Rabu, 11 Maret 2009

catatan di pinggir penumping

buat bram seto


ketika hati
telah serupa kotakbesi
dingin
terkunci

di manakah kau simpan kunci itu, kekasihku?
bukankah setahun lalu,
kunci itu pernah kau serahkan padaku?
seraya berkata:
"renjana ini untukmu, cintaku."

ingatkah kau?
lantas ke mana kau
kubur renjana itu, kekasihku?
dalam palung hatimu?

jangan!!!
biarkan renjana itu
merekah indah
dalam wadah

jangan ingkari nurani,
bahwa dirimu juga layak bermimpi:
bahwa kita adalah satu diri
satu hati

biarlah diri
biarlah hati
saling mengerling
dalam puingpuing bising
melenting di pinggir penumping

Jumat, 20 Februari 2009

tuturmu, semalam

untuk bram seto


ketika hati tlah seputih kapas
seringan bulu angsa

apalagi yang kau cari, hai cinta?
seperti semalam, waktu kau bersabda:

cinta yang kita punya tlah lama bertahta
meski hanya dalam sukma

maka biarlah ia menemukan jalan
dalam renjana keabadian

sekarang, kita di sini
berbicara pada hati
jujur pada nurani

tentang sebuah hati

"terbanglah bebas ke angkasa luas
biarlah angin menghembus
membawamu lukamu
bersamaku kupukupuku"

sujudku padaMU
tlah mengirimmu
lelaki lugu serupa biksu
yang tak pandai merayu apalagi bercumbu
yang memperlakukanku serupa ratu
tanpa peduli pada masa lalu kelu
mengajarku laku baru tanpa ragu

"1000 hari lalu,
aku serupa dirimu layu dalam ragu

1000 hari tlah berlalu
aku ingin menuntunmu
dalam hidup serupa lumut
yang mampu menghancurkan batu
dalam waktu

aku ingin menuntunmu
dalam hidup serupa semut
yang mampu menghancurkan gunung
dalam waktu"

biarlah waktu
mengendapkan embun dalam kalbu
dekat erat
mengerat sang keparat
lumatlumat
dalam jerat sidat

"puanku, kau serupa ibu
yang mengajarku
laku dalam waktu"

dan, kau serupa biksu
lugu mengajarku
terbang serupa kupukupu
menungguku dalam waktu
mengajarku laku
tanpa palsu tanpa ragu
hingga akhir waktu

Kamis, 19 Februari 2009

biru rindu

untuk bram seto



kemarin, datang seorang lelaki
suatu pagi
di bawah terik mentari

berbicara padaku
tentang hidup
hidupmu hidupku

ternyata, kita dibesarkan dengan sama
di antara kerasnya ayah
nelangsanya bunda
dan, kita tumbuh di antara lompatanlompatan karang

kini kita jumpa, telah dewasa
ada renjana dalam sukma

"1000 hari lalu,
ku nikmati rautmu
dalam bisu
indah bersahaja"

"1000 hari berlalu,
ku nikmati rautmu
dalam riuh
bertanya ini itu
sembari menggenggam jemarimu
selayak bocah
rindu pada rayu"

katakatamu:
"hatiku ada padamu
seperti katakataku lalu
sayang, tidak ragaku
masih ada bundaramaku
menunggu baktiku,
maafkan aku"

kelu
rindu
dalam kalbu

"berjalanlah lurus, tinggalkan aku
hatiku masih sekeras batu
kokoh laksana karang
meski ombak menerjang
ku akan menjagamu dari jauh
membantumu kala kau terjatuh
hanya itu, kulakukan untukmu
untuk sebuah cinta biru"

berpisah kita, setelahnya

kau lanjutkan lakumu
ku lanjutkan lakuku

kau menjelma biksu
dalam biru rindu
ku menjelma kupukupu ungu
terbang mengitarimu
hingga merapuh sayapku

dan, tersimpan rindu dalam kelu
tanpa ragu
ku tunggu
waktu luruhku
di antara batubatu

Rabu, 18 Februari 2009

kisah semalam

untuk andrey

teman kecilku
datang menemuiku
kita berbicara
tentang masa lalu
tentang sebuah perjalanan

tentang orang-orang yang pernah singgah
dalam perjalanan hidup kita

kita menari
berputarputar
seperti sepasang bocah

kita rebah
di bawah langit
seperti sepasang ramarama
menari di atas rerumputan

kita berceloteh
tentang masa kecil:

"kita pernah main hujan bersama
lalu kita pulang
dan, ayahku memukulku dengan sebilah rotan"

dan kau usap keningku, sembari tersenyum

"ya, aku berusaha melindungimu
dari bilah rotan itu
dan, kita berdua terkena bilah rotan yang sama"

lantas kita tertawa bersama, mengingatnya

"dan, kau menangis
setelah melihatku menangis"

dan, kau kecup keningku
dengan lembut

"dan, aku membawamu
pulang ke rumahku
meminta mamaku
mengobati luka-lukamu
mengobati luka-lukaku
mengeringkan tubuhmu
mengeringkan tubuhku"

ya, kuingat semua, teman
dan, ibumu bertanya:

"ibumu tak ada di rumah, Cantik?"

dan, aku hanya mengangguk
pelan, amat pelan
masih ada sisa airmata
di pelupuk mataku
dan, ibumu mengusapnya
sembari mengecup keningku

"ya, dan mamaku
memeluk kita berdua
di atas ranjang yang hangat
hingga pagi menjelang"

ku pandang lekat
pekat matamu

"tahukah dirimu
apa yang dibisikkan pada mamaku
di telinga kita berdua
waktu itu?"

"semoga kalian berdua
akan terus saling jaga
kelak hingga kalian dewasa"

"entahlah, aku lupa, teman
aku lelah
terlalu lelah
aku takut
teramat takut
dengan amarah ayahku
waktu itu"

kau beringsut
mendekat

"aku mendengarnya, Cantik
aku belum tertidur
dan, mamaku berpesan padaku:
kau harus jaga Cantik
dari apapun yang kelak
akan melukainya, Pangeran Kecil"

aku hanya mengangguk
sebelum akhirnya mama
meninggalkan kita berdua
terlelap
di atas ranjang yang sama
hingga pagi tiba

"dan, ketika bundamu
datang menjemput
keesokannya
aku meronta di pelukan mama"

dan kita berpisah
setelahnya
mereka membawamu
pergi, entah ke mana

hingga kita berdua dewasa
berjumpa
di sebuah persimpangan

"dan, aku tak ingin berpisah
denganmu lagi
kali ini, Cantik"

entahlah, teman
ku lelah sekarang
dalam perjalanan kemarin
begitu banyak luka menganga:
amarah ayahku
ular-ular derik melilit tubuhku
sembari menyemburkan bisa
ke dalam darahku
dan, rubah-rubah betina
mengambil sisasisa hatiku

"aku akan melindungimu
seperti pesan mamaku"

lantas, orangorang di luar sana
akan berbicara apa tentang kita, teman?

"persetan dengan katakata mereka,Cantik"

ah, entahlah
dan, kau mulai mendekapku
eraterat dalam pelukanmu

dan, kisah masa kecil kita
berlanjut semalam
hingga pagi tiba

dan, kita menjelma
sepasang ramarama
terbang ke angkasa
menuju nirwana

mencari mentari pagi
tanpa caci maki
tanpa benci dengki
atau sakit hati

Senin, 09 Februari 2009

Lelaki Ular

untuk gdk


lelaki itu ular
lidahnya sama berbisa seperti ular

datang mengendapendap
muncul di hadapan tanpa suara
sembari menghembuskan racun dari mulutnya
dengan lidah menjulur
membelit hati
menelan sukma

lantas pergi setelah
menghancurkan raga

ya, lelaki itu ular
yang akhirnya masuk dalam sergapan elang bondol
yang siap menelannya bulatbulat
tanpa sisa

Memoar Ular

kelak, ketika perjalananku telah sampai pada suatu
titik waktu

ssst, akan kuceritakan begitu banyak kisah padamu, Ibu
tentang ular-ular yang begitu sering menggigitku

kelak akan kuceritakan semua padamu, Ibu
sebuah memoar ular

Istirah

telah banyak ku lalui begitu banyak kisah
telah banyak ku jumpai selaksa manusia


kini,
telah ku lupakan semua cerita tentang rasa
telah ku tinggalkan semua cerita tentang asa
dan, yang tertinggal kini hanyalah hampa

di sudut ruang,
ku bersimpuh di kakiMu
: izinkanku istirah
karena aku sudah teramat lelah
dalam tetirah
yang membawa jengah

Rabu, 28 Januari 2009

Pengkhianat Berwajah Malaikat

: untuk gdk


ketika ku bertemu denganmu
setahun lalu
di ruang tamu rumahku,
ku pikir dirimu berbeda
meski kadang kerja pikiran tak selalu benar
karena kebenaran itu relatif (seperti kuliah filsafat, yang seringkali kau dengungkan)

perjalanan waktu,
ku lihat ada yang mulai berubah darimu
mulai sering naik pitam, untuk alasan-alasan yang kadang tak jelas
alasan-alasan yang kadang kau buat
untuk memicu pertengkaran
seperti bensin yang kau tuang pada api yang kau buat sendiri

kemarin, lepas lebaran
ketika kau undang diriku
datang ke rumahmu
untuk kenal dengan keluargamu
kau tawarkan setumpuk harap
tentang impian
(ternyata memang hanya impian)

kemarin, sebelum tulisan ini ku buat
seorang perempuan datang padaku lewat sms
mengatakan bahwa aku ini pecundang yang merebut
calon suami orang
perempuan yang baru kau kenal 20 hari lalu

pesanku hanya satu:
menikahlah dengannya jika memang dirinya lebih sempurna
menikahlah dengannya jika memang dirinya dapat membuatmu nyaman
menikahlah dengannya
dengan satu syarat: tinggalkan aku dan didik istrimu untuk tidak mengatakan orang lain sebagai pecundang, sementara dirinya adalah pecundang yang hadir di antara kita.
didiklah istrimu untuk lebih memahami perasaan perempuan
meski kemarin ia berbicara "atas nama sesama perempuan",
maaf, kalau boleh aku mengumpat: BULLSHIT !!!
semua kata-kata istrimu itu adalah sebenarnya
"damai-damai palsu yang kelak akan mengurung kebebasanmu,
kebebasan pikiranmu, kebebasan perasaanmu"
(seperti kau pernah bilang padaku dulu)

ketakutanmu akan pernikahan seperti yang pernah kau kutbahkan padaku
akan terjadi segera.
sama persis seperti yang kau bayangkan.

dengan jelas, tampak di depan mataku
ketika kau sama sekali tak memiliki privacy
hanya untuk menerima pesan singkat dari keluargamu.
dia akan jadi bayanganmu, yang membelenggu kebebasan
yang selalu kau inginkan.

hari ini, ketika ku sampai pada satu kesimpulan:
bahwa dirimu adalah
pengkhianat berwajah malaikat

hingga teman kecilku, datang pagi ini
ketika semalam, ia tahu aku menangis di sudut kamar semalaman
menangisi kebodohanku, karena mempercayai lidah ularmu
selama setahun ini

menangisi kebodohanku, telah membuang waktu dan tenaga
untuk lelaki pengecut
yang bahkan tak berani menatap mataku
ketika kita berbicara
untuk lelaki pengecut
yang tak berani meminta maaf pada Ibuku
atas harapan-harapan yang telah dituai sendiri.
untuk lelaki pengecut
yang selalu berlari dari
masalah yang dibuatnya sendiri

(terima kasih, teman kecilku.
untuk menampung tangisku, di dada bidangmu
untuk mendengar kecewaku
untuk mengelus punggungku, seraya berkata:
kelak KARMA Tuhan akan berlaku padanya,
orang yang selalu menyakiti hatimu, hati Ibumu)

Jumat, 09 Januari 2009

perjalanan

ketika seorang putri
dilahirkan di antara para ksatria
tak ada yang istimewa, seperti yang diharapkan seharusnya: biasa-biasa saja

sejak itu pula, hari-harinya dilalui dengan biasa-biasa saja...

ketika ia beranjak dewasa sekali pun, hari-harinya masih biasa-biasa saja
ditempa di kawah candradimuka bersama para ksatria
entah apa tujuan, sang resi...

ketika putri-putri lain bercerita tentang pangeran hati mereka,
ia hanya mendengar, tak bercerita sepatah pun
tetapi ia dapat merasakan suka cita teman-temannya..

ketika putri-putri lain bercerita tentang pangeran hati mereka, yang tak sesuai keinginan mereka
ia pun hanya mendengar, masih tak bercerita sepatah jua
tetapi ia mampu merasakan duka cita mereka...

meski wajahnya, biasa-biasa saja
terpapar kerasnya tempaan hidup,
dalam hatinya, ia adalah putri cantik
tercantik, bahkan

ia selalu tersenyum
meski hatinya menangis

Rabu, 03 Desember 2008

Tuhan, izinkanku....

luka menganga
kembali
sekali lagi

harapan sirna
kembali
sekali lagi

Tuhan, izinkanku
marah padaMu
sekali ini

Amin.