah kisah meluncur dari bibir mungilmu.
usia kita mungkin sebaya, tetapi kau tampak lebih tua. ah, bagiku itu bukan masalah
ku dengar kisahmu dengan resah, dengan gundah
ah, mereka begitu rendah menilaimu
meski mereka tak tahu awal kisahmu
dan, lelaki kecil itu menggelayut manja di lenganmu
tampan, mungkin saja setampan ayahnya
ku dengar kisahmu dengan resah, dengan gundah
sembari memandang lelaki kecilmu itu
ah, di mataku kalian begitu hebat
meski mereka menganggapmu bejat
bagiku, mereka yang bejat
sok bermartabat
ku dengar kisahmu dengan resah, dengan gundah
lima tahun lalu, ketika kalian bertemu
di sebuah kampus pinggir kota
kalian adalah mahasiswa dari luar kota
dan, kalian jatuh cinta pada pandang pertama
ku dengar kisahmu dengan resah, dengan gundah
sebuah kisah berjalan atas nama cinta
dan, mereka menyebutnya zina
ku dengar kisahmu dengan resah, dengan gundah
ketika benih cinta mulai tumbuh di rahimmu
lelakimu pergi meninggalkanmu, tanpa pesan
ku dengar kisahmu dengan resah, dengan gundah
kau terusir dari rumah, tak lagi meneruskan kuliah
demi memberi makan dirimu, dan nyawa dalam rahimmu
di salah satu sudut jalan itu
mereka menyebutmu pelacur
dan, ku sebut mereka mulut dubur
mereka hanya bisa menghujat
seolah mereka kaum terhormat
mereka tak punya nurani, tak punya empati apalagi simpati
mereka hanya peduli pada citra diri
apakah kalian lupa ?
ibu kalian perempuan
kakak kalian perempuan
adik kalian perempuan
dan, mungkin diri kalian adalah perempuan
maka berhentilah menghujat perempuan
berhentilah meneriakkan dogma
berhentilah meneriakkan norma
di hadapan perempuan-perempuan di sudut jalan itu
mereka juga manusia, sama seperti kalian
menjual tubuh hanya untuk menyambung hidup
sementara kalian ?
menjual tubuh demi sebuah jabatan
atau sekantong berlian
menjual jiwa demi sebuah kenyamanan
atau kemapanan dengan mengingkari nurani
berhentilah bergunjing atau memandang miring
pada perempuan-perempuan di sudut jalan itu
demi ibumu
demi kakakmu
demi adikmu
demi dirimu
(3 September 2009)
Hidup itu pilihan, bergantung pada isi kepala dan hati Anda dalam menjalaninya (Ririe Rengganis).
Jumat, 04 September 2009
dan, biarlah ku nikmati nyeri
terbangun pagi ini
dengan kepala nyeri
meski mentari telah meninggi
ah, nyeri ini
karena aku terlalu memaksa diri
menghapusmu dari memori
ah, nyeri ini
karena aku terlalu memaksa diri
melupakan semua katakatamu
yang kau muntahkan di hadapanku
dan, aku hanya diam membisu
demi perempuanmu,
kau menuduhku telah mengutukmu
tuduhanmu benarbenar membunuhku
kau menuduhku sebagai teroris
ah, tuduhanmu benarbenar sadis
ah, nyeri ini
karena semalam aku terlalu memaksa diri
menghibur diri bersama para penunggu malam
ah, nyeri ini
setengah mati ku enyahkan dari diri
hingga aku hampir tak sadar diri
dan, minum pil penghilang nyeri
demi perempuanmu,
telah ku maafkan semua katakatamu
dengan sebaris doa di setiap sujudku
dan, bukan mengutukmu
seperti pernah kau lakukan dulu
demi perempuanmu,
telah ku maafkan semua katakata
yang telah kau muntahkan padaku
dan, aku tak pernah menghinamu
meski kau bukan seorang sarjana
seperti tuduhanmu itu
dan, biarlah ku nikmati nyeri ini
bersama sebutir aspirin dan segelas kopi
sendiri
di pagi ini
(3 September 2009)
dengan kepala nyeri
meski mentari telah meninggi
ah, nyeri ini
karena aku terlalu memaksa diri
menghapusmu dari memori
ah, nyeri ini
karena aku terlalu memaksa diri
melupakan semua katakatamu
yang kau muntahkan di hadapanku
dan, aku hanya diam membisu
demi perempuanmu,
kau menuduhku telah mengutukmu
tuduhanmu benarbenar membunuhku
kau menuduhku sebagai teroris
ah, tuduhanmu benarbenar sadis
ah, nyeri ini
karena semalam aku terlalu memaksa diri
menghibur diri bersama para penunggu malam
ah, nyeri ini
setengah mati ku enyahkan dari diri
hingga aku hampir tak sadar diri
dan, minum pil penghilang nyeri
demi perempuanmu,
telah ku maafkan semua katakatamu
dengan sebaris doa di setiap sujudku
dan, bukan mengutukmu
seperti pernah kau lakukan dulu
demi perempuanmu,
telah ku maafkan semua katakata
yang telah kau muntahkan padaku
dan, aku tak pernah menghinamu
meski kau bukan seorang sarjana
seperti tuduhanmu itu
dan, biarlah ku nikmati nyeri ini
bersama sebutir aspirin dan segelas kopi
sendiri
di pagi ini
(3 September 2009)
tak perlu kau memandangku seperti itu
tak perlu kau memandang sinis pada pengemis itu
karena kau pun serupa pengemis dalam pandangan-Ku
mengemis dengan doa-doa miris, terkadang sinis
demi sebuah niat yang kadang amat bengis
tak perlu kau memandang remeh pada pengamen itu
karena kau pun serupa pengamen dalam pandangan-Ku
menyanyikan lagu-lagu dengan suara serupa kaleng rombeng
demi sebuah niat yang kadang melenceng
tak perlu kau memandang hina pada pelacur itu
karena kau pun serupa pelacur dalam pandangan-Ku
menjual tubuhmu, pun menggadaikan jiwamu
demi sebuah niat yang kadang tak menentu
ah, tak perlu kau memandangku seperti itu
seolah kau lebih baik dariku
seolah kau lebih sempurna dariku
karena kau tetaplah kau dalam pandanganku
meski kau tak pernah menganggapku ada dalam duniamu
dan, satu yang selalu menguatkanku
karena aku selalu memandangmu tanpa karena
(3 September 2009)
karena kau pun serupa pengemis dalam pandangan-Ku
mengemis dengan doa-doa miris, terkadang sinis
demi sebuah niat yang kadang amat bengis
tak perlu kau memandang remeh pada pengamen itu
karena kau pun serupa pengamen dalam pandangan-Ku
menyanyikan lagu-lagu dengan suara serupa kaleng rombeng
demi sebuah niat yang kadang melenceng
tak perlu kau memandang hina pada pelacur itu
karena kau pun serupa pelacur dalam pandangan-Ku
menjual tubuhmu, pun menggadaikan jiwamu
demi sebuah niat yang kadang tak menentu
ah, tak perlu kau memandangku seperti itu
seolah kau lebih baik dariku
seolah kau lebih sempurna dariku
karena kau tetaplah kau dalam pandanganku
meski kau tak pernah menganggapku ada dalam duniamu
dan, satu yang selalu menguatkanku
karena aku selalu memandangmu tanpa karena
(3 September 2009)
objektivitas telah mati
jangan bicara tentang objektivitas padaku
ia telah lama mati
terkubur dalam pandangan-pandangan semu
yang kadang tak punya malu
demi kenikmatanmu, demi keinginanmu
tertinggal subjektivitas
suka atau tidak suka
cinta atau tidak cinta
benci atau tidak benci
dan, memang hanya ada subjektivitas
yang kau beri nama objektivitas, jika kau suka dan cinta
yang kau beri nama subjektivitas, jika benci dan tak suka
dan, memang hanya ada subjektivitas
karena kau tak sekadar gunakan otak kananmu, pun otak kirimu
karena kau tak sekadar gunakan rasiomu, pun emosimu
karena kau tak sekadar gunakan akalmu, pun hatimu
dan, memang hanya ada subjektivitas
karena kau memang manusia
bukan Mahadewa
apalagi Sang Maha Sempurna
(3 September 2009)
ia telah lama mati
terkubur dalam pandangan-pandangan semu
yang kadang tak punya malu
demi kenikmatanmu, demi keinginanmu
tertinggal subjektivitas
suka atau tidak suka
cinta atau tidak cinta
benci atau tidak benci
dan, memang hanya ada subjektivitas
yang kau beri nama objektivitas, jika kau suka dan cinta
yang kau beri nama subjektivitas, jika benci dan tak suka
dan, memang hanya ada subjektivitas
karena kau tak sekadar gunakan otak kananmu, pun otak kirimu
karena kau tak sekadar gunakan rasiomu, pun emosimu
karena kau tak sekadar gunakan akalmu, pun hatimu
dan, memang hanya ada subjektivitas
karena kau memang manusia
bukan Mahadewa
apalagi Sang Maha Sempurna
(3 September 2009)
milikku
kau boleh bergunjing
kau boleh berunding
kau boleh berbicara miring
tentang diriku
tentang jalanku
tentang pilihanku
tentang apapun yang kau mau
tentang apapun yang kau suka
hingga mulutmu berdarah
sekalipun
kecuali satu: memilikiku
tubuhku bukan persembahan untukmu
pun dengan jiwaku
karena tubuhku adalah milikku
begitu pula dengan jiwaku
bukan milik siapapun
(2 September 2009)
kau boleh berunding
kau boleh berbicara miring
tentang diriku
tentang jalanku
tentang pilihanku
tentang apapun yang kau mau
tentang apapun yang kau suka
hingga mulutmu berdarah
sekalipun
kecuali satu: memilikiku
tubuhku bukan persembahan untukmu
pun dengan jiwaku
karena tubuhku adalah milikku
begitu pula dengan jiwaku
bukan milik siapapun
(2 September 2009)
kembali
maaf,
aku telah kembali melangkah
meski kaki ini lelah
aku telah kembali menarikan jemari
meski masih terasa nyeri
maaf,
aku telah menyibukkan kembali mataku
mengeja huruf demi huruf
aku telah menyibukkan jemariku
menyusur literatur demi literatur
maaf,
aku telah membutakan mataku
pada pandangan-pandangan sinis
yang tak penting itu
dan, membuka mata hatiku
pada pandangan-pandangan lugu
mereka yang selalu menginginkanku
karena mereka adalah Cintaku
maaf,
aku telah menutup telingaku
pada tuduhan-tuduhan sadis
yang tak penting itu
dan, membuka telinga jiwaku
pada suara-suara jujur
yang tak sudi diri ini hancur
karena mereka adalah Hidupku
maaf,
aku tak ingin kembali ke masa laluku
karena aku telah kembali pada duniaku
bersama Cintaku
dan, Hidupku
(2 September 2009)
aku telah kembali melangkah
meski kaki ini lelah
aku telah kembali menarikan jemari
meski masih terasa nyeri
maaf,
aku telah menyibukkan kembali mataku
mengeja huruf demi huruf
aku telah menyibukkan jemariku
menyusur literatur demi literatur
maaf,
aku telah membutakan mataku
pada pandangan-pandangan sinis
yang tak penting itu
dan, membuka mata hatiku
pada pandangan-pandangan lugu
mereka yang selalu menginginkanku
karena mereka adalah Cintaku
maaf,
aku telah menutup telingaku
pada tuduhan-tuduhan sadis
yang tak penting itu
dan, membuka telinga jiwaku
pada suara-suara jujur
yang tak sudi diri ini hancur
karena mereka adalah Hidupku
maaf,
aku tak ingin kembali ke masa laluku
karena aku telah kembali pada duniaku
bersama Cintaku
dan, Hidupku
(2 September 2009)
hujan teman baikku
hujan adalah teman baikku
setia menemani airmataku
berlindung di bawah dekapan hujan
membuatku nyaman
hujan adalah teman baikku
setia menemani tawaku
bermain di bawah derai hujan
membuatku tenang
(2 September 2009)
setia menemani airmataku
berlindung di bawah dekapan hujan
membuatku nyaman
hujan adalah teman baikku
setia menemani tawaku
bermain di bawah derai hujan
membuatku tenang
(2 September 2009)
Selasa, 01 September 2009
perangkai kata
aku jatuh cinta pada kata
serupa aku jatuh cinta pada cahaya
mengumpulkan serpihan demi serpihan
serupa mengumpulkan serpihan jiwa
merangkai kata demi kata
serupa Bunda memberiku cinta
akulah perangkai kata
serupa perangkai bunga
tak pernah mengharap puji puja
apalagi kata cinta penuh dusta
akulah perangkai kata
serupa pemahat batu
tak pernah mengharap senandung palsu
apalagi kata rindu
akulah perangkai kata
serupa penari telanjang
tak pernah mengharap rasa sayang
apalagi gelimang uang
akulah perangkai kata
bukan untuk merayu
apalagi mencumbu
akulah perangkai kata
merangkai dengan cinta
tanpa dusta
akulah perangkai kata
karena kata adalah laku
karena kata bukan cemburu
karena kata adalah cinta
karena kata adalah nyawa
akulah perangkai kata
bukan penggoda bagi Sang Adam
bukan madu bagi Sang Hawa
akulah perangkai kata
bukan penebar asmara
bukan penebar luka
karena kata adalah nyanyian jiwa
karena kata tak pernah berdusta
dan, aku akan terbang bebas serupa rama-rama
jangan pernah kau rantai kakiku
jangan pernah kau belenggu tanganku
jangan pernah kau patahkan sayapku
jangan pernah kau tawan jiwaku
jangan pernah kau minta hatiku
jangan pernah kau tusuk jantungku
karena akulah perangkai kata
serupa rama-rama di angkasa
biarkanku terbang bebas
menembus segala batas
bebas
menyusuri angkasa luas
dan, samudera tanpa batas
(2 September 2009)
serupa aku jatuh cinta pada cahaya
mengumpulkan serpihan demi serpihan
serupa mengumpulkan serpihan jiwa
merangkai kata demi kata
serupa Bunda memberiku cinta
akulah perangkai kata
serupa perangkai bunga
tak pernah mengharap puji puja
apalagi kata cinta penuh dusta
akulah perangkai kata
serupa pemahat batu
tak pernah mengharap senandung palsu
apalagi kata rindu
akulah perangkai kata
serupa penari telanjang
tak pernah mengharap rasa sayang
apalagi gelimang uang
akulah perangkai kata
bukan untuk merayu
apalagi mencumbu
akulah perangkai kata
merangkai dengan cinta
tanpa dusta
akulah perangkai kata
karena kata adalah laku
karena kata bukan cemburu
karena kata adalah cinta
karena kata adalah nyawa
akulah perangkai kata
bukan penggoda bagi Sang Adam
bukan madu bagi Sang Hawa
akulah perangkai kata
bukan penebar asmara
bukan penebar luka
karena kata adalah nyanyian jiwa
karena kata tak pernah berdusta
dan, aku akan terbang bebas serupa rama-rama
jangan pernah kau rantai kakiku
jangan pernah kau belenggu tanganku
jangan pernah kau patahkan sayapku
jangan pernah kau tawan jiwaku
jangan pernah kau minta hatiku
jangan pernah kau tusuk jantungku
karena akulah perangkai kata
serupa rama-rama di angkasa
biarkanku terbang bebas
menembus segala batas
bebas
menyusuri angkasa luas
dan, samudera tanpa batas
(2 September 2009)
tak perlu kau bilang
tak perlu kau bilang sayang
jika akhirnya aku ditendang
tak perlu bilang kagum
jika akhirnya jantungku disetrum
tak perlu kau bilang cinta
jika akhirnya jiwaku terluka
dan, mungkin kau sedang sakaw
ketika kau bilang rindu padaku
ah, dirimu serupa candu
nikmat sesaat
membuatku tersesat
dalam penat
ah, dirimu serupa candu
membuat sekujur jiwaku membiru
dan, jantungku membeku
(1 September 2009)
jika akhirnya aku ditendang
tak perlu bilang kagum
jika akhirnya jantungku disetrum
tak perlu kau bilang cinta
jika akhirnya jiwaku terluka
dan, mungkin kau sedang sakaw
ketika kau bilang rindu padaku
ah, dirimu serupa candu
nikmat sesaat
membuatku tersesat
dalam penat
ah, dirimu serupa candu
membuat sekujur jiwaku membiru
dan, jantungku membeku
(1 September 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)